Oleh: Teguh Pamungkas
Penyuluh Keluarga Berencana
Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Selatan
Bulan Syawal 1447 H telah tiba. Orang-orang pun menyambut datangnya lebaran. Di momen hari raya, masyarakat mengisi lebaran bersilaturahmi ke orang tua, mengunjungi sanak saudara, sahabat dan kerabat. Setiap lebaran selalu menjadi peristiwa spesial bagi siapa pun. Masih teringat di kala masa pandemi, mobilitas masyarakat menjadi terbatas, sehingga mudik lebaran tidak dapat dilakukan oleh keluarga Indonesia.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata mudik artinya pergi atau berlayar. Secara istilah disamakan dengan pulang kampung halaman. Bisa dikatakan, mudik terkait dengan fenomena pergerakan orang dari satu wilayah ke wilayah yang lain.
Di Indonesia, mudik merupakan kegiatan tradisi tahunan di saat menjelang hari raya keagamaan. Bisa menyambut lebaran idul fitri, idul adha, natal, imlek, tahun baru dan hari besar lainnya. Tak hanya umat muslim saja, fenomena mudik menjadi rutinitas yang luar biasa, yang dilakukan pula saudara beragama lain. Mudik dilakukan untuk melepas kerinduan dengan keluarga di kampung halaman.
Kerinduan dan keinginan bersua keluarga membuat orang-orang rela memesan dan membeli tiket jauh-jauh hari sebelum lebaran datang. Dengan cara yang berbeda-beda orang menyambut datangnya lebaran atau yang memiliki keinginan mudik. Mereka yang telah lama tinggal di perantauan, pergi mendatangi terminal, mengunjungi pelabuhan dan bandara guna memperoleh tiket. Mereka memilih menggunakan moda transportasi umum untuk bisa pulang kampung. Karena kangen, ingin bisa berlebaran di kampung halaman dan untuk bertemu sanak keluarga.
Banyak pula yang memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi saat pulang kampung demi menghindari keramaian transportasi umum. Seraya membawa perbekalan untuk buah tangan sepulang dari rantau. Pemandangan seperti ini menjadi kebiasaan pada setiap tahunnya.
Sebagian orang mengisi liburan bertemu keluarga, tak sedikit pula memanfaatkan momen mudik dengan belanja, wisata kuliner di sekitar tempat tinggal ataupun melakukan perjalanan ke tempat-tempat wisata.
Semakin jauh kita merantau, semakin tinggi biaya yang dikeluarkan sebagai ongkos perjalanan pulang, belum lagi ditambah jumlah keluarga yang ikut pulang kampung. Biaya hidup di rumah dan menjelang balik ke tempat rantau kembali memerlukan ongkos perjalanan pula. Apakah demikian? Aktivitas pulang kampung berjalan baik tatkala semuanya sudah direncanakan dengan baik. Bukan hanya persiapan materi, namun kesehatan dan kemampuan diri juga perlu diperhatikan dan dipersiapkan pemudik.
Tiada salahnya, sebelum melakukan perjalanan mudik darat lebih baik petakan rute perjalanan mudik. Termasuk membaca jalan alternatif, baik jalur mudik antar kota dalam provinsi, maupun antar provinsi. Selain rest area, jalan alternatif perlu diketahui untuk mengantisipasi dan menghindari kemacetan, karena akan ada hal-hal yang tidak bisa terprediksi sebelumnya.
Perjalanan silaturahmi
Secara matematis, mudik memerlukan biaya. Biaya selama pelaksanaan mudik hingga kembali lagi. Sehingga diperlukan kepandaian dalam pengelolaan finansial. Kemampuan literasi keuangan keluarga begitu diperlukan.
Persiapkan anggaran keluarga di saat mudik. Mulai merinci keperluan-keperluan, pembelian tiket pesawat, kapal atau bus, untuk menggunakan moda transportasi umum kala mudik dan balik kembali ke perantauan. Apabila menggunakan kendaraan pribadi, maka anggarkan dana untuk membeli BBM, servis dan keperluan lainnya.
Selanjutnya, persiapkan anggaran belanja untuk kecukupan logistik, makanan keluarga hingga kembali lagi setelah mudik. Juga belanja kebutuhan sandang sesuai keperluan, prioritaskan sesuai fungsi dan manfaat.
Namun dalam mudik lebaran ada yang lebih penting dari soal finansial. Adalah perjalanan ibadah sosial, yakni merajut silaturahmi. Itu semua merupakan momen kebersamaan. Membantu dan berbagi kebahagiaan kepada orang tua, kerabat, saudara dan tentunya juga kepada orang-orang tercinta.
Apakah bisa mempererat silaturahmi tanpa harus pulang kampung? Apakah cukup menggunakan gawai atau media sosial sebagai penawar rindu, berkomunikasi melalui telepon atau kirim surat untuk menanyakan kabar dan kirim berita saja?
Silaturahmi adalah semangat terkuat yang menggerakkan diri untuk melakukan mudik. Kesempatan bertemu keluarga, dengan alasan dan berpikir, entah kapan lagi kita bisa berjumpa lagi, ya kalau masih bisa bertemu. Saat lebaran sebagai momen tepat untuk pulang kampung Jika tidak dimanfaatkan berkumpul dengan keluarga, terasa ada yang kurang lengkap.
Rindu suasana keluarga besar, keakraban kerabat dan saudara. Apalagi merindu orangtua, bagi anak-anak yang lama tak bertemu sosok orangtua karena aktivitas, jarak dan kemampuan, sehingga jarang berjumpa.
Meskipun sekarang hidup di era digital, banyak media komunikasi yang berbasis teknologi melalui media sosial, namun belum bisa mengganti rasa pertemuan langsung bersama keluarga. Meskipun kata orang, salah satu manfaat teknologi komunikasi sebagai alat bantu manusia dalam mempermudah komunikasi yang terbentang oleh jarak.
Lebih dari pada itu semua. Mudik lebaran merupakan perjalanan silaturahmi, menjaga kerukunan dan persaudaraan. Guna merajut silaturahmi dengan orangtua, keluarga, sanak saudara, kerabat dan masyarakat. (*)
Editor : Arief