Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kalender untuk Dunia, Ibadah untuk Langit Lokal

admin • Jumat, 27 Maret 2026 | 17:06 WIB

H. Asmu’i Syarkowi
H. Asmu’i Syarkowi

             Oleh: H. Asmu’i Syarkowi
             Hakim PTA Banjarmasin

Ada satu kegelisahan yang terus berulang setiap tahun: mengapa umat Islam belum juga memiliki satu kalender Hijriah yang seragam? Mengapa Idul Fitri kadang berbeda, mengapa awal Ramadhan tidak selalu sama? Di tengah dunia yang semakin terhubung, perbedaan ini sering terasa janggal, bahkan oleh sebagian orang dianggap sebagai tanda ketertinggalan. Namun, benarkah persoalannya sesederhana itu?

Kita hidup di zaman yang menuntut kepastian. Segala sesuatu ingin dipastikan jauh hari: jadwal penerbangan, kalender pendidikan, rencana ekonomi, bahkan hari libur keagamaan. Dalam konteks ini, gagasan tentang kalender global Hijriah terasa sangat masuk akal. Dengan bantuan hisab astronomi modern, posisi bulan dapat dihitung secara presisi. Tidak ada lagi ruang bagi ketidakpastian. Semua bisa disusun rapi, seragam, dan terprediksi. Tetapi, di titik inilah kita perlu berhenti sejenak—bukan untuk menolak kemajuan, melainkan untuk bertanya lebih dalam: apakah semua yang bisa diseragamkan memang harus diseragamkan?

Pada titik ini, penting untuk membedakan antara kalender sebagai sistem penanggalan dan waktu ibadah sebagai realitas pengamalan. Kalender pada dasarnya berkaitan dengan durasi waktu yang bersifat universal dan matematis: satu hari terdiri dari 24 jam, satu jam 60 menit, dan satu menit 60 detik. Dalam pengertian ini, kalender memang sangat mungkin untuk disatukan secara global, karena ia bertumpu pada kesepakatan ilmiah yang bersifat tetap dan terukur.

Namun, waktu ibadah tidak berada dalam ranah yang sama. Ia tidak sekadar soal hitungan durasi, melainkan berkaitan dengan situasi dan kondisi lokal yang secara sunatullah memang berbeda-beda. Terbitnya fajar, tergelincirnya matahari, hingga terbenamnya matahari tidak terjadi secara serentak di seluruh penjuru bumi. Karena itu, waktu ibadah pada hakikatnya mengikuti realitas lokal yang tidak mungkin diseragamkan. Di sinilah kita memahami bahwa kalender dan waktu ibadah, meskipun sama-sama berbicara tentang waktu, sejatinya berada dalam dua domain yang berbeda—dan secara alami tidak mungkin dipaksakan untuk sepenuhnya disatukan.

Ibadah dalam Islam tidak sepenuhnya tunduk pada logika administratif. Ia memiliki dimensi lain yang lebih sunyi, lebih dalam, dan lebih terkait dengan alam. Waktu salat adalah contoh yang paling jernih. Tidak ada satu pun otoritas yang dapat menyamakan waktu subuh antara Indonesia dan Arab Saudi. Ketika fajar menyingsing di satu tempat, di tempat lain malam masih berkuasa. Perbedaan itu bukan hasil perdebatan, melainkan kenyataan. Ia adalah hukum semesta. Dan kita menerimanya tanpa keberatan.

Lalu mengapa, ketika berbicara tentang awal Ramadhan atau Idul Fitri, kita tiba-tiba merasa harus memaksakan keseragaman? Bukankah awal bulan Hijriah juga berkaitan dengan fenomena langit yang sama—yang tidak hadir secara serentak di seluruh penjuru bumi? Barangkali, di sinilah kita perlu belajar membedakan antara dua hal: kesatuan dan keseragaman.

Kesatuan adalah kesadaran bahwa kita adalah satu umat, dengan satu Tuhan, satu kiblat, dan satu tujuan ibadah. Sementara keseragaman adalah upaya menjadikan segala sesuatu sama dalam bentuk lahiriah. Keduanya tidak selalu berjalan beriringan.

Dalam banyak hal, Islam justru mengajarkan bahwa perbedaan adalah bagian dari keteraturan. Waktu salat yang berbeda-beda tidak membuat umat terpecah. Justru di dalam perbedaan itu, setiap muslim di berbagai belahan dunia merasakan kedekatan yang sama dengan Tuhannya—pada waktunya masing-masing. Maka, ketika perbedaan awal Ramadhan atau Idul Fitri terjadi, mungkin yang perlu kita ubah bukan semata sistemnya, tetapi cara pandang kita terhadap perbedaan itu sendiri.

Bahwa tidak semua perbedaan adalah masalah. Bahwa tidak semua yang berbeda harus diseragamkan. Dan bahwa ibadah, pada akhirnya, bukan hanya soal ketepatan waktu, tetapi juga tentang ketundukan pada hukum-hukum yang lebih besar dari kehendak manusia.

Kalender global tetap memiliki tempatnya. Ia penting untuk dunia yang membutuhkan keteraturan. Ia dapat menjadi instrumen administratif yang menyatukan perencanaan umat secara global. Namun, ibadah memiliki ruangnya sendiri—ruang yang tidak sepenuhnya bisa dijangkau oleh hitungan dan kesepakatan global. Barangkali, justru di situlah letak keindahannya. Bahwa di tengah dunia yang ingin menyatukan segalanya, masih ada ruang di mana manusia belajar menerima perbedaan sebagai bagian dari kehendak-Nya. Bahwa di bawah langit yang sama, kita beribadah dalam waktu yang berbeda, tetapi dengan hati yang menuju arah yang sama. Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup untuk disebut sebagai sebuah kesatuan.

Pada akhirnya, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memihak apalagi membenci kelompok mana pun. Ia hanyalah sebuah urun rembuk sederhana—ikhtiar kecil untuk mengajak kita semua keluar dari jebakan egoisme sektoral yang kerap tanpa sadar membungkus perbedaan sebagai identitas yang harus dipertahankan mati-matian. Dalam isu-isu keagamaan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sosial, semestinya kita tidak terjebak pada sikap “asal beda” atau waton suloyo, tetapi mampu menempatkan perbedaan secara arif, proporsional, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Karena pada akhirnya, yang lebih utama dari sekadar menjadi berbeda adalah menjadi bijak dalam menyikapi perbedaan itu sendiri. (*)

Editor : Arief
#Opini