Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Bisnis Perang yang Menguntungkan Amerika

admin • Kamis, 26 Maret 2026 | 21:55 WIB

Arif Subekti
Arif Subekti

           Oleh: Arif Subekti
           Jurnalis, tinggal di Banjarmasin

Amerika - Israel merancang penyerangan Iran dengan sangat presisi.

Bukan Iran yang sebenarnya menjadi target utama. Melainkan demi perekonomian Amerika yang lebih panjang. Kenapa?

Amerika terlebih dahulu menguasai Venezuela dengan drama yang sangat lembut. Militer Venezuela pada dasarnya menyerahkan Maduro karena kepemimpinan militer sama sekali tidak menjadi sasaran.

Keamanan di sekitar seluruh kompleks kediamannya sangat buruk dan mungkin bahkan tidak dilindungi oleh pasukan khusus Venezuela, karena seluruh operasi hanya memakan waktu 30 menit; sementara Amerika membutuhkan 40 menit untuk melenyapkan Bin Laden.

Negara itu masih berada di bawah kendali Chavista, dan belum diketahui sejauh mana mereka akan mengizinkan Amerika untuk menguasai Venezuela atau minyaknya.

Ini adalah penyerangan saling menguntungkan yang sangat di luar kebiasaan Amerika. Tanpa melukai rakyat banyak. Tidak seperti yang selalu dilakukan di negara-negara Teluk. Penyerangan berkepanjangan dengan mengorbankan banyak rakyat. Merusak infrastruktur dan menghancurkan ekonomi dengan menguasai semua sumber utama perekonomiannya, yaitu minyak.

Setelah Venezuela dikuasai, minyak dari negara itu ternyata tidak terlalu laku. Padahal harganya murah. Sebab, kualitasnya jauh dari minyak di Timur Tengah. Bahkan di bawah Rusia.

Oleh sebab itu Amerika harus mencari cara untuk memasarkan minyak murah jadi mahal tetapi laku keras.

Amerika memang telah merencanakan jangka panjang langkah-langkah selanjutnya. Tentu dengan biaya yang seefisien mungkin sesuai dengan pemikiran Donald Trump. Ekonomis dan kegaduhan.

Negara-negara Arab tidak sepakat sejak awal dengan langkah Amerika - Israel menyerang Iran. Alasannya, Pasar Minyak akan terganggu.

Ini tentu akan merugikan negara-negara teluk. Mereka sudah tahu, selat Hormuz pasti akan tidak aman.

Memang permintaan minyak akan meningkat dan harganya akan melonjak. Namun, negara Arab tidak bisa menjual minyak mereka. Merekalah yang sangat dirugikan. Minyak masih menjadi andalan negara-negara di timur tengah.

Setelah tahu kondisi itu, anehnya, Amerika - Israel pun justru makin memperparah kondisi itu dengan merudal semua sumber minyak dan gas di kawasan tersebut. Dengan melancarkan propaganda pemusnahan sumber minyak dan gas  di Iran terlebih dahulu. Setelah itu Iran pun akan membalas. Amerika - Israel tidak secara langsung mengirim balistik misil  ke sumber minyak dan gas di negara Arab. Tapi secara tidak langsung menekan tombolnya untuk meluncurkan rudal Iran ke sana.

Ketidakmampuan negara-negara Arab yang sudah terlanjur percaya terhadap rudal pertahanan yang dibeli mahal dari Amerika namun ternyata tidak bisa digunakan, menjadikan negara-negara kaya tersebut tidak dapat berbuat banyak.

Siapa yang diuntungkan. Kesulitan pasokan minyak dari negara timur tengah yang sudah dirancang Donald Trump ini memaksa negara-negara yang bergantung pasokan minyaknya dari impor untuk membeli berapapun harga minyak dan seburuk apapun kualitas minyak dari Venezuela yang telah dikuasai Amerika.

Awalnya, pasar minyak Amerika adalah Indonesia.

Beritanya anda sudah mengetahuinya. Menteri Bahrul sejak awal Iran - Amerika - Israel memanas mengatakan, Indonesia akan mengalihkan pasokan minyak dari Timur Tengah ke Amerika. Dengan iming-iming harganya lebih ekonomis dengan kadar ron yang lebih baik dari yang selama ini kita pakai.

Selama ini, rakyat Indonesia selalu jadi korban jeleknya kualitas BBM. Alasan ini menjadi angin segar.

Padahal, Amerika yang sudah culas dari dulu, ditambah kelakuan Donald Trump, pasti merencanakan kebusukan.

Mungkin awalnya kita dapat minyak dengan kualitas yang lebih baik dari yang awal kita dapat selama ini.

Tetapi selanjutnya, minyak Venezuela yang akan dikirim.

Apakah pasarnya hanya Indonesia.

Awalnya begitu. Tetapi, Donald Trump kelicikannya jauh kedepan.

Negara-negara yang selama ini selalu menggunakan minyak nomor satu, dipaksa untuk beralih.

Dengan cara seolah-olah Iranlah penyebabnya. Iran yang menutup selat Hormuz membuat dunia kalang kabut.

Inilah yang dirancang sejak awal oleh Donald Trump dengan melancarkan operasi epstain fury (operasi epic fury).  Cukup merudal pimpinan tertinggi Iran dengan presisi, bisnis Amerika bisa berjalan lancar. Bisnis utamanya yaitu senjata dan minyak.

Parahnya, Amerika sengaja membiarkan pangkalan militer di negara-negara teluk untuk dirudal Iran.

Dengan harapan, mereka akan membalas dan terjadilah perang teluk. Jika itu terjadi, maka Amerika akan duduk manis menonton sambil menunggu pesanan pembelian senjata dari negara-negara teluk. Makin tidak rukun negara teluk, makin senang Amerika. Perekonomian Amerika pun meroket lagi seperti perang teluk sebelumnya.

Akhirnya, perang ini tanpa akhir. Timur tengah dibuat selalu tidak aman. Mereka semua dicap sebagai teroris, kecuali Israel. (*)

 

Editor : Arief
#Opini