Oleh: Prof. Dr. Syaiful Bahri Djamarah, M. Ag
Guru Besar UIN Antasari Banjarmasin
Seperti mentari yang bangkit perlahan di ufuk pagi, menghapus gelapnya malam yang panjang, Idul Fitri datang sebagai kemenangan, membawa cahaya harapan dan hangatnya kebahagiaan di hari fitri. Gema takbir, tahlil dan tahmid, membahana di semesta raya.
Berlebaran di hari fitri alias Idul Fitri sungguh menyenangkan dan membahagiakan. Idul Fitri adalah hari di mana hati yang telah dibersihkan selama Ramadan kembali kepada fitrah yang suci seperti bayi. Rasulullah Saw. bersabda: "Barang siapa yang berpuasa Ramadan dengan penuh iman dan mengharapkan pahala, maka seperti bayi yang baru lahir dari ibunya, tidak ada dosa padanya." (HR. Ibnu Majah)
Idul Fitri adalah momen yang dinantikan oleh umat Islam di seantero dunia. Berlebaran di hari fitri bukan untuk memanjakan euforia duniawi tetapi momen untuk menikmati kemenangan setelah sebulan berpuasa.
Idealnya ketika berlebaran di hari fitri kita hanya menikmati kemenangan, tidak terjerumus ke lembah euforia duniawi. Namun, di tengah kegembiraan menikmati kemenangan, sering kali terjadi penyimpangan dengan euforia berlebihan sehingga mengaburkan makna hakiki dari kemenangan yang telah diraih.
Puasa dan kemenangan tidak satu ruang. Tetapi, kemenangan hadir karena puasa. Itu sebabnya, Idul Fitri sebagai hari kemenangan. Menikmati kemenangan setelah berpuasa di bulan Ramadan.
Puasa bukan hanya soal pahala, menahan lapar dan dahaga, bukan pula penyadaran diri mendalam, tetapi juga soal nilai etik, yaitu pengendalian diri baik ketika sendirian maupun ketika di ruang publik.
Ketika nilai etik puasa tidak terhujam di hati sanubari, maka nilai etik itu tidak hadir dalam kehidupan sosial sehingga fungsi sosial puasa tidak berperan di ruang publik.
Jika ini terjadi, berarti pengendalian diri belum terbentuk dengan baik. Ini karena nilai etik puasa belum terinternalisasi secara fungsional dalam struktur kepribadian.
Persoalannya adalah kemenangan menjadi kemenangan semu ketika nilai etik puasa tidak terbenam di altar hati. Itu sebabnya di hari fitri kita sering kali terjebak dalam euforia duniawi, lupa daratan, memperturutkan hawa nafsu. Demi menyenangkan hati, kita bereuforia makan minum berlebihan. Akibatnya latihan pengendalian diri selama puasa hilang melayang.
Sejatinya nilai etik puasa dan spirit ritualitas Ramadan seperti rajin salat wajib lima waktu dan salat sunat Tarawih dan salat Witir, gemar membaca Alquran, ringan tangan berbagi (infaq, sadaqah, dan wakaf) tidak redup pasca Ramadan. Oleh karena itu, suasana kebatinan itu harus dipertahankan demi meraih derajat muttaqin (Al-Baqarah: 2/183).
Muttaqin adalah orang-orang takwa. Orang yang takwa memiliki kecerdasan spiritual yang mumpuni dan tidak pernah jenuh beribadah. Dia hanya takut kepada Allah. Zikirnya di hati, berbatin, membatinkan, bukan terlena di biji tasbih.
Kehidupan beragama, orang muttaqin sudah berada pada tingkatan ikhlas beragama. Beribadah dan salat bukan karena uang, bukan pula karena pencitraan simbolistik atau terjebak kultus identitas, tetapi ikhlas karena Allah. Ikhlas karena Allah semakna dengan ikhlas beragama. Ini tingkatan tertinggi dalam urutan tingkatan beragama, yang dimulai dari ritual beragama, kesadaran beragama, ketaatan beragama dan kritis beragama.
Seseorang yang telah sampai pada derajat muttaqin, dia memiliki pengendalian diri yang baik. Inilah profil pribadi yang memiliki kesadaran spiritual dan ketaatan spiritual yang menjadi rahmat bagi alam semesta.
Maka dari itu, seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual menikmati kemenangan tidak dengan euforia berlebihan karena kontrol dirinya sangat kuat. Pribadinya menyenangkan, dirindukan. Ketika tiada dicari. Ketika ada menjadi rahmat.
Bahkan dalam kehidupan sosial, seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual mampu mengontrol dirinya untuk tidak terjerumus pada kebatilan. Dia sangat hati-hati dan bijak. Pikirannya jernih, terhindar dari kebodohan dan dibodohi. Hatinya bersih dari uzub, ria, dan sum'ah, terhindar dari gibah dan namimah. Tidak menyunat uang sadaqah atau duit wakaf, tidak melanggar peraturan lalu lintas, berdagang tidak curang, tidak membuang sampah sembarangan, memarkir motor tidak sembarangan, menyetir mobil dengan kontrol yang presisi dan sebagainya.
Demikianlah. Ibadah puasa dan ritualitas Ramadan bukan euforia budak nafsu tetapi medan tempur pelatihan jasmani rohani untuk meraih kemenangan. Dari medan tempur inilah diharapkan lahir profil pribadi muttaqin yang memiliki kecerdasan spiritual dengan kemampuan pengendalian diri yang baik ketika menikmati kemenangan di hari fitri.
Ketika pengendalian diri telah dimiliki, jebakan euforia tidak mampu menjerat dan menggiring ke kesenangan yang berlebihan. Berlebaran di hari fitri bukan soal menikmati liburan tetapi menikmati kemenangan tanpa euforia berlebihan.
Hari kemenangan adalah hari kebaikan di mana kebaikan melimpah, kegembiraan dan kebahagiaan menghiasi semesta raya. Berkat ikhtiar tak jenuh, kita berharap Allah tidak hanya memberikan kebaikan di dunia, tetapi juga kebaikan di akhirat seperti permintaan kita dalam doa Sapu Jagat yang sering kita baca ketika selesai salat dan acara selamatan.
“Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina adzabannar." Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka" (Al-Baqarah; 2/201).
Akhirul kalam. Sejernih pikiran seputih hati, di Idul Fitri kita kembali berbuka, dalam suasana gembira bahagia, makan minum bersama dalam kebaikan.
Ya saudaraku, “Minal Aidin Wal Faizin:” Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali (ke fitrah) dan orang-orang yang menang (melawan hawa nafsu selama Ramadan).” Selamat Idul Fitri 1447 H. Mohon maaf lahir batin. Wassalam. (*)
Editor : Arief