Oleh: Setia Budhi
Dosen Senior FISIP ULM
Perhelatan pemilihan anggota senat ULM baru selesai. Senat yang baru ini menyandang kerja kerja moral yang besar, mengingat posisinya sebagai fondasi utama menuju agenda yang lebih besar yaitu pemilihan Rektor ULM. Senat universitas memiliki peran strategis sebagai badan normatif yang akan menyaring, memberi pertimbangan, hingga menentukan siapa sosok yang layak menahkodai kapal besar ULM akan datang.
Dalam proses itu , baiklah melakukan repleksi simbolik Burung Enggang yang menjadi kebanggaan logo Kampus ULM. Ia bukan sekadar penghias langit Kalimantan; ia adalah simbol kemuliaan dan kesetiaan yang mengakar dalam sanubari masyarakat Dayak. Namun dalam konteks akademis hari ini, sosok Enggang seolah tengah tertunduk, sayapnya lunglai terbebani oleh hiruk-pikuk yang menjauh dari nilai-nilai luhurnya.
Mengembalikan kepak sayap burung ini adalah sebuah metafora mendalam tentang upaya memulihkan jiwa Universitas Lambung Mangkurat agar kembali pada khitahnya sebagai menara ilmu.
Universitas, yang dahulu di kenal dengan sebutan Unlam, sejatinya adalah rumah bagi para pencari kebenaran. Namun, jati diri sebuah perguruan tinggi tidak terletak pada megahnya gedung atau luasnya lahan, melainkan pada keteguhan etika para insan di dalamnya.
Ketika integritas mulai luntur oleh kepentingan-kepentingan semu, maka pada saat itulah sang Enggang kehilangan daya angkatnya untuk terbang tinggi mencapai cakrawala prestasi yang sesungguhnya.
Integritas akademik bukanlah sekadar pelengkap administratif, melainkan fondasi utama bagi setiap pencapaian. Tanpa kejujuran ilmiah, prestasi nasional maupun internasional hanyalah fatamorgana yang nampak indah dari jauh namun kosong saat didekati. Seperti laut yang indah dipandang dari kejauhan, tetapi ia menjadi bahaya ketika berubah menjadi Tsunami.
Perkhidmatan pada Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk sebuah gelar atau publikasi ilmiah yang diraih akan memberikan kontribusi nyata bagi sejarah dan peradaban.
Menegakkan etika akademik memang bukan perkara mudah, layaknya merawat sayap burung yang terluka agar bisa kembali membentang kuat. Hal ini menuntut keberanian dari seluruh elemen kampus, mulai dari pimpinan, dosen, hingga mahasiswa, untuk berani berkata "tidak" pada praktik-praktik instan yang mencederai akal sehat.
Sejarah mencatat bahwa perguruan tinggi yang besar adalah mereka yang mampu menjaga "jarak" yang sehat dari godaan pragmatisme. ULM harus kembali menjadi ruang di mana argumen diuji dengan data, bukan dengan kuasa, dan di mana prestasi dirayakan sebagai upaya kerja keras dan cerdas. Inilah marwah yang harus dijemput kembali agar setiap lulusannya bisa berjalan tegak di tengah masyarakat tanpa bayang-bayang keraguan.
Kepak sayap Enggang yang kuat melambangkan visi yang jauh ke depan dan kemauan untuk melampaui keterbatasan. Jika etika akademik sudah tegak berdiri sebagai panglima, maka prestasi internasional akan datang sebagai buah alami dari ekosistem yang sehat. Nampaknya tidak perlu juga mengejar pengakuan dunia dengan cara-cara yang membakar rumah sendiri biarlah kualitas yang berbicara dan membawa nama Harum Banua ke panggung global.
Perjuangan mengembalikan kepak sayap ini adalah tanggung jawab kolektif. Menjadikan momen terpilihya anggota senat yang baru sebagai titik balik untuk membersihkan debu-debu yang menempel pada sayap sang Enggang.
Dengan integritas sebagai kompas dan etika sebagai kekuatan, ULM akan kembali terbang tinggi, membawa marwah dan martabat sebagai pusat keunggulan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga luhur secara budi pekerti. “Waja Sampai Kaputing”
Tepian Sungai Barito 16 Maret 2026.
Editor : Arief