Oleh: Prof. Dr. Syaiful Bahri Djamarah, M. Ag
Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin
Al-Qur’an ibarat matahari, mukjizat yang menerangi bumi. Cahayanya menyinari relung-relung kegelapan hati dan akal, petunjuk ketika manusia berada di persimpangan dari jalan yang lurus (Al-Fatihah:6). Ramadan bukan bulan mitos. Ia hadir sebagai arena penempaan fisik dan penggemblengan hati dan akal berdasarkan petunjuk Al-Qur’an.
Secara ontologis, adagium Hudallinnas ini diabadikan oleh Allah Swt. dalam surah Al-Baqarah: 185: "Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)."
Dalam ayat ini, Al-Qur'an disebut sebagai "Hudallinnas," yang berarti petunjuk bagi manusia. Petunjuk tentang kebijaksanaan dan prinsip umum, di mana kita seharusnya dapat membedakan antara yang hak dan yang batil. Selama ini kita terkesan belum menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk tetapi terjebak pada tradisi sekadar membaca Al-Qur’an demi mendapatkan pahala.
Selama Ramadan kita sering kali dengan gegap gempita ritualistik memperbanyak tadarus Al-Qur’an. Masjid-masjid penuh, pengeras suara bersahutan melantunkan ayat suci, dan target khatam Al-Qur'an menjadi perlombaan tahunan. Namun, di balik keriuhan itu, muncul sebuah pertanyaan kritis: Sejauh mana Al-Qur'an telah bertransformasi dari sekadar suara yang diperdengarkan menjadi ruh yang menggerakkan?
Al-Qur'an: Mukjizat Versus Jimat
Salah satu masalah kritis dalam cara pandang umat adalah pergeseran nilai etik Al-Qur'an dari hudallinnas dalam bingkai mukjizat intelektual menjadi jimat mistis. Banyak yang menyimpan Al-Qur'an di rumah hanya untuk mengusir jin atau membacanya dengan keyakinan bahwa bunyi huruf-hurufnya secara otomatis akan menyelesaikan masalah hidup tanpa perlu memahami maknanya.
Meskipun membaca Al-Qur'an bernilai ibadah, namun mengabaikan isinya adalah bentuk "peminggiran" terhadap fungsi utamanya, yaitu hudallinnas. Rasulullah Saw. pernah mengadu kepada Allah tentang fenomena ini: "Dan Rasul (Muhammad) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini (sesuatu) yang diabaikan" (Al-Furqan: 30). Mengabaikan bukan berarti tidak punya Al-Qur'an, melainkan punya namun tidak dibaca, dibaca namun tidak dipahami, atau dipahami namun tidak diamalkan, sehingga fungsi Al-Qur’an dikerdilkan.
Al-Qur'an: Antara Pajangan dan Tradisi Membaca
Selama ini kita sering kali memposisikan Al-Qur'an sebagai simbolistik. Kita tidak hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai peneguh identitas keislaman dengan menjadikannya sebagai pajangan estetis di rak buku atau kaligrafi indah yang menghiasi dinding rumah. Kita juga terjebak pada fetisisme teks, yaitu menghormati mushaf secara fisik tapi abai terhadap pesan moralnya.
Kemalasan membaca Al-Qur’an adalah penyakit kronis umat di era modern. Ketika kegilaan terhadap gawai mewabah, kealpaan kita terhadap Al-Qur’an menjadi-jadi. Padahal kemalasan membaca (iqra) adalah akar dari kemunduran umat. Bukankah perintah pertama dalam Islam bukan berpuasalah atau shalatlah, melainkan bacalah?
Untuk mendapatkan petunjuk Al-Qur’an berawal dari mencintainya. Kita berharap, masyarakat tidak hanya terjebak gemar membaca Al-Qur’an, tetapi memiliki spirit yang kuat untuk memahami makna dari setiap untaian ayat Al-Qur’an. Sebab tanpa spirit yang kuat untuk memahami makna ayat Al-Qur’an, kita hanya akan menjadi konsumen hoaks dan pemikiran dangkal. Al-Qur'an menuntut kita untuk berpikir kritis: "Maka apakah mereka tidak memperhatikan (tadabur) Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci?" (Muhammad: 24).
Selama ini kita terjebak pada ajaran menyesatkan. Keliru jika menganggap membaca Yasin sama dengan membaca seluruh isi Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an sampai hatam di kuburan untuk menunda kedatangan Malaikat Munkar dan Nakir adalah ajaran yang belum terkoreksi. Ini berbahaya, menodai keimanan dan melenceng dari petunjuk Al-Qur-an sebagai hudallinnas.
Mengamalkan membaca Yasin, Waqi'ah, dan Tabarak memang baik. Tetapi gemar membaca seluruh isi Al-Qur’an dari surah Al-Fatihah sampai surah An-Nas jauh lebih baik. Membaca salawat itu perintah Nabi. Berzikir itu baik. Membaca Yasin dalam acara Yasinan Mingguan tidak salah. Akan tetapi, jangan biarkan Al-Qur’an berdebu. Bukankah Al-Qur’an itu memiliki nilai etik, berfungsi sebagai petunjuk ke jalan yang lurus?
Al-Qur'an: Cahaya Petunjuk dalam Kegelapan Hati
Ketika dunia dipenuhi kegelapan informasi, krisis moral, dan kegelisahan, Al-Qur'an dibutuhkan dengan fungsi sebagai nilai etik yang memberi cahaya petunjuk. Ketika hati mulai gelap karena tumpukan dosa dan kecintaan dunia yang berlebih, Al-Qur'an hadir sebagai penyembuh (Syifa). Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya hati ini bisa berkarat sebagaimana besi jika terkena air." Sahabat bertanya, "Apa pembersihnya?" Beliau menjawab, "Banyak mengingat mati dan membaca Al-Qur'an." (HR. Baihaqi).
Sebagai mukjizat, Al-Qur’an adalah nur pemberi petunjuk, mengeluarkan kita dari kegelapan. “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa mereka ada pahala yang besar” (Bani Israil: 9). “Alif Lāmm Rāa. (Ini adalah) Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan pada cahaya (terang-benderang) dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahaterpuji” (Ibrahim:1).
Jalan Tuhanmu itulah jalan lurus, cahaya Ilahi, jalan kebaikan. Nabi bersabda: “Perbanyaklah membaca Al-Qur’an di rumah-rumahmu, maka sesungguhnya rumah yang tidak pernah dibacakan Al-Qur’an di sana sedikit kebaikan dan banyak kejelekan dan penghuninya merasakan sempit dalam kehidupannya” (HR. Thabrani). Bahkan, “Orang yang rongga dadanya kosong dari Al-Qur’an seakan-akan rumah yang tidak berpenghuni” (HR. Turmuzi). Oleh karena itu, “Sinarilah rumah kalian dengan salat dan bacaan Al-Qur’an” (HR. Imam al-Baihaqi & al-Dailami).
Ramadan adalah waktu terbaik untuk melakukan "detoksifikasi" hati dengan cara menyiramnya kembali dengan air wahyu. Cahaya itu tidak akan masuk ketika hati tertutup oleh kemalasan dan kesombongan intelektual.
Demikianlah. Ramadan bulan Al-Qur'an. Suatu momen untuk berkomitmen berhenti menjadikan Al-Qur’an sekadar hiasan di dinding, di rak atau jimat penolak bala. Kembali pada semangat Iqra yang substantif harus dilakukan, yaitu membaca teksnya, memahami konteksnya, dan mewujudkan pesannya dalam kehidupan sehingga fungsi etik Al-Qur’an benar-benar sebagai petunjuk di ruang publik.
Mari kita jadikan Ramadan tahun ini sebagai titik balik untuk meruntuhkan kemalasan membaca agar Al-Qur'an benar-benar menjadi petunjuk yang memandu kita keluar dari kegelapan menuju cahaya kebaikan. Ketika kebaikan membumi, keadilan dan ihsan pun menyapa kita (An-Nahl: 90). Adli nurul ihsan nuzulul khair bukan slogan belaka ketika fungsi etik Al-Qur’an menebarkan cahaya kebaikan demi keadilan dan ihsan.
Akhirul kalam, demi kebaikan, mari berlomba-lomba membaca Al-Qur’an (Al-Baqarah: 2/48). Iqra, Iqra, bacalah Al-Qur’an. Apakah setelah Ramadan Anda termasuk orang yang enggan menyentuh Al-Qur’an? Jika benar, maka ada yang salah dengan puasa Anda. Trims. (*)
Editor : Arief