Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ramadan, Literasi, dan Perempuan (Momentum Hari Perempuan Internasional 2026)

admin • Kamis, 12 Maret 2026 | 21:43 WIB

 

Nor Hasanah
Nor Hasanah

             Oleh: Nor Hasanah
             Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa tanggal 8 Maret menjadi moment yang sangat istimewa bagi perempuan di dunia karena pada tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional atau  International Women’s Day. Momentum ini bukan sekadar perayaan simbolik, melainkan refleksi global tentang peran perempuan dalam membangun masyarakat yang lebih adil, berpengetahuan, dan beradab. Tahun 2026 ini, peringatan tersebut mengusung tema “Give to Gain”, sebuah pesan bahwa ketika perempuan memberi pengetahuan, empati, dan kepedulian, masyarakat justru memperoleh kemajuan yang lebih besar. Menariknya, pada tahun ini peringatan tersebut juga berdekatan dengan suasana Ramadhan, bulan yang sarat dengan nilai refleksi, berbagi, dan penguatan spiritual. Pertemuan dua momentum ini menghadirkan satu gagasan penting: hubungan antara Ramadhan, literasi, dan peran perempuan.

Ramadhan tidak hanya dikenal sebagai bulan puasa, tetapi juga bulan pengetahuan. Dalam tradisi Islam, wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad adalah perintah membaca: Iqra’. Pesan ini menegaskan bahwa peradaban Islam sejak awal bertumpu pada literasi. Membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan jalan untuk memahami kehidupan, memperdalam iman, dan membangun masyarakat yang beradab.

Dalam konteks ini, literasi tidak hanya berarti kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan memahami informasi secara kritis. Literasi adalah fondasi bagi masyarakat yang mampu berpikir jernih di tengah arus informasi yang semakin kompleks. Di era digital saat ini, ketika informasi datang tanpa henti melalui media sosial, literasi menjadi semakin penting. Tanpa kemampuan memilah informasi, masyarakat mudah terjebak dalam hoaks, misinformasi, dan manipulasi data.

Di sinilah peran perempuan menjadi sangat penting. Sepanjang sejarah, perempuan sering kali menjadi penjaga pengetahuan di lingkungan keluarga dan komunitas. Seorang ibu yang membacakan buku kepada anaknya, seorang guru yang membimbing muridnya memahami pelajaran, atau seorang pustakawan yang membantu pemustaka menemukan referensi—semuanya adalah contoh bagaimana perempuan berkontribusi dalam menumbuhkan budaya literasi.

Peran ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membaca anak sering kali berawal dari lingkungan keluarga, terutama dari peran ibu. Ketika seorang ibu memiliki kedekatan dengan buku dan pengetahuan, peluang anak untuk tumbuh menjadi pembaca aktif menjadi jauh lebih besar. Dengan kata lain, perempuan sering kali menjadi jembatan pertama antara generasi muda dan dunia pengetahuan.

Ramadhan memberikan ruang yang sangat tepat untuk memperkuat peran ini. Bulan suci ini identik dengan tradisi membaca kitab suci, mengikuti kajian keagamaan, serta memperdalam pemahaman spiritual. Aktivitas membaca dan belajar menjadi bagian penting dari praktik ibadah. Dalam suasana seperti ini, perempuan memiliki kesempatan besar untuk menumbuhkan budaya literasi di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Namun tantangan literasi saat ini tidak lagi sederhana. Dunia digital telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan informasi. Berita, opini, dan berbagai bentuk konten digital beredar dengan sangat cepat. Sering kali informasi tersebut tidak melalui proses verifikasi yang memadai. Akibatnya, masyarakat mudah terpapar informasi yang menyesatkan.

Dalam situasi seperti ini, literasi tidak lagi hanya soal membaca, tetapi juga soal kemampuan berpikir kritis. Masyarakat perlu belajar bagaimana memeriksa sumber informasi, memahami konteks, dan membedakan fakta dari opini. Perempuan, dengan perannya yang dekat dengan pendidikan keluarga dan komunitas, dapat menjadi agen penting dalam proses ini.

Di banyak tempat, perempuan juga memainkan peran strategis dalam dunia literasi formal. Mereka bekerja sebagai guru, dosen, pustakawan, dan pengelola berbagai program literasi masyarakat. Melalui peran-peran ini, perempuan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun ekosistem pembelajaran yang memungkinkan masyarakat berkembang.

Jika dikaitkan dengan tema “Give to Gain” pada peringatan International Women’s Day tahun ini, hubungan antara perempuan dan literasi menjadi semakin jelas. Ketika perempuan memberikan akses pengetahuan kepada orang lain melalui pendidikan, bimbingan, atau pendampingan literasi, masyarakat memperoleh sesuatu yang jauh lebih besar: kemampuan untuk berpikir, memahami, dan membuat keputusan yang lebih baik.

Ramadhan sendiri mengajarkan nilai memberi dalam berbagai bentuk. Memberi tidak selalu berarti berbagi materi. Memberi pengetahuan juga merupakan bentuk sedekah yang sangat berharga. Dalam banyak hadis, disebutkan bahwa ilmu yang bermanfaat termasuk amal yang pahalanya terus mengalir. Dari perspektif ini, setiap upaya perempuan dalam menumbuhkan literasi sebenarnya merupakan investasi jangka panjang bagi peradaban.

Namun untuk memperkuat peran tersebut, masyarakat juga perlu memberikan dukungan yang memadai. Perempuan harus mendapatkan akses yang setara terhadap pendidikan, sumber pengetahuan, dan kesempatan untuk mengembangkan diri. Tanpa dukungan tersebut, potensi besar perempuan dalam membangun budaya literasi tidak akan berkembang secara optimal.

Momentum Ramadhan yang berdekatan dengan peringatan International Women’s Day seharusnya menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali hubungan antara spiritualitas, pengetahuan, dan peran perempuan dalam masyarakat. Ramadhan mengajarkan pentingnya membaca dan merenung, sementara Hari Perempuan Internasional mengingatkan dunia tentang kontribusi perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.

Ketika kedua nilai ini dipertemukan, kita melihat satu pelajaran penting: perempuan memiliki peran strategis dalam menumbuhkan literasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral. Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi digital, kehadiran perempuan sebagai penjaga literasi menjadi semakin penting.

Pada akhirnya, peradaban yang kuat tidak hanya dibangun oleh teknologi atau kekuatan ekonomi. Ia juga dibangun oleh budaya membaca, kemampuan berpikir kritis, dan kesediaan untuk berbagi pengetahuan. Dalam proses itu, perempuan memainkan peran yang tidak tergantikan. Melalui literasi, mereka memberi cahaya bagi masyarakat, dan dari cahaya itulah masa depan peradaban dapat tumbuh dengan lebih baik.

Editor : Arief
#Opini