Oleh: Bihman
Penulis Guru MTsN 3 Tanah Bumbu
Kitab suci Al-Qur’an merupakan pedoman segala aspek kehidupan kaum muslimin. Bahkan lebih luas dari itu, dia sebagai rahmatan lil alamin. Kedudukannya sebagai sumber hukum dan pedoman bagi kehidupan untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Dengan Al-Qur’an manusia menata kehidupan dan menjalankan sendi-sendi kekuasaan. Oleh karena itu memelihara Al-Qur’an berarti memelihara keselamatan dan nasib umat Islam serta umat manusia secara keseluruhan. Melalaikan tugas ini berarti keruntuhan bagi umat manusia dan kehancuran bagi kpribadiannya.
Inilah suatu kebenaran yang tidak perlu diperdebatkan apalagi sampai dpertentangkan. Al-Qur’an dengan segala kesuciannya yang memuat segala aspek dan syariat hukum yang sempurna dan juga mengajarkan moralitas yang tinggi adalah satu garisan samawi yang memberikan pendidikan kepada manusia khusunya kaum muslimin yang akan melindungi mereka dari segala penyimpangan serta desakan pemikiran sekuler yang membahayakan.
Sebagai generasi Islam wajib diperingatkan dan diamanati bahwa untuk menjamin masa depan itu harus kembali kepada kitab suci Al-Qur’an. Sebab di dalam kitab ini akan ditemukan segala pokok kemuliaan dan supaya mereka meneruskan jalan yang telah dirintis oleh generasi pendahulunya..
Hanya dengan menanamkan sikap mencintai Al-Qur’an mereka akan dapat memelihara, mempelajari dan menerapkan ajaran Al-Qur’an itu dalam segala lapangan kehidupan, baik secara individu, keluarga maupun masyarakat. Sebab Al-Qur’an diturunkan untuk mengajari manusia serta menjadikannya sebagai rahmat, petunjuk dan sekaligus sebagai obat bagi mereka yang beriman ( QS: Yunus : 57 ).
Al-Qur’an Sumber Hukum Tertinggi
Menurut Imam Ibnu Katsir bahwa Al-Qur’an itu diturunkan pada bulan suci Ramadan ( 17 Ramadan ) dengan dengan beberapa tahapan atau mekanisme yang sangat runtut, yaitu dari Lauhil Mahfudz ke langit dunia dalam satu kesatuan konsep yang utuh ( jumlatul waahid ) yang disebut dengan Lailatul Qadr. Kemudian dari langit ke kalbu baginda Nabi Muhammad SAW secara bertahap sebagian demi sebagian berproses selama lebih kurang 23 tahun ( QS; Al-Furqan : 2 ).
Al-Qur’an memiliki sifat yang sangat lengkap adalah suatu konsep konstitusi atau perundang-undangan yang hidup dan abadi bagi kemanusiaan. Sebuah kitab suci yang nejadi pokok sumber hukum tertinggi bagi manusia sepanjang zaman. Sebab Al-qur’an punya keelastisan sehingga penerapannya dapat disesuaikan di segala tempat, kondisi dan waktu dalam semua aspek kehidupan.
Secara spesifik Al-Qur’an mengandung satu proklamasi, satu muqadimah yang meliputi 114 surah. Dikatakan proklamasi karena pendeklarasian yang luhur dan abadi bagi seluruh kemanusiaan yang datangnya dari Allah sebagai Tuhan Pencipta Alam Semesta ( QS : Al-Alaq : 1-5 ). Sebagaimana yang tersampaikan kepada Nabi Muhammad SAW untuk pertama kalinya.
Dalam pendeklarasian itu memiliki dua makna yang berbeda namun saling mempunyai keterkaitan, yakni ditujukan kepada nabi Muhammad SAW secara individu dan juga ditujukan kepada manusia sebagai panggilan agar tidak tersesat. Dari sini tergambar jelas bahwa adanya proses yang sangat mengagunmkan pada diri manusia.
Kalau kita coba analisa berdasarkan ayat ini maka akan didapati dua permasalahan yang sangat fundamental bagi kehidupan manusia, yaitu pertama memberikan pernyataan yang mutlak bahwa manusia berasal dari segumpal darah yang berproses dan ini tidak berbeda dengan proses yang terjadi pada hewan.
Kedua memberikan penekanan bahwa ilmu pengetahuan dengan seluruh bidangnya merupakan anugerah Allah yang akan diajarkan kepada manusia dengan melewati pendidkan, pemahaman dan menelaahan. Itu artinya setiap ilmu harus dipelajari.
Dari analisa ini dapat dimengerti bahwa asal kejadian manusia yang begitu rendah dan merupakan pertentangan dengan Allah zat Yang Maha Mulia moralnya, inteleknya dan semangatnya. Dan selanjutnya eksistensi lmu engethuan yang dimiliki manusia bukanlah kemampuanya sendiri akan tetapi berupa bakat-bakat yang dinerikan oleh Allah sehingga dengan bakat itu manusia punya kemampuan untuk mempelajari ilmu pengetahuan.
Kemudian bila kita cerna secara seksama tentang ilmu pengetahuan yang dianugerahkan oleh Allah melalui “ pena “ ( QS : Al-Alaq : 4 ) dapat dipahami bahwa lambang dari sebuah wahyu yang tetap adalah tulisan yang sudah mempunyai kekuatan dan menjadi kepercayaan, yaitu belajar dan mengajar.
Pengrtian belajar dan mengajar berasal dari kata yang sama. Dimana kata “ baca “, “ ajarkan “ dan “ pena “ dapat diartikan menjadi membaca, menulis buku-buku dan studi serta penelitian yang kesemuanya adalah muara untuk memeasuki gerbang ilmu. Sedangkan kata “ ilmu “ yang didalamnya memuat pengetahuan yang bersifat scientifik, ilmu-ilmu keduniaan dan pengertian spritual.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa isi proklamasi adalan bagian terpenting dan utama dari Kitab Suci Al-Qur’an sebagai buku kebesaran-Nya. Prklamasi ini juga mengajak manusia untuk menyadari akan kemuliaan Tuhan yang telah memberikan anugerah dalam bentuk berbagai disiplin ilmu pengetahuan kepada manusia yang kemudian bisa diterapkan dalam bentuk teknologi.
Adapun muqadimah yang dimaksud adalah surah Al-Fatihah yang komplit. Menurut Imam Al-Bukhari surah ini juga dinamakan dengan Ummul Kitab dan surah ini menjadi bacaan wajib dalam shalatnya dan posisinya dalam Al-Qur’an menempati urutan pertama sebagai pembuka Al-Qur’an.
Menurut Sayyid Quth ( Fi Zhilal Qur’an ) menyebutkan bahwa dimana setiap kaum muslimin telah memabca Al-Fatihah ini sebanyak 17 kali dalam rentang waktu sehari semalam. Atau berlipatgand lagi ketika dia memnegerjakan shalat-shalat sunnah lainnya. Bahkan setiap saat bila mana dia ingin selalu menghadap Allah Tuhan pencipta alam..
Sebagai muqadimah bagi kitab suci Al-qur’an, surah Al-Fatihah memiliki kandungan pokok dasar dalam ajaran Islam. Di dalamnya ada aqidah, cita-cita, semangat, rasa dan tujuan. Semua pokok dasar tersebut bersumber pada inti agama yang sebenarnya, yaitu hubungan tuhan dengan manusia, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya.
Dengan kata lain isi Al-Fatihah dapat dikatakan sebagai kometmen menjunjung tinggi akan kebesaran Tuhan didalam segala dimensi. Sehingga memulai sesuatu itu dengan mengingat kasih sayang Allah dan melanjutkannya serta mengakhirinya dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan yang memelihara seluruh alam.
Itulah Al-qur’an yang dimulai dengan proklamasi dilanjutkan dengan muqadimah maka selanjutnya surah dan ayat-ayat penutup tentu pula menyertainya sehingga Al-Qur’an memiliki keistimewaan karena punya susunan ayat penutup yang terdiri dari dua macam yaitu ayat penutup berdasarkan turunnya sudah lengkap dan sempurna. Kedua penutup isi kitab Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw yakni surah Al-Maidah ayat 3 sebagai ayat terakhir yang diterima ketika beliau sedang melaksanakan haji akbar terakhir di Padang Arafah.
Editor : Arief