Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Gejolak Global dan Ketahanan Ekonomi Kalimantan Selatan

admin • Rabu, 11 Maret 2026 | 13:23 WIB

R.K. Ariyandi
R.K. Ariyandi

             Oleh: R.K. Ariyandi
             Praktisi Perbankan dan Pemerhati Ekonomi Daerah

Pelemahan Rupiah, kenaikan harga minyak dunia, dan tekanan pasar saham menjadi pengingat bahwa ekonomi daerah perlu memperkuat fondasi agar tidak terlalu bergantung pada komoditas.

Ketika nilai tukar Rupiah kembali bergerak mendekati Rp17.000 per dolar Amerika Serikat, harga minyak dunia mengalami kenaikan akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, sementara pasar saham domestik menghadapi tekanan dengan Indeks Harga Saham Gabungan yang beberapa kali ditutup di zona merah, publik secara alami kembali mengingat betapa rentannya ekonomi terhadap gejolak global. Kombinasi tiga indikator ini sering menjadi alarm dini bagi stabilitas ekonomi karena dalam sejarah perekonomian Indonesia, tekanan terhadap nilai tukar, energi, dan pasar keuangan kerap berjalan beriringan dalam periode ketidakpastian ekonomi.

Namun kondisi ekonomi saat ini tidak dapat disamakan begitu saja dengan krisis pada masa Asian Financial Crisis. Dalam dua dekade terakhir Indonesia telah melakukan berbagai reformasi penting di sektor keuangan, memperkuat sistem perbankan, serta membangun koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang lebih solid. Fondasi ekonomi nasional hari ini jauh lebih kuat dibandingkan masa lalu.

Meski demikian, dinamika ekonomi global tetap memiliki jalur transmisi hingga ke tingkat daerah. Pelemahan nilai tukar dapat meningkatkan harga barang impor, kenaikan harga energi berpotensi mendorong biaya logistik dan transportasi, sementara tekanan pasar keuangan dapat mempengaruhi sentimen dunia usaha. Dalam jangka waktu tertentu tekanan tersebut dapat bermuara pada meningkatnya harga barang kebutuhan masyarakat.

Dalam konteks ini penting untuk melihat bagaimana ketahanan ekonomi daerah menghadapi dinamika tersebut, termasuk di Kalimantan Selatan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan dalam beberapa tahun terakhir berada pada kisaran di atas lima persen. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi daerah masih bergerak cukup dinamis, ditopang oleh sektor pertambangan, perdagangan, industri pengolahan, serta konsumsi rumah tangga yang relatif kuat.

Sektor pertambangan dan penggalian masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto daerah. Komoditas batubara bahkan menjadi salah satu penyumbang utama ekspor daerah. Dalam situasi harga komoditas global yang tinggi, sektor ini memang memberikan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Namun ketergantungan yang terlalu besar terhadap komoditas juga menyimpan kerentanan tersendiri. Harga komoditas sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global yang berada di luar kendali daerah. Ketika harga komoditas mengalami penurunan tajam, dampaknya dapat segera terasa terhadap aktivitas ekonomi daerah, mulai dari penurunan ekspor hingga melambatnya aktivitas perdagangan dan jasa yang selama ini ikut tumbuh bersama sektor pertambangan.

Karena itu penguatan struktur ekonomi daerah melalui diversifikasi sektor menjadi langkah yang semakin penting. Kalimantan Selatan memiliki potensi besar pada sektor pertanian, perkebunan, perikanan, serta industri pengolahan berbasis sumber daya lokal. Pengembangan agroindustri, peningkatan nilai tambah produk lokal, serta penguatan sektor perdagangan dan jasa dapat menjadi pilar penting dalam memperkuat fondasi ekonomi daerah.

Selain itu kekuatan konsumsi masyarakat juga menjadi penopang utama ekonomi daerah. Konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 40 hingga 45 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto Kalimantan Selatan. Artinya hampir setengah aktivitas ekonomi daerah digerakkan oleh belanja masyarakat sehari-hari, mulai dari kebutuhan pangan hingga berbagai layanan jasa.

Ketika daya beli masyarakat tetap terjaga, sektor perdagangan, jasa, dan usaha kecil dapat terus bergerak. Hal ini penting karena usaha mikro dan kecil menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat sekaligus penyerap tenaga kerja terbesar di daerah.

Dalam situasi seperti ini, koordinasi kebijakan ekonomi daerah menjadi semakin penting. Melalui kerja sama antara pemerintah daerah, otoritas moneter seperti Bank Indonesia, sektor perbankan, serta pelaku usaha, berbagai langkah stabilisasi ekonomi dapat dijalankan secara lebih efektif. Pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan stabilitas harga, terutama pada komoditas pangan yang sangat mempengaruhi daya beli masyarakat.

Selain tantangan inflasi, pemerintah daerah juga menghadapi keterbatasan ruang fiskal karena sebagian besar anggaran daerah masih bergantung pada transfer dari pemerintah pusat. Kondisi ini menuntut pemerintah daerah untuk semakin kreatif dalam memperkuat basis ekonomi lokal serta mendorong pertumbuhan sektor-sektor produktif di daerah.

Dalam konteks tersebut, optimalisasi belanja daerah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) menjadi instrumen penting untuk menjaga pergerakan ekonomi daerah. Belanja pemerintah daerah memiliki peran strategis sebagai salah satu penggerak aktivitas ekonomi, terutama pada saat sektor swasta cenderung menahan ekspansi akibat ketidakpastian global. Melalui belanja pembangunan yang tepat sasaran, pemerintah daerah dapat menciptakan efek berganda bagi perekonomian lokal, mulai dari penyerapan tenaga kerja, peningkatan aktivitas usaha kecil, hingga pergerakan sektor perdagangan dan jasa.

Karena itu kualitas belanja daerah menjadi faktor yang tidak kalah penting dibandingkan besarnya anggaran yang dimiliki. Belanja yang diarahkan pada pembangunan infrastruktur produktif, penguatan sektor pertanian dan perikanan, pengembangan usaha mikro dan kecil, serta peningkatan konektivitas ekonomi antardaerah akan memberikan dampak yang lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Ketika belanja daerah mampu mendorong aktivitas ekonomi masyarakat, maka daya tahan ekonomi daerah terhadap gejolak global juga akan semakin kuat.

Gejolak ekonomi global saat ini seharusnya menjadi momentum bagi daerah untuk memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang. Diversifikasi sektor ekonomi, peningkatan nilai tambah sumber daya lokal, penguatan konsumsi masyarakat, serta stabilitas harga merupakan elemen penting dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah.

Pada akhirnya ekonomi yang tangguh bukanlah ekonomi yang tidak pernah menghadapi guncangan. Ekonomi yang tangguh adalah ekonomi yang mampu beradaptasi, menjaga stabilitas masyarakat, dan terus bergerak maju di tengah berbagai dinamika global.

Bagi Kalimantan Selatan, masa depan ekonomi daerah tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam yang dimiliki hari ini, tetapi juga oleh kemampuan daerah dalam menyiapkan fondasi ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan bagi generasi yang akan datang.

Dan di situlah sesungguhnya ujian ketangguhan ekonomi sebuah daerah dimulai.

Editor : Arief
#Opini #kalimantan selatan