Oleh: Ahmad Syawqi
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin
Setiap 8 Maret, dunia merayakan Hari Perempuan Internasional atau atau International Women’s Day (IWD). Tahun 2026, perayaan ini hadir beriringan dengan bulan suci Ramadan sebuah harmoni yang jarang terjadi. Di era ketika layar kaca (gawai) telah menjadi perluasan dari diri kita, momen ganda ini mengajak perempuan Indonesia untuk merenung: apa artinya memberi di ruang digital, dan apa yang sebenarnya kita peroleh?
Tema global IWD 2026, "Give to Gain", menawarkan bingkai yang menarik. Frasa ini mengingatkan kita pada filosofi Ramadan tentang berbagi dan nilai sedekah yang tak pernah mengurangi harta. Namun, di era digital, makna "memberi" dan "memperoleh" mengalami pergeseran yang tidak sederhana.
Data terkini menunjukkan potret perempuan di panggung digital yang menggembirakan sekaligus menggelisahkan. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengungkapkan bahwa Indonesia diproyeksikan membutuhkan 12 juta talenta digital pada 2030. Namun, ia menyoroti fenomena leaky pipeline—berkurangnya jumlah perempuan yang berkarier di bidang teknologi. Data menunjukkan partisipasi perempuan dalam pelatihan digital mencapai 36 persen, tetapi hanya sekitar 17 persen yang benar-benar melanjutkan karier profesional di bidang teknologi .
Di sektor yang lebih teknis seperti kecerdasan buatan dan rekayasa, keterlibatan perempuan hanya berkisar 15 hingga 18 persen . Angka ini menjadi ironi di tengah semangat Ramadhan yang mendorong umatnya untuk terus belajar dan berkembang.
Antara Eksistensi dan Esensi
Lantas, apa yang "hilang" di tengah hiruk-pikuk digital ini?
Claudia Anridho, dosen Sosiologi Universitas Airlangga, mengingatkan bahwa perjuangan kesetaraan perempuan tidak melulu soal ranah publik. Ada ranah privat—lingkup keluarga—yang juga membutuhkan kontribusi positif perempuan. "Kita jangan mengecilkan arti mereka yang juga bekerja di sektor privat," ujarnya .
Di bulan Ramadhan, ketika layar kaca justru semakin terang dengan konten berbuka, dagangan takjil, dan berbagai unggahan aktivitas ibadah, pertanyaan kritis perlu diajukan: apakah "give" kita di dunia digital adalah pemberian yang tulus, atau sekadar kebutuhan akan "gain" berupa validasi sosial?
Pakar IT Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Supangat, mengingatkan bahwa "Kartini Digital" adalah simbol perempuan yang berpikir dan bergerak maju, tak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga aktif di ruang digital, hadir di berbagai sektor, dan memperluas pengaruh sosial lewat teknologi. Ia menekankan bahwa pendidikan digital harus diperkenalkan sejak dini, bukan hanya sebagai keterampilan teknis, tetapi sebagai pola pikir.
Supangat menyebut bahwa "Kartini Digital" adalah simbol perempuan yang tidak hanya berpikir dan bergerak maju, tetapi juga bergerak maju. Ia memandang dunia digital sebagai ruang penuh potensi untuk menciptakan perubahan nyata .
Menteri Meutya Hafid, dalam berbagai kesempatan, mengajak perempuan Indonesia menjadi penggerak inovasi digital. "Semangat Kartini adalah semangat untuk belajar tanpa henti, berkarya tanpa batas, dan memberi makna bagi bangsa. Di tengah transformasi digital yang masif, perempuan harus tampil sebagai garda depan inovasi" .
Namun, inovasi tanpa empati hanya akan melahirkan mesin tanpa jiwa. Di sinilah Ramadhan menawarkan perspektif yang hilang dari algoritma: bahwa memberi yang paling bermakna adalah ketika tangan kanan tidak tahu apa yang diberikan tangan kiri.
Saya membayangkan seorang ibu yang setelah mengikuti pelatihan digital, kini bisa membuat poster promosi sendiri untuk dagangannya. Ia berkata, "Saya dulu gaptek. Pegang HP saja takut salah pencet. Setelah ikut pelatihan, saya bisa upload produk dan bikin poster sendiri" . Ia "memberi" waktu untuk belajar, dan "memperoleh" kepercayaan diri dan peningkatan omzet.
Saya juga membayangkan para siswi SMA yang mengikuti program Girls' Tech Day, belajar kecerdasan buatan dan robotika. Menteri Meutya berpesan kepada mereka, "Jangan takut mencoba teknologi dan jangan takut salah. Masa depan digital Indonesia membutuhkan kreativitas, empati, dan keberanian kalian" .
Ramadan sebagai Ruang Renung Digital
Di bulan yang suci ini, ada tradisi i'tikaf menyepi sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk merenung di masjid. Mungkin, kita perlu versi digital dari i'tikaf: berhenti sejenak dari berlomba-lomba mengejar like dan komentar, dan bertanya pada diri sendiri: apakah yang saya unggah hari ini benar-benar memberi manfaat?
"Give to Gain" dalam perspektif Ramadan bukan soal hitungan matematis: dengan memberi seribu like, aku berharap mendapat seribu pengikut. Bukan. Memberi dalam perspektif Ramadhan adalah tentang melapangkan hati, dan "gain"-nya adalah ketenangan yang tak bisa diukur oleh analitik media sosial mana pun.
Data dari APEC menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan literasi digital dengan sekitar 74 persen transaksi masih dilakukan secara tunai . Artinya, perjalanan perempuan Indonesia dalam menguasai ruang digital masih panjang. Namun, ini juga berarti peluang yang terbentang luas.
Di momen Hari Perempuan Internasional yang jatuh di bulan Ramadan ini, mari kita maknai layar kaca bukan sebagai panggung pencitraan, melainkan sebagai ruang berbagi yang memberdayakan. Mari kita pastikan bahwa apa yang kita "give" di dunia digital, baik itu ilmu, produk, atau sekadar kata-kata penghibur adalah pemberian yang lahir dari keikhlasan hati, bukan sekadar strategi mengejar popularitas.
Karena pada akhirnya, "gain" yang paling berharga bukanlah jumlah pengikut atau like, melainkan ketenangan batin di bulan suci dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Perempuan Indonesia bisa menjadi keduanya: penguasa teknologi sekaligus penjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Masa depan digital Indonesia membutuhkan kreativitas, empati, dan keberanian kalian . Ramadhan mengajarkan kita bahwa kreativitas tanpa empati akan kehilangan arah, dan keberanian tanpa keikhlasan akan kehilangan makna.
Selamat Hari Perempuan Internasional 2026. Selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga setiap unggahan kita menjadi catatan amal, dan setiap kontribusi digital menjadi investasi akhirat.
Editor : Arief