Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Imigran Digital dalam Pendidikan Generasi Z

admin • Sabtu, 7 Maret 2026 | 22:36 WIB

Hery Purnobasuki
Hery Purnobasuki

            Oleh: Hery Purnobasuki
            Dosen FST Universitas Airlangga

Selama puluhan tahun, jumlah informasi yang perlu diakses oleh individu terus meningkat dengan penambahan informasi baru setiap detik. Perkembangan pesat dalam teknologi penyebaran informasi menjadi pusat dari semua isu yang berkaitan dengan manusia. Di era digital, fungsi teknologi informasi dan komunikasi memengaruhi fungsi sosial pendidikan serta banyak bidang lainnya.

Ditekankan bahwa pendidikan di mana individu akan dilengkapi dengan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk hidup dengan martabat, membangun kehidupan mereka, dan berkontribusi pada masyarakat tempat mereka tinggal. Dalam lingkungan ekonomi global dan kompetitif saat ini, karakteristik individu yang dibutuhkan negara untuk pembangunan berkelanjutan dan kemakmuran dijelaskan sebagai keterampilan abad ke-21. Ketika literatur tentang kualitas yang harus dimiliki oleh orang abad ke-21 ditinjau maka  terlihat bahwa terutama keterampilan kognitif tingkat tinggi ditekankan, serta literasi digital dan kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi secara efektif sering kali menjadi fokus dalam banyak literatur. 

Institusi pendidikan merupakan salah satu lembaga yang tidak hanya menginisiasi tetapi juga mengarahkan perubahan dan perkembangan sosial, sehingga harus mengikuti perkembangan teknologi, menggunakan, dan mengajarkan penggunaan teknologi-teknologi tersebut. John Dewey (1995) menyatakan bahwa, “Jika kita mengajar siswa hari ini dengan cara yang sama seperti kemarin, kita sedang merampas masa depan mereka”. Siswa yang belajar hari ini akan memiliki peran penting dalam ekonomi informasi dan digital di masa depan.

Oleh karena itu, sistem pendidikan saat ini memiliki tanggung jawab untuk membentuk individu yang memiliki keterampilan bertanya, berpikir kreatif dan kritis, belajar untuk belajar, belajar sepanjang hayat, terbuka terhadap perubahan, mengakses informasi yang tepat, menggunakan informasi, membaca dan menulis secara digital, serta memproduksi informasi. Walaupun realisasinya tidak mudah dan menghadapi berbagai tantangan, terutama dari aspek pengajar dan system pembelajarannya. Selain itu aksesibilitas pendidikan dan kesempatan yang setara harus dijamin bagi semua tanpa diskriminasi.

Perlu dicatat juga bahwa untuk mencapai tujuan pendidikan inklusif, setara, berkualitas, dan pembelajaran seumur hidup hingga tahun 2030, dengan mempertimbangkan definisi dan unsur-unsur yang telah ditetapkan dalam literatur, dapat dikatakan bahwa teknologi informasi dan komunikasi harus digunakan dalam pendidikan, termasuk pembelajaran mobile, untuk memperkuat sistem pendidikan, penyebaran informasi, akses informasi, kualitas, dan memastikan pembelajaran yang efektif serta penyampaian layanan yang lebih efisien.

Integrasi Teknologi & Generasi Z

            Pentingnya integrasi teknologi ke dalam pendidikan dan penggunaan teknologi pendidikan dalam proses pembelajaran merupakan gagasan yang telah diterima secara luas di bidang ilmu pendidikan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa integrasi teknologi ke dalam pendidikan dan penggunaannya dalam proses pembelajaran meningkatkan kesuksesan akademik dan motivasi siswa, berdampak positif pada sikap mereka terhadap pembelajaran, mendukung pengembangan keterampilan pemecahan masalah dan keterampilan belajar kooperatif siswa, serta memberikan lebih banyak waktu bagi guru untuk membimbing siswa mereka. 

            Untuk mewujudkan manfaat potensial penggunaan teknologi di sekolah pada tingkat yang tinggi; guru, administrator sekolah, dan pengawas yang merupakan pemangku kepentingan dalam proses pendidikan berada pada posisi kunci. Namun, siswa yang melakukan proses belajar memiliki peran penting dalam penggunaan teknologi yang efektif dalam proses pembelajaran.

            Saat ini, siswa sekolah menengah atas termasuk dalam Generasi Z. Generasi Z didefinisikan sebagai generasi yang lahir setelah tahun 2000. Karena generasi ini lahir di era teknologi murni, mereka hidup dengan teknologi. Anggota generasi ini disebut “Generasi I”, “Generasi Internet”, “Generasi Berikutnya”, atau “iGen” (Levickaite, 2010). Individu Generasi Z terbiasa dengan akses cepat terhadap informasi. Mereka merupakan konsumen dan produsen pengetahuan. Mereka percaya pada diri sendiri. Mereka terbuka pikiran, praktis, kreatif, berjiwa wirausaha, berorientasi pada keterampilan dan tujuan.

Kemampuan mereka dalam mengoperasikan perangkat cukup tinggi. Mereka memiliki ekspektasi yang tinggi. Mereka lebih suka berkomunikasi melalui koneksi media sosial, multitasking, pengalaman mikro yang dipersonalisasi, latihan praktis, melihat grafik sebelum teks, dan pembelajaran interaktif serta berbasis video. Mereka bekerja paling baik dengan menerapkan dan berjejaring. Mereka suka mengaitkan apa yang mereka pelajari dengan masalah dunia nyata yang mereka alami saat ini atau mungkin hadapi dalam karier mereka di masa depan.

Imigran Digital

            Guru-guru yang bertanggung jawab atas pendidikan Generasi Z adalah imigran digital. Imigran digital adalah mereka yang tidak lahir di dunia digital tetapi pada suatu titik dalam hidup mereka telah mengadopsi sebagian besar aspek teknologi baru. Untuk memberikan pengalaman yang paling efektif dan bermanfaat dalam proses pembelajaran bagi Generasi Z, sangat penting untuk mengetahui bagaimana siswa-siswa ini berpikir, apa minat mereka, dan bagaimana mereka lebih suka diajarkan.

            Guru sekarang tidak cukup berbekal pengetahuan semata, namun saat diperlukan kecakapan dan melek teknologi digital juga. Guru kini dituntut menjadi fasilitator pembelajaran yang adaptif, inovatif, dan berbasis teknologi. Artinya harus mampu menggunakan perangkat dan aplikasi digital untuk mendukung pembelajaran. Memahami etika dan keamanan digital. Mampu beradaptasi dengan inovasi teknologi baru dalam dunia pendidikan. Serta dapat menerapkan pendekatan pembelajaran digital yang relevan dan sesuai dengan karakter siswa. Perubahan ini tidak selalu mudah karena banyak guru yang belum terbiasa dengan perangkat digital. Tentu saja hal ini tidak semudah membalik telapak tangan, tapi harus diupayakan.

            Meskipun ada banyak kesulitan, era digital juga menawarkan peluang besar bagi guru untuk tumbuh secara profesional. Teknologi memungkinkan akses ke pelatihan, komunitas profesional, dan sumber pembelajaran di seluruh dunia. Guru dapat berkembang melalui kerja sama regional dan bahkan nasional. Hal ini meningkatkan metode pembelajaran dan perspektif pendidikan. Guru dapat membuat pembelajaran yang lebih relevan dan berkualitas dengan memanfaatkan teknologi dengan benar. Meskipun dunia berubah dengan cepat, guru tetap menjadi pemimpin pembelajaran.

            Hasil positif dari integrasi teknologi dalam pendidikan dan penggunaan alat-alat teknologi dalam proses pembelajaran, baik bagi guru, siswa, maupun proses pembelajaran, sudah banyak dibuktikan dalam penelitian. Namun, integrasi teknologi yang efektif dalam pendidikan merupakan proses yang kompleks dan multidimensional yang tidak hanya sekedar melibatkan teknologi. Ketidakcukupan hardware dan software, kurangnya pengetahuan dan sikap negatif guru terhadap integrasi teknologi dalam pendidikan, serta pembatasan yang diterapkan pada siswa dianggap oleh generasi Z sebagai faktor yang secara negatif mempengaruhi penggunaan teknologi dalam pendidikan.

             Terakhir, tantangan era digital bukan menghapus peran guru sebagai imigran digital; sebaliknya, itu memperkuat peran tersebut. Teknologi tidak dapat menggantikan pemahaman guru tentang sifat dan kebutuhan siswa. Guru tetap menjadi orang yang menawarkan jalan, prinsip, dan makna untuk pembelajaran. Perjalanan panjang profesi ini untuk beradaptasi dengan zaman termasuk adopsi teknologi. Guru yang mampu menyesuaikan diri memastikan bahwa pendidikan tetap relevan untuk setiap generasi. Semoga. (*)

 

Editor : Arief
#Opini