Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Jika Ramadhan hanya Jadi Rutinitas

admin • Sabtu, 7 Maret 2026 | 22:35 WIB

Dr. Elinda Rizasari,Spd.,Mpd
Dr. Elinda Rizasari,Spd.,Mpd

            Oleh: Dr. Elinda Rizasari,Spd.,Mpd
            Dosen prodi PGSD Unisri Surakarta

Setiap tahun Ramadhan datang membawa suasana yang khas. Masjid kembali ramai, lantunan ayat suci terdengar di berbagai tempat, dan masyarakat berlomba-lomba melakukan kebaikan. Di banyak keluarga, Ramadhan juga menjadi momen kebersamaan yang ditunggu-tunggu: sahur bersama, berbuka bersama, hingga kegiatan sosial yang mempererat hubungan antar anggota keluarga.

Namun di balik suasana religius itu, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan sebagai orang tua: apakah Ramadhan benar-benar membentuk karakter anak-anak kita, atau hanya menjadi rutinitas tahunan yang berlalu begitu saja?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan di tengah perubahan sosial yang begitu cepat. Anak-anak hari ini tumbuh dalam dunia yang dipenuhi layar digital, informasi instan, dan budaya serba cepat. Dalam situasi seperti ini, Ramadhan seharusnya menjadi ruang pendidikan karakter yang sangat kuat. Tetapi tanpa disadari, banyak keluarga justru menjalaninya sekadar sebagai tradisi tahunan.

Rutinitas Tanpa Makna

Beberapa waktu lalu, seorang guru sekolah dasar menceritakan pengalamannya kepada saya. Ketika ia bertanya kepada murid-muridnya tentang Ramadhan, sebagian anak menjawab dengan antusias: “Ramadhan itu enak, karena banyak buka bersama dan bisa beli takjil.” Ada pula yang mengatakan bahwa Ramadhan adalah bulan ketika mereka boleh begadang lebih lama karena suasana malam terasa lebih hidup.

Jawaban-jawaban itu sebenarnya polos dan jujur. Namun dari sana terlihat bahwa sebagian anak memahami Ramadhan lebih sebagai pengalaman sosial daripada perjalanan spiritual. Fenomena ini tidak sepenuhnya salah. Anak memang menikmati sisi kebersamaan yang ada dalam Ramadhan. Tetapi jika pengalaman Ramadhan hanya berhenti pada aspek tersebut, anak berisiko melihat puasa sebagai rutinitas tahunan tanpa makna yang mendalam.

Padahal inti dari puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah latihan untuk membangun pengendalian diri, empati sosial, dan kedewasaan moral.

Anak Belajar dari Teladan

Dalam ilmu perkembangan anak, terdapat prinsip sederhana namun sangat kuat: anak belajar terutama dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang mereka dengar. Orang tua mungkin sering mengingatkan anak untuk membaca Al-Qur’an, berbuat baik, atau menjaga perilaku selama berpuasa. Namun pada saat yang sama, anak juga memperhatikan bagaimana orang tua menjalani Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah orang tua menunjukkan kesabaran ketika menghadapi situasi sulit?
Apakah orang tua memanfaatkan waktu untuk ibadah dan refleksi?
Ataukah justru lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dan aktivitas yang tidak berkaitan dengan makna Ramadhan?

Psikolog perkembangan Albert Bandura sejak lama menjelaskan bahwa proses belajar melalui pengamatan (observational learning) merupakan mekanisme utama pembentukan perilaku anak. Anak meniru model yang mereka lihat paling dekat dan dalam konteks keluarga, model itu adalah orang tua. Dengan kata lain, perilaku orang tua selama Ramadhan adalah pelajaran hidup bagi anak-anaknya.

Tantangan Parenting di Era Digital

Generasi anak hari ini hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Teknologi digital menghadirkan hiburan tanpa batas dan stimulasi instan yang sering membuat anak sulit menikmati proses yang membutuhkan kesabaran.

Penelitian terbaru dari Common Sense Media (2023) menunjukkan bahwa anak-anak usia sekolah dasar rata-rata menghabiskan lebih dari dua hingga empat jam per hari di depan layar digital. Sementara laporan UNICEF Global Digital Overview (2024) juga menunjukkan bahwa paparan digital yang tinggi tanpa pendampingan keluarga dapat memengaruhi pembentukan kebiasaan, empati, dan kemampuan regulasi diri anak.

Dalam konteks ini, Ramadhan sebenarnya menawarkan latihan karakter yang sangat berharga. Puasa melatih anak untuk menunda kepuasan, mengendalikan emosi, dan memahami penderitaan orang lain. Namun nilai-nilai tersebut tidak akan muncul secara otomatis. Anak membutuhkan pengalaman nyata dan bimbingan keluarga untuk memahaminya.

Membangun Memori Spiritual Anak

Banyak orang dewasa masih mengingat dengan jelas pengalaman Ramadhan di masa kecil: suara orang tua membangunkan sahur, suasana hangat saat berbuka bersama, atau kebersamaan keluarga setelah shalat tarawih. Kenangan-kenangan itu bukan sekadar nostalgia. Ia sering menjadi fondasi emosional yang membentuk hubungan seseorang dengan nilai-nilai spiritual sepanjang hidupnya.

Penelitian tentang pendidikan keluarga menunjukkan bahwa pengalaman spiritual yang dialami anak dalam lingkungan keluarga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter, empati, dan identitas moral mereka. Karena itu, Ramadhan sebenarnya adalah kesempatan emas bagi orang tua untuk menciptakan memori spiritual yang bermakna bagi anak-anak mereka. Memori yang bukan hanya tentang makanan berbuka atau acara hiburan, tetapi tentang kebersamaan keluarga, kebaikan, dan kedekatan dengan Tuhan.

Alarm bagi Orang Tua

Ramadhan seharusnya menjadi momen refleksi, tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi keluarga. Bagi orang tua, bulan ini bisa menjadi pengingat penting tentang tanggung jawab mendidik karakter anak.

Jika Ramadhan hanya dijalani sebagai rutinitas tahunan, ada risiko bahwa nilai-nilai spiritual yang seharusnya diwariskan kepada generasi berikutnya justru perlahan memudar. Namun jika orang tua memanfaatkan Ramadhan sebagai ruang pendidikan keluarga, bulan ini dapat menjadi pengalaman pembelajaran yang sangat kuat bagi anak.

Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan oleh orang tua.

Pertama, menghadirkan teladan nyata. Anak tidak membutuhkan ceramah panjang, tetapi contoh perilaku yang konsisten. Kesabaran, kejujuran, dan kedisiplinan orang tua selama Ramadhan akan menjadi pelajaran yang paling kuat.

Kedua, membangun kebiasaan spiritual keluarga, seperti membaca Al-Qur’an bersama, berdiskusi tentang nilai kebaikan, atau melakukan kegiatan berbagi kepada orang yang membutuhkan.

Ketiga, mengurangi distraksi digital pada waktu-waktu tertentu, terutama saat sahur, berbuka, dan setelah ibadah. Waktu-waktu ini dapat menjadi ruang percakapan keluarga yang hangat dan bermakna.

Keempat, melibatkan anak dalam pengalaman sosial Ramadhan, seperti menyiapkan makanan untuk berbagi atau membantu kegiatan kemanusiaan di lingkungan sekitar.

Langkah-langkah sederhana ini mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya dapat bertahan jauh lebih lama dalam kehidupan anak.

Pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang menjalankan ibadah tahunan. Ramadhan adalah kesempatan bagi keluarga untuk menanamkan nilai-nilai yang akan membentuk karakter generasi berikutnya.

Dan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern hari ini, pertanyaan yang patut direnungkan oleh setiap orang tua adalah:

Apakah anak-anak kita hanya menjalani Ramadhan sebagai rutinitas, atau mereka benar-benar belajar maknanya? (*)

 

Editor : Arief
#Opini