Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ramadan dan Kepedulian Sosial

admin • Kamis, 5 Maret 2026 | 10:06 WIB

Prof. Dr. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag
Prof. Dr. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag

                Oleh: Prof. Dr. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag
                Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin

 Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern sering kali membuat kita terjebak dalam lingkaran kebutuhan pribadi. Datangnya Ramadan seperti angin segar yang menyegarkan kesadaran kita akan makna hubungan antarmanusia, bahwa hidup ini bukan hanya soal pribadi, tetapi juga soal kepedulian sosial. Oleh karena itu, Ramadan memiliki fungsi kepedulian sosial di ruang publik.

Ramadan, bulan penuh dengan pengendalian diri, refleksi diri, dan kehangatan bersama tidak hanya menjadi momen pribadi untuk mendekatkan diri pada nilai-nilai luhur, tetapi juga sebagai panggilan mendalam untuk melihat sekeliling kita, menyadarkan kita bahwa kebahagiaan sesungguhnya tidaklah berdiri sendiri, melainkan tumbuh subur ketika kita mampu menjadi bagian dari kebahagiaan orang lain.

Seperti sebuah matahari yang muncul setelah malam yang panjang, Ramadan membawa cahaya yang menerangi jalan menuju kehidupan penuh makna, di mana kepedulian sosial bukan lagi pilihan, melainkan bagian spirit spiritual dari cara kita menghargai keberadaan satu sama lain.

RAMADAN: KEPEDULIAN SOSIAL DAN KEMISKINAN

Kemiskinan berpotensi menyeret ke lembah kekufuran. Puasa Ramadan mengajak kita merasakan sedikit dari apa yang dialami oleh mereka yang hidup dalam kesulitan ekonomi. Ketika kita menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga senja, kita secara tidak langsung merasakan betapa berharganya setiap butir makanan dan setiap tetes air. Kesadaran ini menjadi landasan bagi kepedulian sosial yang nyata terhadap mereka, orang mukmin, yang berada dalam belenggu kemiskinan.

Mereka itulah saudara kita seiman dan seagama. “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara (Al-Hujurat:10). Sebagai saudara, kewajiban kita adalah mencintai dan membantu mereka untuk bangkit dari kemiskinan. Nabi Saw. bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (HR. Bukhari Muslim). Di Hadis lain Nabi memperingatkan: “Barang siapa yang tidak mencintai umat manusia, niscaya ia tidak dikasihi Allah (HR. Bukhari Muslim). Maka dari itu, “Jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara” (HR. Muslim).

 Ramadan mengingatkan kita bahwa kemiskinan bukan hanya masalah angka atau statistik, melainkan cerita kehidupan yang penuh balada, derita dan air mata. Setiap langkah kecil untuk membantu, baik dengan berbagi makanan sahur dan berbuka, memberikan pakaian layak pakai, atau membantu memenuhi kebutuhan dasar anak-anak sekolah, mampu membuat mereka tersenyum dan bahagia.

Lebih dari itu, kepedulian ini tidak hanya mengurangi beban fisik, tetapi juga menyembuhkan rasa terpinggirkan yang sering kali menyertai mereka dalam himpitan kesulitan ekonomi. Ketika kita datang dengan tangan terbuka, membangun jembatan penghubung yang menghilangkan dinding pemisah antara "kita" dan "mereka," dan menciptakan ruang ekososial, maka mereka semua merasa diterima dan dihargai sebagai bagian dari satu komunitas yang sama di ruang publik.

RAMADAN: EKOSOSIAL DAN KEBERKAHAN SOSIAL

Ramadan tidak hanya membentuk karakter individu, tetapi juga membangun ekososial yang penuh keberkahan. Ekososial adalah arena perlombaan dalam kebaikan. Sebuah ruang sosial terbuka bukan untuk berbuat dosa, tetapi menyemai kebaikan untuk menolong sesama agar bermanfaat bagi sesama. "Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan" (Al-Ma'idah ayat 2). Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk berkolaborasi dalam kebaikan dan melarang membantu perbuatan maksiat. 

Ekososial yang kita bangun selama bulan suci ini berdasarkan prinsip saling membantu, kerja sama, dan gotong royong yang melampaui batasan kelompok atau latar belakang. Setiap aktivitas sosial yang dilakukan dengan niat baik dan ikhlas, mulai dari mengorganisir acara berbuka bersama untuk tetangga, membantu membersihkan lingkungan sekitar, hingga mendukung usaha kecil-kecilan yang kesulitan berkembang, menciptakan efek domino yang positif bagi seluruh komunitas.

 Keberkahan sosial dalam Ramadan terasa dalam setiap senyuman yang muncul ketika makanan dibagikan, dalam setiap suara tawa yang terdengar ketika orang-orang berkumpul bersama, dan dalam setiap langkah maju yang diraih oleh komunitas karena kerja sama yang erat.

Ekososial yang tumbuh selama Ramadan tidak hanya bertahan dalam Ramadan, tetapi juga menjadi benih yang tumbuh menjadi kebiasaan yang baik dan terus berkembang sepanjang tahun. Setiap tindakan kebaikan yang kita lakukan menjadi bagian dari jaring yang kuat yang mengikat kita satu sama lain, membuat komunitas kita lebih tangguh dan penuh kasih sayang menghadapi segala tantangan kehidupan.

RAMADAN: CAHAYA SPIRITUAL DI KEGELAPAN EMPATI SOSIAL

Di era di mana kita sering kali lebih dekat dengan layar ponsel daripada dengan orang di sebelah kita, empati sosial terkadang terasa seperti sesuatu yang sulit ditemui, seolah kita berada dalam kegelapan yang membuat kita sulit melihat penderitaan atau kebutuhan orang lain.

Ramadan datang sebagai cahaya spiritual yang menerangi jalan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang perasaan dan kondisi orang di sekitar kita. Tradisi saling memberi makanan antar tetangga dalam kehidupan sehari-hari adalah contoh nyata kepedulian sosial, cahaya spiritual, semakin meneguhkan keakraban bertetangga ketika lebih semarak dilakukan di bulan Ramadan.

 Cahaya spiritual Ramadan itu muncul bukan dari luar, melainkan dari dalam diri kita yang telah disadarkan kembali tentang nilai-nilai luhur kemanusiaan. Ketika kita berpuasa, kita belajar untuk mengendalikan hawa nafsu dan melihat dunia dengan pandangan yang lebih jernih, mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, memahami apa yang mereka butuhkan, dan merasa terdorong untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Empati yang tumbuh dalam hati selama Ramadan bukan hanya rasa kasihan semata, melainkan kesadaran bahwa nasib kita saling terikat dalam bingkai “ekosistem sosial-psikologis.” Setiap kali kita memilih untuk memahami dan membantu, kita menerangi sudut kegelapan dalam kehidupan orang lain, sekaligus menerangi jalan kita sendiri menuju kedewasaan spiritual yang lebih dalam.

Bulan Ramadan penuh berkah telah membawa kita pada perjalanan penyadaran bahwa kepedulian sosial adalah inti dari kehidupan bermakna. Dari perhatian kita terhadap mereka yang hidup dalam kemiskinan, hingga pembangunan ekososial yang penuh keberkahan, serta penyebaran cahaya empati ketika ada orang yang membutuhkan uluran tangan kita, semuanya menjadi bagian dari warisan indah yang kita bawa setelah bulan suci berlalu nanti.

Demikianlah. Ramadan adalah cahaya spiritual di kegelapan empati sosial. Cahayanya mampu menerangi kegelapan hati. Ketika hati telah disinari ruh Rabbaniyah (ruh ketuhanan) keberkahan sosial hadir dalam bingkai ekososial. Ketika rasa senasib sepenanggungan hadir, kemiskinan, insya Allah, semakin memudar. Berkah Ramadan bukanlah isapan jempol ketika semangat berbagi bagian dari laba-laba ekososial-psikologis.

Akhirnya, berbagi itu indah, seindah Ramadan yang berkah. Yang saya khawatirkan, apakah kita termasuk orang yang senang berbagi? Jika tidak, maka ada yang tidak beres dengan hati kita. Trims. (*)

Editor : Arief
#Opini #ramadan