Oleh: Bihman, S.Ag
Guru MTsN 3 Tanah Bumbu
Bulan suci Ramadhan merupakan bulan berbasis Tarbiatul Nafsi, dimana bulan ini sebagai wadah penggodokann (diklat) spiritualitas bagi umat Islam yang dikategorikan beriman karena didalamnya terdapat proses dan rangkaian ibadah yaitu ibadah puasa wajib dan melaksanakan ibadah-ibadah sunah di siang hari maupun pada malam harinya seperti tadarus Al-Qur’an, qiyamul lail, infaq, shadaqah maupun mengeluarkan zakat fitrah diakhir Ramadhan yang kesemuanya akan diberikan nilai pahala yang berlipat ganda oleh Allah bagi mereka yang melaksanakannya
Pelaksanaan bebrbagai bentuk ibadah di bulan suci ramadhan ini adalah upaya untuk menyucikan jiwa, membimbing tatanan batin manusia agar dapat mewujudkan kepribadian takwa, bersikap ikhlas,, sabar, jujur, istiqamah, qanaah, tawadhu’ dan memiliki jiwa sosial serta solidaritas sehingga terhindari dari sifat tidak peduli, sombong, kikir dan prilaku buruk lainya.
Pada bulan suci Ramadhan ini yang dianugerahkan oleh Allah sebagai sarana pelaksanaan dan penerapan tarbiyatun nafs bagi kamum muslimin yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Di bulan inilah telah disiapkan modul-modul pendidikan jiwa untuk membentuk karakter dan kepribadian manusia agar lebih baik dan punya nilai di sisi Allah sebagai penguasa alam semesta.
Bertujuan untuk membentuk ketaatan dan kebersihan jiwa maka Ramadhan hadir sebagai penyemangat kaum uslimin untuk beribadah kepada Allah Swt secara istiqamah. Sebagai khalifah di muka bumi yang memahami tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan amanah tersebut sehingga eksistensinya memberikan kemanfaatan dan masalahatan bagi kehidupan sosial umat manusia.
Sebagai bulan Tarbiyatul Nafsi bulan Ramadhan didaulat sebagai wahana yang efektif untuk pendidikan nafsi, yakni memberikan pendidikan bagaimana menjadi pribadi muslim yang orientasinya adalah membersihkan nafsi manusia dari segala bentuk kesalahan dan dosa kepada Allah.
Hal ini sangat penting sebab pada hakikatnya manusia terlahir dalam keadaan fitrah penuh kesucian tanpa nda dan dosa. Kondisi ideal tersebut tentnunya menempatkan manusia senantiasa terus berupaya dengan bimbingan agama untuk tetap memelihara kesucian fitrahnya melalui sarana ibadah di bulan suci ramadhan ini.
Kehadiran bulan suci Ramadhan tentu menjadi sarana mengantarkan manusia untuk menyucikan jiwa agar kembali kepada hakikat diri manusia yang fitri tersebut. Dengan demikian bualn Ramadhan sebagai salah satu bulan yang dimuliakan ini tentu identik sbagai Tarbiyatul Nafsi.
Apa itu Tabiyatul Nafsi
Tarbiyatun Nafs diartikan sebagai pendidikan yakni berfungsi sebagai wadah pembinaan dan pengembangan jiwa manusia untuk lebih mengenal Allah Swt. Tarbiyatul Nafs yang dibisa disbutjuga dengan istilah Tazkiyatun Nafs. Salah satu kajian dalam pendidikan Islam untuk membangun kerangka pemahaman tentang hakikat dan fungsi manusia dalam beribadah kepada Allah Swt sekalihus sebagai sarana untuk memelihara hubungan baik dengan sesama umat manusia.
Nafsi sebagai salah satu potensi yang dianugrahkan Allah kepada manusia adalah aspek yang paling dalam pada dimensi manusia. Oleh sebab tazkiyatun nafs juga berfungsi sebagai sarana pembentukan dan pengembangan karakter dan transformasi dari persoalan manusia, dimana seluruh unsur kehidupan memainkan peranan penting dalam seluruh prosesnya. Dalam posisi ini manusia berupaya untuk menyucikan nafsnya agar selalu dalam jalur keberuntungan dan sebailiknya seseorang yang mengotorinya tentu akan rugi.
Ibadah puasa yang dilaksanakan pada bulan ramadhan mempunyai tujuan yang sangat fundamental yakni sebagai alat untuk pengendalian diri sebagaimana yang disetir dalam Al-Qur’an ( Al-baqarah : 183 ) yang tujuan akhirnya adalah mengunci ketaqwaan. Sebuah tujuan yang dikehendaki oleh Allah pada setiap hamba-hamba-Nya.
Penghayatan makna puasa memerlukan pemahaman terhadap dua hal pokok yaitu hakikat manusia dan kewajibannya sebagai khalifah di muka bumi. Dengan berpuasa, manusia berupaya untuk mengembangkan potensi ruhaninya agar bisa membentuk diri sesuai dengan apa yang telah Allah ciptakan. Bila pola tersebut telah terbentuk maka berarti dia membangun dan memakmurkan bumi ini, sehingga pada akhirnya bumi ini akan yang penuh dengan kedamaian hidup.
Pada dasarnya ramadhan adalah pendidikan hati yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter manusia. Ada beberapa aspek yang mendasar dalam peran pendidikan hati guna membentuk karakter manusia, yaitu : Pertama pembentukan kesadaran nilai akan kejujuran. Ibadah puasa mengajarkan tentang kejujuran itu secara spesifik dan naluriah. Sebab puasa hanya urusan antara seorang hamba dengan tuhannya. Orang lain tidak akan mengetahui apakah seseorang itu puasa atau tidak. Karena puasa tidaknya hanya yang bersangkutan mengetahui secara pasti. Ada saja orang yang kelihatan begitu layu, lemas, pucat akan tetapi hanya sekedar mengelabui orang lain yang melihatnya sehingga menganggap dia namun sesungguhnya dia tidak puasa. Atau sebaliknya orang kelihatan begitu segar, gagah nakan bekerja penuh semangat akan tetapi sesungguhnya yang bersangkutan sedang berpuasa. Disinilah peran kejujuran itu sangat berperan yang menjadi tolok ukurnya.
Kedua, membentuk karakter keikhlasan yang menjadi modal dalam menerima segala sesuatu tanpa protes karena yakin segalanya memang berdasarkan analisis yang akurat dari Allah swt sehingga pemahaman tentang qada dan qadr itu telah punya tempat yang mantap. Dengan puasa seseorang bisa menerima keikhlasan secara mutlak tanpa dipaksakan. Hal itu bisa dilihat ketika seseorang telah berniat untuk puasa maka secara otomatis dia telah menyanggupi segala konsekuensi dari ibadah puasa.
Ketiga, membentuk kesabaran. Dalam konsep tarbiyatul nafs kesabaran memang sangat diperlukan dalam kehidupan di segala aspek. Puasa adalah diklat untuk membangun kesabaran ini. Pada pola penerapannya, puasa baru akan boleh dibatalkan atau berbuka mana kala waktu berbuka itu telah tiba. Kalau belum waktunya maka harus menunggu waktu itu tiba.
Pola pembentukan karakter sabar ini tidak saja ketika berbuka, akan tetapi juga diterapkan pada tindakan lainnya, seperti saat berbuka tidak diperkenankan untuk terlalu berlebihan. Atau pada saat membeli bahan makanan untuk berbuka tidak memborong. Atau kita diajarkan untuk bagaimana manahan diri agar tidak melaukan hal-hal yang bisa membatalkan pahala puasa seperti, berdusta, ghibah, namimah ataupun perkataan lain yang menagakibatkan gugurnya pahala puasa.
Keempat, Istiqamah. Dalam bulan suci Ramadhan hendaknya setiap amal ibadah senantiasa dilakukan secara istiqamah, artinya setiap amal ibadah yang dilakukan itu tidak hanya sesaat akan tetapi hendaknya dilaksanakan secara terus menerus. Bahkan efeknya sangat diharapkan setelah selesai bulan suci Ramadhan. Bila itu terus terjaga maka nilai taqwa itu akan bisa diraih. Karena sesungguhnya hasil puasa Ramadhan kana terlihat 11 bulan berikutnya.
Melalui proses pendidikan ramadhan yang dilakukan dengan strategi yang terpadu, dimulai dari proses tazkiyah yaitu mengikis penyakit hati dan mengganti dengan sifat baik, proses penanaman kecintaan pada kebaikan dan benci terhadap kejahatan.
Dengan demikian melalui ibadah bulan suci ramadhan, manusia akan selalu mendapatkan berbagai kebaikan dan memperkuat mental spiritual serta memperbanyak amalan ibadah praktis. Di bulan suci ini manusia akan merasakan suasana hati yang dihiasi oleh iman dan takwa kepada Allah Swt, yang berdampak pada perubahan sikap dan prilaku yang terpuji, membersihkan pikiran sehingga sifat-sifat dan prilaku manusia yang terpuji, jujur, sabar, ikhlas, berjiwa sosial menyatu dengan nilai-nilai ajaran Islam. (*)
Editor : Arief