Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ramadan Bulan Tarbiyatul Nafs

admin • Kamis, 5 Maret 2026 | 09:55 WIB

Bihman, S. Ag
Bihman, S. Ag

           Oleh: Bihman, S.Ag
           Guru MTsN 3 Tanah Bumbu

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan berbasis Tarbiatul Nafsi, dimana bulan ini sebagai wadah penggodokann (diklat)  spiritualitas bagi umat Islam  yang dikategorikan beriman karena didalamnya terdapat proses dan  rangkaian ibadah yaitu ibadah puasa wajib dan melaksanakan ibadah-ibadah sunah di siang hari maupun pada malam  harinya seperti tadarus Al-Qur’an, qiyamul lail, infaq, shadaqah maupun  mengeluarkan zakat fitrah  diakhir  Ramadhan  yang kesemuanya  akan diberikan nilai  pahala  yang berlipat ganda oleh  Allah  bagi mereka yang melaksanakannya

Pelaksanaan  bebrbagai  bentuk ibadah di bulan suci ramadhan ini  adalah  upaya untuk menyucikan jiwa, membimbing tatanan batin manusia agar  dapat mewujudkan kepribadian takwa, bersikap ikhlas,, sabar, jujur, istiqamah, qanaah, tawadhu’ dan memiliki jiwa sosial  serta  solidaritas  sehingga  terhindari dari  sifat   tidak peduli, sombong, kikir dan prilaku buruk lainya.

Pada bulan suci Ramadhan ini yang dianugerahkan oleh Allah  sebagai sarana pelaksanaan dan penerapan tarbiyatun nafs bagi  kamum  muslimin yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Di bulan inilah telah disiapkan modul-modul  pendidikan jiwa untuk  membentuk karakter dan kepribadian manusia agar  lebih baik  dan punya nilai di sisi Allah sebagai  penguasa alam semesta.

Bertujuan untuk membentuk ketaatan dan kebersihan jiwa maka Ramadhan  hadir  sebagai  penyemangat  kaum uslimin untuk beribadah kepada Allah Swt  secara istiqamah. Sebagai khalifah di muka  bumi  yang memahami tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan  amanah  tersebut  sehingga eksistensinya memberikan  kemanfaatan dan masalahatan  bagi kehidupan sosial umat manusia.

Sebagai bulan Tarbiyatul Nafsi bulan Ramadhan didaulat sebagai  wahana yang efektif untuk  pendidikan nafsi, yakni memberikan pendidikan bagaimana menjadi   pribadi muslim yang orientasinya adalah  membersihkan nafsi manusia dari segala bentuk  kesalahan   dan dosa kepada Allah.

Hal ini sangat penting sebab  pada hakikatnya manusia terlahir dalam keadaan fitrah penuh  kesucian tanpa nda dan dosa.  Kondisi  ideal tersebut  tentnunya menempatkan manusia  senantiasa terus berupaya dengan  bimbingan agama  untuk tetap  memelihara kesucian fitrahnya  melalui sarana ibadah di bulan suci ramadhan ini.

Kehadiran bulan suci Ramadhan  tentu menjadi sarana mengantarkan manusia untuk menyucikan jiwa agar kembali kepada hakikat diri manusia yang fitri tersebut. Dengan demikian bualn Ramadhan sebagai salah satu  bulan yang dimuliakan ini tentu identik  sbagai Tarbiyatul Nafsi.

 Apa itu Tabiyatul Nafsi

Tarbiyatun Nafs  diartikan sebagai pendidikan yakni berfungsi sebagai wadah pembinaan dan pengembangan jiwa manusia untuk lebih mengenal Allah Swt. Tarbiyatul Nafs yang dibisa disbutjuga dengan istilah  Tazkiyatun Nafs. Salah satu kajian  dalam pendidikan Islam untuk membangun kerangka pemahaman tentang  hakikat dan fungsi manusia dalam beribadah kepada Allah Swt sekalihus  sebagai sarana untuk  memelihara hubungan baik dengan sesama umat manusia.

Nafsi  sebagai salah satu potensi yang dianugrahkan Allah kepada manusia adalah aspek yang  paling dalam pada dimensi manusia. Oleh sebab tazkiyatun nafs juga berfungsi sebagai sarana pembentukan dan  pengembangan karakter  dan transformasi dari persoalan manusia, dimana seluruh unsur kehidupan memainkan peranan penting dalam seluruh prosesnya. Dalam posisi ini manusia berupaya untuk menyucikan nafsnya agar  selalu dalam jalur keberuntungan  dan sebailiknya seseorang yang mengotorinya tentu akan rugi.

Ibadah puasa yang dilaksanakan pada bulan ramadhan mempunyai tujuan yang sangat fundamental yakni sebagai alat untuk pengendalian diri  sebagaimana  yang disetir dalam Al-Qur’an ( Al-baqarah : 183 ) yang tujuan akhirnya  adalah  mengunci ketaqwaan. Sebuah tujuan  yang dikehendaki  oleh Allah pada setiap hamba-hamba-Nya.

Penghayatan makna puasa memerlukan pemahaman terhadap dua hal pokok yaitu hakikat manusia dan kewajibannya sebagai khalifah di muka bumi. Dengan berpuasa, manusia berupaya untuk  mengembangkan potensi ruhaninya agar bisa membentuk diri sesuai dengan apa yang telah Allah ciptakan. Bila pola tersebut telah terbentuk  maka  berarti  dia membangun dan memakmurkan bumi ini, sehingga pada akhirnya bumi ini akan yang penuh dengan kedamaian hidup.

Pada  dasarnya ramadhan adalah pendidikan hati yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter manusia. Ada beberapa aspek yang mendasar dalam peran pendidikan hati  guna membentuk karakter manusia, yaitu :  Pertama pembentukan kesadaran nilai akan  kejujuran. Ibadah puasa mengajarkan tentang kejujuran itu secara spesifik dan naluriah.  Sebab puasa  hanya urusan  antara seorang  hamba  dengan tuhannya. Orang lain tidak akan mengetahui apakah seseorang itu  puasa atau  tidak. Karena puasa tidaknya hanya  yang bersangkutan  mengetahui secara pasti. Ada saja orang  yang kelihatan begitu layu, lemas, pucat akan tetapi hanya sekedar mengelabui orang lain  yang melihatnya sehingga menganggap dia  namun sesungguhnya  dia tidak puasa. Atau sebaliknya orang kelihatan begitu segar, gagah nakan  bekerja penuh semangat akan tetapi sesungguhnya yang  bersangkutan sedang berpuasa. Disinilah peran kejujuran  itu sangat berperan yang menjadi tolok ukurnya.

Kedua, membentuk  karakter keikhlasan  yang menjadi  modal dalam menerima segala sesuatu tanpa protes karena  yakin segalanya  memang berdasarkan analisis yang akurat dari Allah swt sehingga pemahaman tentang qada dan qadr  itu telah punya tempat  yang mantap. Dengan puasa  seseorang bisa menerima keikhlasan secara mutlak  tanpa dipaksakan. Hal itu bisa dilihat ketika  seseorang telah berniat untuk puasa maka secara otomatis dia telah menyanggupi segala konsekuensi dari ibadah puasa.

 Ketiga, membentuk  kesabaran. Dalam konsep tarbiyatul  nafs kesabaran memang  sangat diperlukan dalam kehidupan di segala aspek. Puasa adalah diklat untuk membangun kesabaran ini. Pada pola penerapannya, puasa baru akan boleh dibatalkan  atau berbuka mana kala  waktu berbuka itu telah tiba. Kalau belum waktunya maka  harus  menunggu waktu  itu  tiba.

Pola pembentukan karakter  sabar  ini tidak saja  ketika berbuka, akan tetapi juga  diterapkan pada tindakan lainnya, seperti saat berbuka  tidak diperkenankan untuk terlalu berlebihan. Atau pada saat membeli bahan makanan untuk  berbuka tidak memborong. Atau kita diajarkan  untuk bagaimana  manahan diri agar tidak melaukan hal-hal  yang bisa membatalkan pahala puasa seperti, berdusta, ghibah, namimah ataupun perkataan lain yang menagakibatkan gugurnya pahala puasa.

Keempat,  Istiqamah. Dalam  bulan suci Ramadhan hendaknya setiap amal ibadah senantiasa dilakukan secara istiqamah, artinya setiap amal ibadah  yang dilakukan itu tidak  hanya sesaat akan tetapi hendaknya dilaksanakan secara terus menerus. Bahkan efeknya  sangat  diharapkan setelah selesai bulan suci Ramadhan. Bila itu  terus terjaga  maka  nilai taqwa  itu akan bisa diraih. Karena sesungguhnya  hasil puasa Ramadhan kana terlihat 11 bulan  berikutnya.

Melalui proses pendidikan ramadhan yang dilakukan dengan strategi yang terpadu, dimulai dari proses tazkiyah yaitu mengikis penyakit hati dan mengganti dengan sifat baik, proses  penanaman  kecintaan pada kebaikan dan benci  terhadap kejahatan.

            Dengan demikian melalui ibadah bulan suci ramadhan, manusia akan selalu mendapatkan berbagai kebaikan dan memperkuat mental spiritual  serta memperbanyak amalan ibadah praktis. Di bulan suci ini manusia akan merasakan suasana hati yang dihiasi oleh iman dan takwa kepada Allah Swt, yang berdampak pada perubahan sikap dan prilaku yang terpuji,  membersihkan pikiran sehingga sifat-sifat dan prilaku manusia yang terpuji, jujur, sabar, ikhlas, berjiwa sosial menyatu dengan nilai-nilai  ajaran Islam. (*)




 


 

 



 

 

 

Editor : Arief
#Opini