Oleh: Ahmad Syawqi
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin
Hari Pekerja Nasional yang diperingati setiap 20 Februari tahun 2026 ini hadir dalam suasana yang berbeda. Ia bersamaan dengan bulan suci Ramadhan bulan ketika ritme hidup umat Islam melambat secara fisik, tetapi justru dipercepat secara spiritual. Di satu sisi, tubuh menahan lapar dan dahaga; di sisi lain, dunia kerja tak pernah benar-benar berhenti. Target tetap dikejar, laporan tetap dituntut, notifikasi tetap berdentang tanpa jeda. Di tengah perburuan produktivitas yang semakin agresif, puasa menjadi ujian: bukan hanya bagi individu pekerja, tetapi juga bagi sistem kerja itu sendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap kerja berubah drastis. Digitalisasi, otomasi, dan kecerdasan buatan mengubah cara kita bekerja, berkomunikasi, dan dinilai. Produktivitas kini tidak lagi sekadar soal hadir tepat waktu atau menyelesaikan tugas, melainkan soal data, kecepatan respons, dan performa yang bisa diukur setiap detik. Platform digital memampukan perusahaan memantau kinerja secara real time. Aplikasi kolaborasi membuat batas antara jam kerja dan jam pribadi semakin kabur. Pekerjaan menjadi “selalu aktif” bahkan ketika tubuh sedang berpuasa dan jiwa sedang berusaha menata ulang makna hidup.
Di sinilah ironi itu muncul. Ramadhan mengajarkan pengendalian diri, kesadaran batin, dan empati sosial. Sementara sistem kerja modern cenderung mendorong percepatan tanpa henti, kompetisi tanpa ruang hening, serta efisiensi tanpa banyak refleksi. Puasa mengajak kita memperlambat; sistem memaksa kita mempercepat. Puasa mengajarkan kesabaran; algoritma menuntut kecepatan. Puasa menumbuhkan kepekaan; pasar sering kali menajamkan ambisi.
Dalam perburuan produktivitas, manusia kerap direduksi menjadi angka. Indikator kinerja utama, grafik pertumbuhan, dan laporan evaluasi menjadi bahasa utama relasi kerja. Padahal, di balik setiap angka ada manusia dengan tubuh yang lelah dan jiwa yang mencari makna. Ramadhan seharusnya menjadi pengingat bahwa kerja bukan sekadar transaksi tenaga dengan upah, melainkan juga bagian dari ibadah amal yang bernilai jika dilakukan dengan niat dan etika yang benar.
Namun, pertanyaannya: apakah sistem kerja kita memberi ruang bagi nilai-nilai itu? Apakah perusahaan memberi kelonggaran ritme di bulan puasa, atau justru menuntut performa yang sama bahkan lebih tinggi karena target kuartal tak boleh terganggu? Apakah fleksibilitas kerja dimanfaatkan untuk menjaga keseimbangan, atau malah menjadi alat untuk memperpanjang jam kerja tanpa batas?
Di era digital, batas antara rumah dan kantor semakin tipis. Bekerja dari rumah tidak selalu berarti beban berkurang. Justru, banyak pekerja terjebak dalam pola “selalu tersedia”. Notifikasi pesan kerja masuk saat sahur, email berdatangan menjelang berbuka, rapat daring memanjang hingga malam hari. Sistem tak pernah jeda. Padahal, puasa mengajarkan jeda, jeda dari makan, jeda dari amarah, jeda dari dorongan konsumtif.
Perburuan produktivitas sering kali berangkat dari asumsi bahwa semakin banyak output, semakin besar nilai seseorang. Padahal, nilai kerja tidak hanya ditentukan oleh kuantitas, tetapi juga kualitas dan etika. Ramadhan menekankan kejujuran, integritas, dan tanggung jawab. Dalam konteks kerja, ini berarti menolak manipulasi data, menolak eksploitasi tenaga, serta menolak budaya lembur yang dianggap sebagai bukti loyalitas.
Hari Pekerja Nasional semestinya menjadi momentum refleksi bersama: apakah kita sedang membangun sistem kerja yang manusiawi, atau sekadar mesin produksi yang canggih? Teknologi pada dasarnya netral. Ia bisa membebaskan pekerja dari tugas-tugas repetitif, tetapi juga bisa menjadi alat kontrol yang ketat. Ia bisa membuka peluang kerja baru, tetapi juga menciptakan ketidakpastian bagi mereka yang tidak siap beradaptasi. Di tengah perubahan ini, pekerja sering berada pada posisi rentan yang dituntut adaptif, tetapi tidak selalu diberi dukungan yang memadai.
Ramadhan menghadirkan perspektif berbeda tentang produktivitas. Dalam puasa, produktivitas tidak selalu berarti lebih cepat atau lebih banyak, tetapi lebih bermakna. Satu pekerjaan yang dilakukan dengan niat baik dan cara yang benar bisa lebih bernilai daripada serangkaian tugas yang dikerjakan tergesa-gesa tanpa integritas. Spirit ini relevan untuk menantang paradigma kerja modern yang terlalu memuja kecepatan.
Produktivitas yang berorientasi semata pada hasil material berisiko mengikis kemanusiaan. Kita melihat meningkatnya kelelahan mental, burnout, dan tekanan psikologis di berbagai sektor. Banyak pekerja merasa terjebak dalam siklus target tanpa akhir. Dalam konteks ini, puasa bisa menjadi ruang pemulihan, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga secara etis. Ia mengingatkan bahwa manusia bukan mesin, dan kerja bukan sekadar perlombaan.
Tentu, kritik terhadap perburuan produktivitas bukan berarti menolak kemajuan. Dunia usaha tetap membutuhkan efisiensi dan daya saing. Namun, efisiensi tidak boleh mengorbankan martabat. Daya saing tidak boleh dibangun di atas kelelahan berkepanjangan. Perusahaan bisa memanfaatkan teknologi untuk menciptakan sistem kerja yang lebih fleksibel, lebih adil, dan lebih peduli pada kesejahteraan karyawan. Pengaturan jam kerja yang lebih manusiawi di bulan Ramadhan, misalnya, bukanlah bentuk kemalasan, melainkan pengakuan atas realitas fisik dan spiritual pekerja.
Lebih jauh, perburuan produktivitas sering kali berkaitan dengan budaya konsumsi. Kita bekerja lebih keras untuk memenuhi gaya hidup yang semakin mahal. Iklan dan media sosial membentuk standar keberhasilan yang materialistik. Ramadhan justru mengajarkan kesederhanaan. Ia mengajak kita menahan diri dari konsumsi berlebihan. Jika nilai ini diterapkan dalam dunia kerja, mungkin kita tidak perlu terus-menerus meningkatkan target demi mengejar keuntungan tanpa batas.
Hari Pekerja Nasional di bulan Ramadhan menjadi pertemuan antara dua dunia: dunia kerja yang kompetitif dan dunia spiritual yang kontemplatif. Keduanya tidak harus bertentangan. Kerja bisa menjadi ibadah, dan ibadah bisa memberi arah pada kerja. Namun, itu hanya mungkin jika sistem memberi ruang bagi nilai-nilai kemanusiaan.
Akhirnya, puasa di tengah perburuan produktivitas adalah ujian kolektif. Ia menguji ketahanan fisik pekerja, tetapi juga menguji kepekaan moral perusahaan dan negara. Apakah kita berani mengakui bahwa produktivitas tanpa empati adalah kekosongan? Apakah kita siap membangun budaya kerja yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga matang secara spiritual?
Di tengah lapar dan dahaga, pekerja tetap berkarya. Di balik layar komputer dan mesin produksi, ada manusia yang menahan diri, menata niat, dan berharap pekerjaannya bernilai di hadapan Tuhan. Semoga Hari Pekerja Nasional kali ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga momentum untuk menata ulang makna produktivitas agar ia tidak lagi sekadar perburuan angka, melainkan perjalanan menuju keberkahan. (*)
Editor : Arief