Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Menakar Kecerdasan Gen Z

admin • Jumat, 27 Februari 2026 | 22:42 WIB

Hery Purnobasuki
Hery Purnobasuki

         Oleh: Hery Purnobasuki
         Dosen FST Universitas Airlangga

Generasi Z, mereka yang lahir dari akhir 1990-an hingga awal 2010-an kini menjadi kekuatan demografis yang menentukan arah masa depan Indonesia. Sebagian masih berada di bangku sekolah, sementara yang lain mulai memasuki dunia kerja dan menjadi konsumen utama. Cara mereka berpikir, bekerja, dan memandang kehidupan perlahan membentuk wajah sosial, ekonomi, dan budaya bangsa. Pertanyaannya, apakah generasi yang tumbuh bersama teknologi digital ini benar-benar lebih siap menghadapi masa depan atau justru sebaliknya?

Perdebatan itu menguat setelah muncul temuan yang menyebut Generasi Z sebagai generasi pertama yang mengalami penurunan kecerdasan dibanding pendahulunya, Milenial. Neurosaintis Jared Cooney Horvath mengaitkan tren tersebut dengan ketergantungan berlebihan pada teknologi pendidikan. Ia menunjukkan bahwa meskipun waktu belajar di sekolah meningkat, kemampuan kognitif justru menurun, dengan pola yang mulai terlihat sejak sekitar 2010 dan terjadi di banyak negara. Dalam pandangannya, semakin luas teknologi digital digunakan di ruang kelas, kinerja pembelajaran justru cenderung melemah.

Namun, persoalannya tidak sesederhana menyalahkan teknologi. Generasi Z lahir di tengah perubahan besar: digitalisasi cepat, tekanan sosial baru, dan sistem pendidikan yang juga terus beradaptasi. Teknologi bukan sekadar alat hiburan, tetapi juga ruang belajar, bekerja, dan berinteraksi. Karena itu, memahami Generasi Z tidak cukup hanya melalui ukuran kecerdasan semata, melainkan melalui konteks sosial dan ekonomi yang membentuk mereka, terutama di Indonesia, tempat generasi ini sedang bergerak menuju peran strategis dalam struktur tenaga kerja dan pembangunan nasional.

Di Indonesia, Generasi Z tumbuh dalam lanskap sosial ekonomi yang tidak sederhana. Ketimpangan, tekanan biaya hidup, dan ketidakpastian kerja menjadi realitas sehari-hari. Banyak di antara mereka, terutama yang menopang orang tua sekaligus membantu keluarga harus menghadapi situasi “generasi sandwich” sejak usia muda. Satu sumber penghasilan sering kali tidak cukup. Survei 2023 menunjukkan sebagian besar Gen Z Indonesia memiliki pekerjaan sampingan demi menjaga stabilitas finansial.

Di sisi lain, mereka memprioritaskan keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi serta kesehatan mental. Perusahaan yang tidak peka terhadap isu ini cenderung ditinggalkan. Bagi Gen Z, karier bukan sekadar soal pendapatan, melainkan juga makna dan ruang bertumbuh. Pola pikir ini berbeda dari generasi sebelumnya yang lebih menekankan stabilitas jangka panjang.

Kedekatan mereka dengan teknologi juga membentuk karakter unik. Rata-rata waktu daring yang tinggi, sekitar enam jam per hari di media sosial, tidak hanya dipakai untuk hiburan, tetapi juga untuk bekerja, berbelanja, membangun jejaring, hingga membentuk pandangan politik. Media sosial menjadi ruang sosial sekaligus ekonomi. Namun, intensitas ini membawa konsekuensi: ekspektasi sosial yang tinggi, tekanan pencitraan, dan paparan perbandingan tanpa henti.

Generasi ini juga tumbuh dalam masa penuh gejolak: pandemi COVID-19, krisis ekonomi, konflik global, serta perubahan politik yang cepat. Tekanan tersebut memperkuat rasa cemas terhadap masa depan. Laporan Indonesia Gen Z Report 2024 menunjukkan 60 persen Gen Z merasa kesenjangan sosial dan ekonomi berdampak besar pada hidup mereka. Upah rata-rata kelompok usia 15–19 tahun sekitar 1,68 juta rupiah per bulan, sementara usia 20–24 tahun sekitar 2,28 juta rupiah. Angka yang membuat akses pendidikan tinggi, kepemilikan properti, dan tabungan jangka panjang terasa jauh.

Masalah kesehatan mental pun mencuat. Survei McKinsey Health Institute menunjukkan Gen Z lebih sadar akan isu ini dibanding generasi sebelumnya. Di Indonesia, survei I-NAMHS 2022 mencatat 1 dari 20 remaja usia 10–17 tahun mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Ironisnya, kesadaran meningkat, tetapi akses layanan kesehatan mental, terutama di daerah masih terbatas. Tekanan digital memperumit keadaan. Meski 89 persen Gen Z merasa nyaman dengan perlindungan data saat ini, literasi privasi dan etika digital belum sepenuhnya kuat, membuat mereka rentan terhadap perundungan daring dan penyalahgunaan data.

Dengan tantangan sebesar itu, apakah Generasi Z hanya akan dikenang sebagai generasi yang tertekan? Ataukah justru tekanan inilah yang membentuk daya tahan dan daya cipta mereka?

Di balik tekanan yang mereka hadapi, Generasi Z justru menunjukkan energi baru yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Banyak dari mereka memiliki semangat kewirausahaan yang kuat. Alih-alih menunggu peluang, mereka menciptakannya sendiri melalui bisnis kecil, pekerjaan lepas, maupun ekonomi digital. Pola pikir ini melahirkan pendekatan kerja yang lebih adaptif, kreatif, dan berbasis solusi.

Kedekatan mereka dengan teknologi juga mendorong kontribusi nyata pada inovasi. Generasi ini tumbuh bukan hanya sebagai pengguna, tetapi juga pencipta. Minat pada kecerdasan buatan, keamanan siber, dan platform digital melahirkan banyak pengembang muda, startup, serta solusi teknologi yang relevan dengan kebutuhan zaman. Di tengah keterbatasan, mereka tetap menunjukkan kemampuan beradaptasi yang tinggi.

Gen Z juga berada di garis depan perubahan sosial. Media sosial bukan sekadar ruang ekspresi, tetapi alat mobilisasi. Mereka mengangkat isu perubahan iklim, kesetaraan, dan kesehatan mental dengan cara yang langsung, cepat, dan masif. Aktivisme digital mereka memengaruhi opini publik, bahkan mendorong perubahan kebijakan dan praktik organisasi. Gaya kepemimpinan yang muncul pun berbeda: lebih kolaboratif, empatik, dan transparan.

Sejumlah figur muda memperlihatkan potensi tersebut. Greta Thunberg menjadi simbol global perjuangan iklim, Malala Yousafzai memperjuangkan pendidikan, sementara wirausaha teknologi muda dari Indonesia mulai menunjukkan bahwa inovasi tidak lagi dimonopoli negara besar. Contoh-contoh ini menggambarkan bahwa usia bukan lagi penghalang untuk memimpin dan memberi dampak.

Karena itu, pertanyaan terpenting bukan apakah Generasi Z mampu, melainkan bagaimana mereka dikelola dan diberdayakan. Jika diarahkan dengan tepat, generasi ini dapat menjadi motor utama menuju Indonesia yang lebih maju. Lingkungan kerja yang fleksibel, budaya inklusif, ruang inovasi, penguatan keterampilan, serta ekosistem kewirausahaan digital adalah prasyarat agar potensi mereka tidak terhambat.

Waktu menuju puncak bonus demografi masih terbuka. Dengan pengelolaan yang tepat, Generasi Z bukan generasi yang melemah, melainkan generasi yang sedang berproses membentuk daya tahan, kreativitas, dan kepemimpinan baru bagi masa depan Indonesia. Optimisme itu tetap relevan, selama peluang dan dukungan benar-benar disiapkan. (*)

Editor : Arief
#Opini