Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Memaknai Ramadan

admin • Jumat, 27 Februari 2026 | 22:41 WIB

Prof. Dr. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag
Prof. Dr. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag

           Oleh: Prof. Dr. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag
           Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin

Kini, kita sudah berada di bulan ramadan. Ramadan adalah suatu bulan di mana di dalamnya terdapat perintah untuk berpuasa bagi mereka yang beriman. Bahkan di bulan Ramadan inilah diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia.

Puasa Ramadan bukanlah kegiatan hura-hura. Ia adalah ritual spiritual tahunan umat Islam. Oleh karena itu, ibarat sang kekasih, kedatangannya selalu dirindukan. Perbedaan dalam penentuan awal 1  Ramadan 1447 H tidak menyurutkan kerinduan umat Islam terhadap kedatangan Ramadan.

Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ia adalah madrasah ruhani yang datang setahun sekali untuk menyucikan jiwa dan memperkokoh takwa. Allah Swt. berfirman dalam Alquran: "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" (Al-Baqarah: 183).

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa, Allah hanya memanggil orang-orang yang beriman dan bukan orang Islam untuk berpuasa sebagai ritual untuk meraih takwa. Itu berarti Ramadan bermakna sebagai panggilan mendalam untuk kembali kepada akar spiritualitas. Sebagai arena pendidikan dan pelatihan spiritualitas, ramadan adalah suatu bulan yang dijanjikan penuh berkah dan ampunan, bahkan pembebasan dari api neraka.

Berdasarkan uraian di  atas, inti Ramadan bukan hanya dimaknai sebagai ritualitas mengendalikan emosi, menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dimaknai sebagai bulan kerahmatan, keampuan, dan kebebasan.

Selama Ramadan, setiap detik yang berlalu membawa makna yang mendalam, di mana sepuluh hari pertama adalah kerahmatan, sepuluh hari kedua adalah keampunan, dan sepuluh hari ketiga adalah harapan pembebasan dari api neraka. Ketiga fase ini menjadi pijakan utama dalam perjalanan ruhani menuju kebaikan, menapaki jalan yang lurus di jalan-Nya (Al-Fatihah: 6) guna meraih takwa.

Ramadan Bulan Kerahmatan

Ramadan adalah bulan yang dianugerahkan rahmat melimpah, sebagaimana firman Allah Swt. dalam Alquran: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Pesan moral dari Al-Baqarah ayat 185 di atas adalah bahwa Allah tidak hanya menetapkan kewajiban puasa, melainkan juga menunjukkan bahwa rahmat terkandung dalam setiap usaha untuk meningkatkan ketakwaan.

Rahmat Ramadan bukanlah egoistis, bukan pula tidak peduli, bahkan tidak ada sangkut paut sama sekali dengan uzub, ria dan sum'ah. Rahmat Ramadan terwujud bukan hanya dalam amalan individu, melainkan juga dalam kebersamaan umat.

Di mana-mana di belahan dunia ini, di semua negara Islam, tak terkecuali di Indonesia, terlihat bagaimana orang saling membantu, memberikan makanan berbuka kepada yang kurang mampu, dan mempererat tali silaturahmi.

Semua ini adalah cerminan rahmat yang mengalir antar sesama manusia. Rahmat dalam Ramadan juga mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap penderitaan orang lain, karena ketika kita merasakan lapar dan dahaga, hati menjadi lebih terbuka untuk memberikan kasih sayang dan bantuan.

Akan tetapi, ingat, beribadah itu harus ikhlas karena Allah, terbebas dari motivasi duit. Maka dari itu untuk meraih pahala dan rahmat berupa keberkahan dari Allah, menjadi imam sholat Tarawih bukan karena uang, menjadi pembaca salawat bukan karena uang.

Sungguh merugi sebuah tempat ibadah yang tidak dimanfaatkan untuk membukakan puasa bagi umat Islam selama Ramadan. Kalau kita rajin membaca Yasin seminggu sekali dalam acara Yasinan dan gemar membaca syair religius dan zikir, maka sungguh merugi jika kita tidak meluangkan waktu dan kesempatan membaca Alquran selama Ramadan, bahkan di luar Ramadan. Bukankah Alquran petunjuk bagi kita dan diturunkan oleh Allah di bulan Ramadan? Kalau buku syair kumal dan lusuh, jangan biarkan Alquran berdebu.

Ramadan Bulan Keampunan

Jika rahmat adalah cahaya yang menerangi jalan, keampunan adalah tangan yang mengangkat kita dari kedalaman kesalahan. Allah Swt. berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 105: "Dan lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhanmu dan berpalinglah dari orang-orang fasik." Ramadan menjadi kesempatan emas untuk bertobat dan menerima keampunan, karena pintu langit dibuka lebar bagi setiap hamba yang tulus bertobat.

 Hadis dari Ibnu Abbas R.A. menyatakan bahwa "Pada awal bulan Ramadan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan syaitan-syaitan dibelenggu." Kondisi ini memudahkan kita untuk melakukan kebaikan dan menjauhi kejahatan, sehingga doa dan tobat kita lebih mudah diterima.

Keampunan dalam Ramadan tidak hanya menghapus dosa-dosa yang lalu, melainkan juga memberikan kekuatan untuk tidak mengulanginya di masa depan.

Pesan moral di atas dipertegas oleh Rasulullah Saw. melalui sabdanya: "Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni" (HR. Bukhari Muslim).

 Banyak di antara kita yang menggunakan waktu ini untuk meminta maaf kepada keluarga, teman, dan sesama yang pernah dirugikan, karena menyadari bahwa keampunan dari manusia juga menjadi pintu untuk menerima keampunan dari Allah Swt.

Allah Maha Pengampun. Mereka yang curang berdagang, segera minta ampun. Bagi mereka yang selalu menyunat uang sumbangan untuk waqaf dan sadakah untuk tempat ibadah, pintu tobat masih terbuka. Mereka yang terperangkap kejahiliyahan apa pun jenis dan bentuknya, sebelum terlambat bertobatlah di bulan Ramadan.

Ramadan Bulan Pembebasan dari Api Neraka

Selain rahmat dan keampunan, Ramadan juga dijanjikan sebagai bulan pembebasan dari api neraka. Dalam Surat Al-Qadr ayat 1-5 disebutkan: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Roh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar."

 Malam Lailatul Qadar yang terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadan adalah puncak dari kemuliaan bulan ini, di mana banyak hamba Allah dibebaskan dari api neraka. Rasulullah Saw. juga bersabda: "Barang siapa yang berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni" (HR. Muslim).

Pembebasan ini bukan hanya tentang keselamatan akhirat, melainkan juga pembebasan dari beban hawa nafsu, keserakahan, dan kedengkian yang bisa merusak kehidupan duniawi dan akhirat.

Di bulan Ramadan, kita belajar untuk hidup dengan lebih sederhana dan penuh rasa syukur, menjauhi segala sesuatu yang bisa membawa pada kehancuran.

Akhirul kalam. Semoga rahmat Allah Swt. selalu menyertai kita, keampunan-Nya menghapus segala kesalahan kita, dan kita termasuk dalam golongan yang mendapatkan pembebasan dari api neraka.

 Akan tetapi yang saya khawatirkan, betulkah kita mendambakan rahmat Allah, keampunan, dan pembebasan dari api neraka? Jika tidak, maka sia-sialah puasa yang kita laksanakan selama Ramadan. Selamat berpuasa.Terima kasih. (*)

Editor : Arief
#Opini #ramadan