Oleh: Teguh Pamungkas
Penyuluh Keluarga Berencana Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Selatan
Setiap keluarga bersuka cita menyambut Ramadan. Dalam benak, momen indah saat menjalankan ibadah puasa bersama keluarga begitu dinanti-nanti. Ramadan tiba, tiap anggota keluarga, anak-anak dan orangtua semua bergembira.
Puasa tak cuma menahan lapar dan haus semata. Bagi mereka yang menjalani, akan memiliki kesan tersendiri untuk keluarga. Beragam makna dan nilai luar biasa yang bisa dirasa dalam suatu rumah tangga.
Banyak orang menyebut Ramadan disebut juga bulan pendidikan. Bukan hanya mendidik secara fisik, Ramadan juga mendidik secara jiwa. Di mana di dalamnya memantik untuk perbaikan-perbaikan sifat mulia, koreksi diri menuju fase lebih baik. Tak hanya menahan keinginan duniawi, namun juga merawat eksistensi kebersamaan keluarga. Seperti kemurahan hati, keikhlasan dan kesabaran pada sesama anggotanya.
Melalui Ramadan beberapa peran keluarga bisa hadirkan seperti; Pertama, keluarga berperan untuk menumbuhkan nilai-nilai keagamaan. Keluarga sebagai tempat awal untuk menanamkan nilai-nilai agama, dengan tujuan untuk menjadikan keluarga yang baik. Berpuasa dan mengisi Ramadan dengan kebaikan akan membawa pada memaknai keberadaan keluarga.
Kedua, keluarga berperan mengajarkan sosial budaya. Sosial budaya mengiringi para anggota keluarga di kehidupannya. Keluarga menanamkan nilai-nilai luhur yang menjadi panutan. Di mana hal tersebut dibawa saat berinteraksi dan beradaptasi dengan sosial lingkungan. Ramadan sebagai momen meningkatkan toleransi, gotong royong dan saling berdampingan sesama anggota keluarga maupun dengan masyarakat.
Ketiga, keluarga untuk mengasah cinta kasih. Unit terkecil masyarakat yakni keluarga, di mana keluarga merupakan wadah untuk menuangkan cinta dan kasih. Jika cinta maka selalu berempati. Apabila mengasihi pun sudah sepatutnya mudah memaafkan dan penuh tanggung jawab. Saat menyantap buka puasa dan sahur merupakan momen bersama yang ditunggu-tunggu, karena di tempat itu media meluapkan cinta kasih. Sebelumnya di siang hari, anggota keluarga disibukan dengan aktivitasnya masing-masing.
Keempat, keluarga sebagai tempat sosial dan pendidikan. Kondisi rumah tangga -sedikit atau banyak- akan membentuk kepribadian anggota keluarganya. Keluarga menjadi tempat berkembangnya proses interaksi dan belajar sosial. Sebagai contoh tatkala anak-anak melihat orangtuanya berpuasa. Maka anak pun akan menanyakan tentang puasa dan otomatis ikut serta berpuasa, meskipun terkadang dengan gaya khasnya anak-anak.
Kelima, keluarga memerhatikan dalam pemenuhan ekonomi. Pangan, sandang dan papan adalah keperluan rumah tangga dan diberikan kepada anggota keluarga. Keluarga adalah tempat untuk mengatur keuangan, seperti apa kebutuhan dan nilai-nilai tentang keuangan. Dengan skala prioritas keuangan diatur guna pemenuhan kebutuhan keluarga. Secara disiplin mempertimbangan dan mengatur sirkulasi keuangan. Untuk menyambut puasa dan lebaran biasanya kebutuhan keluarga lebih dari hari-hari biasanya.
Sahur dan buka puasa
Menjalani ibadah puasa bersama keluarga adalah cita-cita. Apalagi kebersamaan saat menjelang berbuka puasa. Paling menyenangkan tatkala momen berbuka puasa dan sahur bersama anggota keluarga.
Di momen itu, terselip beberapa kebiasaan yang dapat menjadi kebiasaan yang dapat diterapkan kepada anak-anak. Seperti ketika menyantap makanan, mengajarkan adab dan berdoa, tentang pentingnya mencuci tangan dan kebersihan diri demi menjaga kesehatan. Selain itu, ketika menyantap makanan bersama sebagai waktu dan media edukasi orangtua membiasakan anggota keluarga untuk menjaga etika yang dimulai dari keluarga.
Yang tak kalah penting, berbuka puasa dan sahur bersama juga mengakrabkan hubungan antar anggota keluarga. Di situ menghadirkan keharmonisan hubungan anak dengan orangtua, dan orangtua dengan kerabat lainnya di rumah.
Di santap makan sahur dan buka puasa bersama keluarga bukan hanya duduk bareng-bareng untuk mengelilingi meja makan. Namun, ketika makan bersama merupakan ajang pusat komunikasi antar anggota keluarga. Karena dari situlah bisa mempererat hubungan keluarga, tempat mengajarkan nilai-nilai keluarga.
Selain itu, melalui santap sahur dan buka puasa bersama media untuk membangun kebiasaan komunikasi secara langsung tanpa rasa sungkan untuk membahas persoalan yang ada di setiap anggota keluarga.
Ramadan adalah momen spirit daya tahan diri (self endurance) dalam menghadapi rintangan, sabar, bekerja keras untuk mencari solusi dalam rumah tangga. Setiap individu memiliki peran penting dalam keberlangsungan keluarga, di mana dengan bijak mewujudkan potensi untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan sejahtera.
Editor : Arief