Oleh: Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin
Jumat, 20 Februari 2026, diperingati sebagai Hari Pekerja Nasional dalam suasana Ramadhan. Sebuah kebetulan yang terasa simbolik. Di satu sisi, kita merayakan kontribusi pekerja sebagai tulang punggung ekonomi bangsa. Di sisi lain, jutaan dari mereka sedang menjalani puasa menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, sementara sistem kerja modern terus bergerak tanpa henti.
Di zaman serba digital ini, sistem tak pernah benar-benar jeda. Server menyala 24 jam. Notifikasi berdenting bahkan menjelang sahur. Target dipantau secara real time. Algoritma terus bekerja, mengatur distribusi tugas, menilai performa, bahkan menentukan siapa yang layak mendapat peluang lebih besar. Dunia kerja telah menjadi ekosistem digital yang ritmenya nyaris tak mengenal istirahat. Di tengah situasi itu, pekerja berpuasa.
Puasa pada hakikatnya adalah latihan kesadaran akan batas. Ia mengajarkan manusia untuk berhenti, menahan diri, dan menyadari ketergantungan pada Yang Maha Kuasa. Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ruang refleksi spiritual. Namun ironi muncul ketika bulan yang sarat makna jeda justru bertemu dengan sistem kerja yang tak pernah mengenal jeda.
Bagi pekerja kantoran, pekerjaan kini menembus dinding rumah. Pesan pekerjaan masuk lewat aplikasi percakapan pribadi. Rapat daring mengisi waktu yang dulu menjadi ruang keluarga. Bagi pekerja platform driver, kurir, freelancer digital ritme kerja ditentukan algoritma. Semakin cepat respons, semakin tinggi rating. Semakin tinggi rating, semakin besar peluang pendapatan. Logika ini mendorong kompetisi tanpa henti.
Hari Pekerja Nasional seharusnya menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa pekerja adalah manusia, bukan sekadar data. Namun dalam sistem digital, manusia sering direduksi menjadi angka performa. Produktivitas dihitung per menit. Kesalahan tercatat permanen. Evaluasi berbasis sistem dianggap objektif dan efisien. Tetapi objektivitas teknis tidak selalu identik dengan keadilan manusiawi.
Di sinilah letak persoalan mendasar: ketika sistem lebih diprioritaskan daripada kemanusiaan, martabat pekerja terancam. AI dan teknologi memang membawa kemajuan. Mereka menyederhanakan proses, mempercepat layanan, dan membuka peluang baru. Namun ketika efisiensi dijadikan tujuan tunggal, kesejahteraan pekerja kerap terpinggirkan.
Ramadhan mengajarkan keseimbangan. Ia menempatkan kerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari ibadah. Dalam tradisi spiritual, nilai kerja tidak hanya diukur dari hasil, tetapi juga dari niat dan etika. Seseorang yang bekerja dengan jujur dan amanah sedang menunaikan tanggung jawab moralnya. Perspektif ini penting di tengah budaya kerja digital yang terlalu menekankan output.
Tekanan sistem yang tak pernah jeda juga berdampak pada kesehatan mental. Budaya “selalu online” menciptakan kecemasan kolektif. Takut tertinggal informasi. Takut kehilangan peluang. Takut dinilai kurang produktif. Ketakutan ini diperkuat oleh sistem rating dan evaluasi otomatis. Pekerja menjadi waspada terus-menerus, bahkan ketika tubuh sedang lelah karena berpuasa.
Padahal, puasa justru melatih manusia untuk mengendalikan kecemasan dan ambisi berlebihan. Ia mengajarkan bahwa tidak semua hal harus dikejar secara impulsif. Ada nilai dalam kesabaran. Ada makna dalam ketenangan. Ketika nilai-nilai ini dibawa ke ruang kerja, seharusnya lahir budaya yang lebih manusiawi.
Namun realitasnya, sistem sering kali lebih cepat berubah daripada regulasi. Model kerja berbasis platform berkembang pesat, sementara perlindungan sosial belum sepenuhnya mengikuti. Banyak pekerja digital tidak memiliki jaminan kesehatan memadai, kepastian penghasilan, atau perlindungan ketenagakerjaan yang jelas. Mereka berada dalam sistem yang fleksibel sekaligus rentan.
Hari Pekerja Nasional 2026 seharusnya menjadi momentum untuk mengoreksi arah. Transformasi digital tidak boleh hanya menguntungkan pemilik modal dan pengembang sistem. Ia harus memastikan bahwa pekerja sebagai pelaku utama tetap terlindungi dan dihargai. Transparansi algoritma, kebijakan kerja yang adaptif selama Ramadhan, serta standar perlindungan yang adil menjadi kebutuhan mendesak.
Spiritualitas Ramadhan juga mengajarkan empati sosial. Lapar dan dahaga yang dirasakan bersama membangun kesadaran kolektif tentang penderitaan orang lain. Dalam konteks kerja, empati ini seharusnya mendorong kebijakan yang lebih manusiawi. Atasan memahami kondisi karyawan. Platform mempertimbangkan kesejahteraan mitra. Negara memastikan regulasi tidak tertinggal oleh inovasi.
Pekerja puasa adalah simbol keteguhan. Mereka tetap menjalankan tanggung jawab profesional sembari menjaga komitmen spiritual. Di tengah sistem yang tak pernah berhenti, mereka berusaha menjaga integritas. Di tengah tuntutan respons cepat, mereka tetap berusaha sabar. Keteguhan ini layak dihormati, bukan sekadar dimanfaatkan.
Zaman AI dan otomatisasi memang tidak bisa dihentikan. Tetapi arah penggunaannya bisa ditentukan. Teknologi harus dirancang untuk meringankan beban, bukan memperberat tekanan. Jika sistem mampu bekerja tanpa henti, maka ia seharusnya memberi manusia ruang lebih luas untuk istirahat, belajar, dan berkembang—bukan sebaliknya.
Ramadhan menghadirkan pertanyaan mendasar: untuk apa kita bekerja? Jika kerja hanya menjadi siklus tanpa makna, maka sistemlah yang menang, manusia yang kalah. Namun jika kerja dipahami sebagai sarana pengabdian dan kontribusi sosial, maka teknologi dapat menjadi alat yang memperluas kebaikan.
Ketika azan Magrib berkumandang pada Hari Pekerja Nasional tahun ini, jutaan pekerja berbuka dengan rasa syukur sekaligus lelah. Di momen itu, ada kesadaran bahwa manusia memiliki batas. Sistem mungkin tak pernah jeda, tetapi manusia harus diberi ruang untuk berhenti.
Menjaga martabat pekerja di era digital berarti berani mengatakan bahwa efisiensi tidak boleh mengalahkan kemanusiaan. Bahwa inovasi harus disertai empati. Bahwa di balik setiap algoritma, ada kehidupan nyata yang terdampak.
Pekerja boleh berpuasa, tetapi sistem tidak boleh kehilangan nurani. Dan Hari Pekerja Nasional di bulan Ramadhan ini semestinya menjadi pengingat: kemajuan sejati bukan hanya tentang sistem yang terus berjalan, melainkan tentang manusia yang tetap dihargai. (*)
Editor : Arief