Oleh: Edwin Yulisar
Guru dan Kolumnis di Kalsel
Imlek 2026 ditandai dengan tahun shio kuda dengan elemen api yang bermakna kebebasan, pergerakan dan kreativitas. Perayaan tahun baru ini biasanya diwarnai dengan pernak pernik serba merah, persembahyangan di klenteng (Sin Cia), pemberian angpao, permainan barongsai, penghormatan kepada para leluhur dan banyak lagi kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh warga tionghoa di Indonesia. Ketika penulis dulu masih duduk di Sekolah Dasar sering melihat betapa gesit dan atraktif serta meriahnya permainan Barongsai di rumah tetangga ditambah dengan angpao dari masyarakat tionghoa sahabat orang tua.
Namun, secara tidak sadar, perayaan imlek memiliki sebuah pembelajaran nilai-nilai inklusivitas di dalamnya. Inklusivitas merupakan sikap untuk menerima, menghargai dan memanfaatkan perbedaan sebagai kekuatan. Yang pertama, dalam perayaan imlek seluruh warga tionghoa bersatu padu serta gotong royong agar bisa mensukseskan acara tahunan ini mulai dari persiapan mandiri yang ada di rumah mulai dari membeli pernak-pernik hingga persiapan komunal seperti membersihkan rupang atau dewa-dewa yang ada di dalam kelenteng dengan penuh hati-hati dan keikhlasan semua itu adalah wujud penghormatan kepada leluhur yang sudah memberikan rezeki dan keberkahan.
Nilai individual serta nilai sosial kemasyarakatan untuk mencapai tujuan religiusitas mampu mengalahkan kepentingan pribadi dalam mengelola dan mensukseskan perayaan imlek agar bisa berjalan dengan lancar saat peribadatan di rumah ibadah. Mempelajari kemampuan sosial dan kerekatan masyarakat tionghoa merupakan salah satu hal yang harus dicontoh mulai dari disiplin, ketekunan, kerja keras dan kesuksesan. Maka dari itu, kita sebagai umat beragama harus mencontoh esensi sikap sosial yang masif dan komprehensif dari mereka.
Yang kedua, imlek menonjolkan filosofi optimistis. Nilai tersebut terlihat mulai dari makna sebuah warna (merah) sebagai pembawa keberuntungan serta makanan-makanan khas seperti kue keranjang (Nian Gao) yang melambangkan harapan akan meningkatkan rezeki, keberuntungan,dan kemajuan dalam segala hal kehidupan. Bahkan kue keranjang juga dipercaya sebagai lambang kebersamaan keluarga yang sudah menjadi persembahan kepada para dewa.
Bentuknya yang bulat sebagai simbol agar keluarga tetap rukun dan bersatu dalam menghadapi tahun yang baru. Secara menyeluruh, kue keranjang tidak hanya sekedar makanan namun juga di dalamnya berisi nilai inklusivitas optimistik yaitu simbol dari harapan, doa dan nilai-nilai luhur dalam budaya tionghoa. Dari sini kita belajar bahwa sikap optimistis dan terus berharap hal-hal yang baik seperti makanan yang merupakan rezeki yang diberikan Tuhan kepada kita. Semakin kita banyak bersyukur dengan rezeki yang diberikan, maka semakin banyak pula Tuhan akan memberikan kita nikmat dan keberkahan. Hal ini tentunya hanya dirasakan bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa.
Hal yang ketiga yang harus kita pelajari dari warga Tionghoa adalah menjunjung tinggi dan melestarikan budayanya hingga sekarang. Malcolm Bradbury pernah berkata bahwa budaya adalah cara menghadapi dunia dengan mendefinisikannya secara terperinci. Imlek merupakan manifestasi secara detail dan implementasi nilai inklusivitas secara general sebagai rasa cintanya kepada budaya yang membuat mereka semakin maju dan berkembang. Pernyataan ini ditambah dengan pernyataan Marcus Garvey yang mengungkapkan bahwa orang yang tidak mengetahui sejarah, asal, usul dan budaya masa lalunya seperti pohon tanpa akar.
Semakin lestari budaya sebuah peradaban maka akar dan pemikiran yang mendalam juga akan semakin kuat untuk mengembangkan segala aspek dalam kehidupan seperti bidang pendidikan, sosial, ekonomi serta aspek lainnya karena sudah belajar dari budaya sebelumnya. Mengutip harian Surya (25/01/25), Budaya yang masih dilestarikan hingga sekarang salah satunya adalah penampilan Wayang Potehi dan Musik Tradisional Tiongkok di kelenteng Hong Tiek Hian, Surabaya. Pertunjukan wayang potehi sampai tiga kali dalam sehari dilakukan yaitu pagi, siang dan sore. Kebiasaan pertunjukan wayang ini sudah turun temurun sejak tahun 1960-an yang biasanya menceritakan legenda-legenda hingga cikal bakal Dinasti Tang. Klenteng ini juga merupakan warisan budaya yang sudah dibangun oleh pasukan Tartar pada masa awal kerajaan Majapahit yang menjadi pusat ibadah tiga agama yaitu Buddha, Tao dan Konghucu.
Dari pertunjukkan khas budaya tersebut kita belajar, bagaimana warga Tionghoa mampu merawat klenteng mulai dari zaman majapahit hingga melestarikan kebudayaan pertunjukkan seperti pagelaran Wayang Potehi dan Pertunjukkan Musik Tradisional Tiongkok. Maka dari itu, sebagai warga Indonesia yang baik, kita harus mampu mencontoh dan meneladani kemampuan warga Tionghoa dalam melestarikan kebudayaan agar tetap lestari walaupun zaman digitalisasi dan Akal Imitasi (AI) selalu membayangi dalam kehidupan. Orang tua, Guru serta Tokoh Agama sebagai garda terdepan harus mampu menjadi suri tauladan serta fasilitator agar lestarinya budaya lewat inklusivitas beragama ini.
Dari tiga aspek yang sudah dipaparkan, akan lebih baik jika seluruh elemen masyarakat yang ada di negara kita mampu memperkokoh persatuan dan kesatuan dari mempelajari unsur sosial budaya dengan keberagaman kepercayaan karena kita akan selalu bersahabat sebagai kemanusiaan. Ditambah lagi, kemanusiaan akan selalu hadir karena adanya peradaban serta penguatan akal pikiran yang kuat dari sejarah, asal, usul dan budaya sebagai akar dari perdamaian. Apapun profesi kita, saling menghormati dan memberikan toleransi antar agama adalah sebuah keharusan. Dengan perbedaan ini, kita akan terus menerus belajar bahwa akan selalu ada nilai-nilai inklusivitas dalam bersosial dan saling menjaga dalam perbedaan.
Oleh karena itu, sudah selayaknya kita sebagai manusia harus terus menerus belajar dan meningkatkan nilai moderasi dan toleransi beragama bukan saling menghina agama lain, hanya karena menganggap bahwa agamanya lebih baik dan paling benar daripada agama orang lain. Yang menjadi esensi pembelajaran dari sebuah keberagaman pada hal kepercayaan adalah nilai-nilai kemanusiaan yang melekat pada tiap-tiap pemeluk agama. Semakin masif kita menginternalisasikan esensi nilai nilai kemanusiaan yang bersumber dari agama maka rasa persahabatan, toleransi dan saling mengasihi akan semakin kuat terjalin sebagai umat yang ber-Tuhan. Selamat Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Gong Xi Fa Cai. (*)
Editor : Arief