Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Terjebak Gaya Hidup

admin • Rabu, 18 Februari 2026 | 21:39 WIB
Anugerah Safitri Nurdamaiyanti
Anugerah Safitri Nurdamaiyanti

              Oleh: Anugerah Safitri Nurdamaiyanti
              Mahasiswi Statistika FMIPA ULM 

Gaya hidup anak muda Indonesia saat ini semakin dipengaruhi oleh tren digital dan perkembangan media sosial. Melalui berbagai platform, media sosial tidak hanya menjadi sumber hiburan, tetapi juga membentuk preferensi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tercermin dari kebiasaan seperti nongkrong di kafe, berburu kuliner viral, hingga belanja produk kekinian yang kini menjadi pilihan utama. Perilaku konsumtif ini terkadang melebihi kebutuhan pokok. Media sosial pun memperkuat tren tersebut melalui konten yang menampilkan aktivitas estetik dan penuh daya tarik visual.

Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) September 2024 rata-rata pengeluaran bulanan untuk hiburan di perkotaan mencapai Rp3.562.000 per kapita. Angka ini menunjukkan hiburan telah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari, dengan semakin banyak orang yang mengalokasikan uang untuk kesenangan pribadi. Namun, apakah peningkatan konsumsi ini benar-benar meningkatkan kualitas hidup, atau justru menimbulkan tekanan baru terhadap kondisi finansial pribadi?

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut menguatkan hal ini. Per Februari 2025, total pinjaman individu melalui layanan pinjaman online (fintech P2P lending) tercatat mencapai Rp75,53 triliun, dengan kelompok usia 19–34 tahun sebagai penyumbang terbesar, yakni sebesar Rp38,18 triliun. Fakta ini menunjukkan anak muda menjadi pengguna utama layanan pinjaman digital, yang kerap dijadikan solusi instan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif.

Namun, di balik tren tersebut, kesadaran akan pentingnya pengelolaan keuangan belum sepenuhnya tumbuh. Banyak anak muda yang belum memahami budgeting atau mempertimbangkan dampak jangka panjang dari keputusan finansial yang mereka ambil. Dalam beberapa kasus, cicilan digital atau layanan pinjaman online digunakan untuk memenuhi gaya hidup yang sebenarnya belum menjadi prioritas. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam membentuk perilaku konsumsi yang lebih bijak dan berkelanjutan.

Meski demikian, pola konsumsi anak muda mengalami pergeseran yang unik. Demi ingin tetap terlihat aktif secara sosial, banyak dari mereka justru menerapkan pola down-trading, yaitu tetap membeli atau menikmati produk yang sama, tetapi dalam versi yang lebih terjangkau. Langkah ini memungkinkan mereka untuk tetap bisa mengikuti tren tanpa terlalu membebani finansial. Di wilayah perkotaan seperti Banjarmasin dan Banjarbaru, menjamurnya kafe-kafe estetik menjadi salah satu contoh bagaimana ruang sosial kini terbentuk dari kebiasaan konsumsi yang lebih mengutamakan suasana dan tampilan.

Fenomena ini memengaruhi cara anak muda memandang nilai suatu barang atau pengalaman. Konsumsi bukan lagi sekedar fungsi, melainkan juga tentang nilai simbolis dan representasi sosial. Contohnya kopi seharga puluhan ribu dianggap woth it karena disajikan di tempat yang estetik dan bisa dibagikan di media sosial. Pergeseran ini menunjukkan perubahan yang awalnya konsumsi fungsional ke konsumsi emosional, dimana keputusan membeli lebih didorong oleh perasaan, citra, dan penerimaan sosial.

Tekanan untuk selalu mengikuti tren juga memunculkan fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Anak muda sering membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial, yang mendorong perilaku konsumtif demi “mengimbangi” standar yang mereka lihat. Alih-alih membeli karena kebutuhan, tetapi agar tidak merasa tertinggal atau kurang relevan dalam pergaulan digital.

Di sisi lain, muncul pula tren positif yang patut diapresiasi. Konten edukasi tentang pengelolaan keuangan semakin banyak dibahas di media sosial. Pergeseran ini menandakan tumbuhnya kesadaran finansial, terutama di kalangan anak muda yang mulai menyadari bahwa gaya hidup sehat secara ekonomi justru memperluas untuk perencanaan masa depan.

Pentingnya keseimbangan antara menikmati hidup dan menjaga stabilitas keuangan menjadi kunci dalam membangun budaya konsumsi yang sehat. Anak muda dapat mengikuti perkembangan zaman tanpa harus merasa tertekan untuk selalu terlihat sempurna. Edukasi mengenai tabungan, dana darurat, dan penggunaan alat pembayaran seperti kartu kredit atau paylater perlu terus disosialisasikan dalam ruang-ruang terbuka seperti sekolah, kampus, maupun komunitas digital.

Di tengah derasnya arus informasi dan tekanan untuk selalu mengikuti tren, anak muda perlu memberi ruang untuk berevaluasi dan menentukan prioritas hidup. Sebab, gaya hidup sesungguhnya bukan tentang mengikuti semua yang sedang ramai, melainkan memilih mana yang benar-benar selaras dengan nilai diri dan kemampuan finansial. Dengan kesadaran ini, budaya konsumsi dapat bergerak ke arah yang lebih bijak tidak hanya sekedar mengikuti arus, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang. (*)

Editor : Arief
#Opini