Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Resign atau Hidup dalam Hustle

admin • Rabu, 18 Februari 2026 | 21:29 WIB
Muhammad Radityo Denishworo Marsudi
Muhammad Radityo Denishworo Marsudi

             Oleh: Muhammad Radityo Denishworo Marsudi
             Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat

Generasi Z, yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, kini mulai memasuki dan bahkan mendominasi dunia kerja. Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Mereka adalah generasi digital native yang terbiasa dengan akses cepat terhadap informasi dan berbagai platform digital sejak usia dini. Hal ini memengaruhi cara berpikir, cara berinteraksi, hingga cara melihat dunia kerja.

Di tempat kerja, Gen Z membawa semangat baru ke dunia kerja dengan nilai kebebasan dan keinginan untuk berkembang. Mereka bekerja bukan sekadar untuk penghasilan, tapi juga demi nilai pribadi dan makna hidup. Gen Z ingin tahu bahwa pekerjaan yang mereka lakukan berdampak, bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan dan masyarakat. Oleh karena itu, tidak heran jika mereka cenderung memilih tempat kerja yang memiliki visi jelas dan etika kerja yang sehat.

Salah satu karakter mencolok dari Gen Z adalah kecenderungan untuk berpindah kerja lebih sering dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka tidak segan mengundurkan diri jika merasa tidak cocok dengan budaya kerja, tidak berkembang secara profesional, atau tidak mendapatkan keseimbangan hidup yang mereka inginkan. Fenomena ini memunculkan istilah “resignation generation” untuk menggambarkan mobilitas karier mereka yang sangat cepat. Namun, perilaku ini bukanlah cerminan dari kurangnya komitmen atau loyalitas, melainkan mereka cenderung mencari tempat kerja yang dapat memberikan ruang untuk pertumbuhan pribadi, serta nilai-nilai yang sejalan dengan prinsip hidup mereka (Nurum et al, 2025).

Selain itu, Gen Z juga sangat dipengaruhi oleh budaya hustle yaitu sebuah gaya hidup yang menekankan kerja keras, kecepatan, dan pencapaian. Terpapar konten media sosial tentang kesuksesan, mereka terdorong untuk bekerja lebih cepat dan keras demi tujuan pribadi. Mereka tak ragu memilih jalur karier nontradisional seperti menjadi freelancer, entrepreneur atau content creator , karena ingin bekerja dengan cara sendiri dan mengekspresikan diri. Mereka menginginkan ruang untuk mengekspresikan diri dalam pekerjaan yang dilakukan. Meski begitu, Gen Z punya banyak keunggulan, tumbuh di era digital, cepat beradaptasi dengan teknologi, berpikir kritis, kreatif, dan berani mencoba hal baru. Mereka aktif mengembangkan diri lewat kursus daring, komunitas, atau proyek pribadi, menunjukkan semangat belajar sepanjang hayat yang membuat mereka tetap relevan di tengah perubahan.

Namun, di balik semua potensi tersebut, Gen Z juga menghadapi tantangan besar. Tingginya ekspektasi terhadap pekerjaan kadang tidak sejalan dengan realitas di lapangan. Dunia kerja yang kompetitif, tekanan sosial dari media, dan beban untuk cepat sukses bisa menjadi sumber stres yang serius. Mereka juga menghadapi tantangan struktural seperti ketatnya persaingan kerja dan mismatch antara keterampilan lulusan muda dengan kebutuhan industri. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2024, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk kelompok usia 15 hingga 19 tahun mencapai 22,34%, dan untuk usia 20 hingga 24 tahun sebesar 15,34%. Angka ini menggambarkan betapa sulitnya lulusan muda menembus pasar kerja, terutama tanpa keterampilan tambahan yang relevan.

Karakteristik Gen Z, mulai dari kemampuan adaptasi digital hingga semangat belajar mandiri, justru menjadi keunggulan utama dalam menghadapi tantangan dunia kerja saat ini, seperti ketidakpastian ekonomi, perkembangan teknologi yang cepat, dan kebutuhan akan inovasi berkelanjutan. Namun, potensi ini belum tentu berkembang optimal jika dunia kerja tetap berpegang pada sistem yang kaku dan konvensional. Perusahaan perlu bertransformasi, tak hanya soal gaji dan tunjangan, tapi juga dalam menciptakan budaya kerja yang sehat, fleksibel, dan suportif. Memberikan ruang untuk kreativitas, mendengarkan aspirasi, dan membuka peluang karier yang fleksibel adalah kunci untuk menarik dan mempertahankan talenta Gen Z. Jika dikelola dengan tepat, generasi ini bukan hanya akan menjadi bagian dari perubahan, tetapi juga penggeraknya.

Sebagai generasi yang akan menjadi tulang punggung tenaga kerja di masa depan, Gen Z membawa warna baru dalam dunia profesional. Meski dikenal sebagai generasi yang cepat resign dan mengadopsi hustle culture, mereka juga generasi yang penuh semangat, cepat belajar, dan haus akan perubahan positif. Tantangan yang mereka hadapi harus dilihat sebagai peluang untuk membangun ekosistem kerja yang lebih manusiawi dan progresif. Dengan pendekatan yang tepat, Gen Z bukan hanya bisa bertahan, tetapi juga membawa lompatan besar bagi kemajuan dunia kerja di era digital. (*)

Editor : Arief
#Gen Z #Opini