Oleh: Edwin Yulisar
Guru MTsN 2 Hulu Sungai Tengah
Era society 5.0 merupakan era pembuka bahwa manusia harus hidup berdampingan dengan entitas digital. Segala aktivitas manusia dituntut beriringan dengan perkembangan teknologi pada segala aspek kehidupan. Pada ranah pendidikan, era ini mengubah cara pandang profesionalisme guru bukan hanya sekedar mengajar namun jauh lebih esensial yakni perubahan cara pandang terhadap konsep kebermanfaatan serta keberlanjutan pendidikan itu sendiri.
Merujuk pada penelitian dari McKinsey pada 2016, dampak dari revolusi industri 4.0 dalam lima tahun ke depan akan menyebabkan 52,6 juta jenis pekerjaan yang mengalami pergeseran atau hilang dari muka bumi. Perlahan-lahan prediksi dari penelitian ini semakin menjadi kenyataan di era society 5.0. Beberapa pekerjaan manusia mulai digantikan dengan Akal Imitasi (AI) di zaman kiwari. Subtitusi tugas ini harus menjadi bahan pertimbangan bagi guru dalam menciptakan atmosfer pembelajaran bermanfaat dan berdampak.
Pertama, kegiatan proses belajar mengajar harus menciptakan keunggulan persaingan (competitive advantage) pada siswa sebagai penguat mental dan skill menghadapi kompetisi global. Guru harus memiliki kapabilitas menanamkan dogma pedagogik bahwa akal imitasi hanya sebagai penunjang dalam mempermudah pekerjaan, bukan objek holistik menyelesaikan semua tugas yang diberikan. Jika ketergantungan dengan AI menjadi menjadi candu, maka kemampuan daya nalar kritis akan semakin tumpul. Tumpulnya kemampuan ini akan berdampak pada matinya kepakaran seperti ketidakmampuan dalam menciptakan inovasi, kreativitas, dan kemampuan pengambilan keputusan.
Kedua, aktualisasi pembelajaran mendalam (Deep Learning). Dalam pembelajaran ini, pendidik dan peserta didik harus mempererat hubungan kausalitas melalui kerja sama serta sama-sama saling memahami dengan memiliki sikap empati, sikap rasionalitas dan saling mengembangkan fitrah sesuai dengan potensi dasar peserta didik (Asfiati, 2019). Pembelajaran yang diberikan harus menekankan pada optimalisasi digital economy, artificial intelligence, big data dan juga robotic. Hal tersebut menuntut dunia pendidikan untuk mengkonstruksi kreativitas, pemikiran kritis, penguasaan teknologi dan kemampuan literasi digital (Utomo, 2018).
Guru harus mampu mengubah cara pandang pendidikan mulai dari konsep hingga metode pembelajaran yang digunakannya. Pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran yang lebih fleksibel, kreatif menarik serta memanfaatkan teknologi secara holistik, optimal dan produktif. Walakin, agar terwujudnya pembelajaran seperti harapan guru harus memiliki empat kompetensi. Kompetensi tersebut mencakup Kompetensi mendidik berbasis teknologi (Educational competence), kompetensi untuk mendidik siswa memiliki sikap kewirausahaan (Competence for Technological commercialization), Kompetensi tidak gagap budaya (Competence in Globalization), dan kompetensi dalam menghadapi psikologis siswa (Counselor competence).
Selanjutnya, guru harus mampu memiliki resiliensi persoalan kontemporer berhubungan dengan kapabilitasnya untuk terus membangun atmosfer kebutuhan (needs) siswa secara psikologis (Asfiati, 2020). Yang pertama, needs for competence dimana siswa akhirnya merasa bisa dan terbiasa untuk terus berkarya dari hasil pengajaran yang diberikan. Kemudian, ada needs for autonomy, guru menciptakan atmosfer dimana para siswa merasa bebas (otonom) dalam mengaktualisasikan diri dan mempertanggungjawabkan segala aktivitas belajarnya sehingga menciptakan pengembangan keahlian. Berikutnya, ada needs of relatedness dimana guru mampu menciptakan rasa siswa diikutsertakan pada setiap segmen pembelajaran baik dalam bentuk tugas, latihan ataupun proyek yang diberikan.
Yang terakhir adalah kemampuan guru melakukan refleksi. Pelaksanan kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi kelebihan dan kelemahan terhadap proses belajar mengajar. Timbal baliknya adalah hasil sintesis lebih lanjut untuk kemajuan pengembangan kemampuan siswa. Refleksi menjadi bagian wajib akhir proses pembelajaran karena guru akan mendapatkan temuan atau masalah teknis-pedagogis yang harus dipecahkan untuk perbaikan pembelajaran.
Oleh karena itu, guru harus mampu mengoptimalkan segala kemampuannya dalam melakukan pelaksanaan pembelajaran di era era society 5.0 agar menciptakan siswa yang memiliki potensi besar dalam berkolaborasi dengan cyber-physical system. Semua bisa dicapai dengan konsistensi literasi, aktualisasi atmosfer kompetensi serta penguatan refleksi pada proses pembelajaran. Jika tiga hal ini mampu diimplementasikan dan dihabituasikan oleh civitas akademika, maka generasi mendatang mampu hidup berdampingan dengan teknologi sebagai pendukung pekerjaan di masa depan.
Begitupun sebaliknya, jika gagal, mereka harus siap duduk manis melihat mesin mengambil alih seluruh lahan pekerjaan di masa depan. Singkatnya, cuma ada dua pilihan, berkolaborasi atau tergilas oleh suksesi akal imitasi. (*)
Editor : Arief