Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Amanah yang Tak Ringan

admin • Selasa, 10 Februari 2026 | 22:13 WIB
H. Asmu’i Syarkowi
H. Asmu’i Syarkowi

               Oleh: H. Asmu’i Syarkowi
               Hakim PTA Banjarmasin

Jabatan adalah amanah. Ungkapan ini sering kita dengar, bahkan kerap diucapkan dalam pidato pelantikan atau sambutan resmi. Namun, dalam praktik kehidupan, maknanya sering memudar. Jabatan justru berubah menjadi sesuatu yang diburu, diperebutkan, dan dipertahankan dengan berbagai cara. Banyak orang menginginkannya demi popularitas, agar dikenal dan disegani. Ada yang mengejarnya demi wibawa, status sosial, atau sekadar memenuhi jenjang karier. Tidak sedikit pula yang menjadikan jabatan sebagai tolok ukur keberhasilan hidup.

Padahal, dalam pandangan nilai dan agama, jabatan bukanlah sekadar kedudukan, apalagi kemuliaan. Ia adalah titipan. Amanah yang mengandung tanggung jawab besar. Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan bahwa amanah harus ditunaikan kepada yang berhak dan dijalankan dengan adil. Amanah bukan pilihan, melainkan kewajiban. Dan setiap kewajiban akan dimintai pertanggungjawaban.

Di balik jabatan yang tampak prestisius, terdapat beban moral yang tidak ringan. Jabatan bukan hanya tentang apa yang terlihat oleh manusia, tetapi juga tentang apa yang tersembunyi di hadapan Allah. Ia menuntut kejujuran dalam niat, keadilan dalam keputusan, serta kesungguhan dalam menjalankan tugas. Amanah tidak berhenti pada target dan capaian, tetapi menyentuh cara, proses, dan dampak dari setiap kebijakan yang diambil.

Rasulullah Salallahualaihiwassalam pernah mengingatkan bahwa setiap orang adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Pesan ini menegaskan bahwa jabatan, sekecil apa pun, tidak pernah lepas dari tanggung jawab. Bahkan dalam hadits lain, Rasulullah Salallahualaihiwassalam mengingatkan bahwa jabatan bisa menjadi penyesalan di hari kemudian, kecuali bagi mereka yang menjalankannya dengan benar dan adil. Ini menunjukkan bahwa jabatan bukan sesuatu yang ringan untuk diinginkan tanpa kesiapan moral dan spiritual.

Teladan para sahabat dan pemimpin saleh setelah Rasulullah Salallahualaihiwassalam memperkuat pesan ini. Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. ditetapkan sebagai khalifah, ia tidak menyambutnya dengan kegembiraan atau kebanggaan. Dalam pidato pertamanya, Abu Bakar justru mengungkapkan kegelisahan dan kerendahan hati. Ia menyadari bahwa jabatan yang diembannya bukanlah kehormatan, melainkan beban amanah yang berat. Ia meminta rakyatnya untuk meluruskan dirinya jika ia menyimpang, dan menegaskan bahwa ketaatan kepadanya hanya berlaku selama ia taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sikap ini menunjukkan bahwa jabatan dipandang sebagai tanggung jawab moral, bukan hak istimewa, apalagi sebagai modal.

Hal yang serupa tampak pada Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Ketika amanah kekhalifahan disematkan kepadanya, ia justru menangis dan diliputi rasa takut. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Umar bin Abdul Aziz merasakan beratnya tanggung jawab tersebut hingga mengganggu ketenangan hidupnya. Ia khawatir tidak mampu berlaku adil dan takut jika kelalaiannya kelak menjerumuskannya dalam hisab yang berat. Jabatan tidak membuatnya hidup mewah, justru mendorongnya untuk hidup sederhana dan memperketat pengawasan terhadap dirinya sendiri.

Sikap Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Abdul Aziz memberi pelajaran penting bahwa jabatan sejatinya bukan untuk dibanggakan atau dikejar dengan ambisi. Ia diterima dengan rasa takut, dijalani dengan kehati-hatian, dan ditunaikan dengan kesungguhan. Bagi mereka, jabatan adalah ladang pengabdian sekaligus ujian iman—apakah amanah itu mampu ditunaikan, atau justru menjadi sebab penyesalan di hadapan Allah.

Namun realitas sering berkata lain. Banyak orang lupa—atau memilih lupa—bahwa amanah bukan hanya soal laporan, administrasi, dan penilaian atasan. Amanah juga mencakup keberpihakan pada kebenaran, keberanian bersikap adil, serta kejujuran meski berisiko. Amanah diuji justru ketika ada kesempatan untuk menyimpang, ketika tidak ada yang mengawasi, dan ketika kepentingan pribadi berhadapan dengan kepentingan orang banyak.

Pertanggungjawaban di dunia mungkin masih bisa dimanipulasi. Laporan dapat dipoles, angka bisa disesuaikan, dan citra bisa dibangun sedemikian rupa. Yang salah bisa tampak benar, yang lalai bisa terlihat berprestasi. Dunia sering memberi ruang bagi kepalsuan untuk bertahan. Tetapi pertanggungjawaban akhirat bersifat mutlak dan asli. Al-Qur’an mengingatkan bahwa pada hari itu, pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak ada yang bisa disembunyikan. Tidak ada yang bisa direkayasa.

Di hadapan pertanggungjawaban akhirat, jabatan yang dahulu dibanggakan bisa berubah menjadi beban yang menyesakkan. Setiap keputusan akan ditanya alasannya, setiap kebijakan akan dimintai dasar dan niatnya, dan setiap amanah yang diabaikan akan dimintai jawabannya. Pada saat itu, gelar, pangkat, dan sanjungan tidak lagi bermakna. Yang tersisa hanyalah kejujuran amal dan kesungguhan dalam menunaikan tanggung jawab.

Karena itu, jabatan seharusnya tidak diburu dengan nafsu, melainkan diterima dengan kesadaran. Tidak disambut dengan euforia berlebihan, tetapi dengan rasa takut dan kehati-hatian. Takut jika amanah itu tidak tertunaikan. Takut jika kepercayaan yang diberikan justru menjadi sebab hisab yang panjang. Para ulama terdahulu bahkan banyak yang menangis ketika diberi amanah, bukan karena rendah diri, tetapi karena takut tidak mampu berlaku adil.

Pada akhirnya, jabatan bukan tentang seberapa tinggi kedudukan seseorang, melainkan seberapa lurus niatnya dan seberapa kuat integritasnya. Jabatan hanyalah sarana untuk berbuat kebaikan, bukan tujuan untuk dibanggakan. Yang akan menyelamatkan bukanlah titel, popularitas, atau pujian manusia, melainkan amanah yang dijaga dengan kejujuran dan tanggung jawab. Wallahul hadi ila sawais sabil.

Sebab di balik setiap jabatan, selalu ada amanah yang tak ringan. Dan kelak, amanah itulah yang akan berdiri sebagai saksi—apakah jabatan itu menjadi jalan kebaikan, atau justru menjadi sumber penyesalan. (*)

Editor : Arief
#Opini