Oleh: Hasbullah
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN Antasari Banjarmasin
Di Banua, nisfu sya‘ban selalu datang dengan suasana khas. Masjid dan mushalla nyaris tak menyisakan ruang kosong. Sejak azan Magrib berkumandang, jamaah berdatangan memadati masjid dan mushalla. Selepas salat Magrib, jamaah tidak langsung beranjak pulang, rangkaian salat sunnah dilaksanakan seperti salat taubat, salat hajat, dan salat tasbih. Salat taubat menjadi pengakuan atas dosa, salat hajat menjadi ruang berharap, memohon jalan keluar dari persoalan hidup yang tak selalu mudah. Sementara salat tasbih mengalir sebagai pujian, mengingatkan bahwa di balik segala kekurangan manusia, Allah tetap Maha sempurna. Usai rangkaian salat sunnah, dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin dibaca bersama hingga tiga kali. Setiap bacaan disertai niat; memohon umur panjang yang diberkahi, keteguhan dalam ketaatan, ampunan atas kesalahan yang disengaja maupun tidak, rezeki yang halal dan cukup, serta akhir hidup yang husnul khatimah. Niat-niat itu mungkin tidak terucap lantang, tetapi terasa kuat mengalir di setiap ayat.
Setelah salat Isya, diterus dzikir dan doa. Istighfar dibaca berulang-ulang, shalawat dilantunkan dengan lirih, tasbih dan tahmid menyatu dalam keheningan malam. Inilah cara masyarakat mendekat kepada Allah. Menariknya, suasana nisfu sya‘ban tidak hanya terasa di masjid dan mushalla. Keesokan harinya, banyak warga memilih berpuasa. Warung-warung makan yang biasanya buka sejak pagi tampak tertutup. Jalanan terasa lebih lengang. Suasananya mengingatkan pada hari pertama Ramadan. Seolah Nisfu sya‘ban menjadi latihan awal, pemanasan ruhani sebelum memasuki bulan suci yang sesungguhnya.
Bagi masyarakat Kalimantan Selatan, momen ini bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah potret budaya religius yang masih hidup di masyarakat. Dimana malam nisfu sya‘ban diwarnai dengan beragam ekspresi keagamaan. Di banyak tempat, masjid dan mushalla dipenuhi jamaah yang membaca dzikir, istighfar, dan shalawat dengan suasana yang tenang dan tertib. Masyarakat datang untuk berdoa, memohon ampunan, dan menyiapkan diri menyambut Ramadan.
Namun, di ruang digital atau kumonitas tertentu, perdebatan lama kembali muncul antara yang mengamalkan dan yang menolak. Padahal, jika dilihat dari akar keilmuan Islam, Nisfu sya‘ban semestinya menjadi waktu untuk dzikir dan introspeksi diri, bukan ajang saling menyalahkan. Malam ini lebih tepat diisi dengan memperbaiki diri dan menjaga persaudaraan, agar ibadah benar-benar membawa keteduhan, bukan perpecahan.
Dalam kitab-kitab mu‘tabar seperti al-Adzkar karya Imam an-Nawawi, dzikir dianjurkan di setiap waktu dan keadaan. Artinya, memperbanyak dzikir pada malam Nisfu sya‘ban tidak membutuhkan dalil ritual khusus, karena ia telah berdiri di atas anjuran umum syariat. Terlebih lagi, terdapat sejumlah hadis, meski kualitasnya beragam yang menunjukkan bahwa malam ini adalah malam ampunan, kecuali bagi mereka yang menyekutukan Allah dan menyimpan permusuhan.
Para ulama besar seperti Ibnu Hajar al- Asqalani dan Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa hadis-hadis Nisfu sya‘ban, jika dikumpulkan, saling menguatkan dalam konteks fadha’il al-a‘mal. Karena itu, menghidupkan malam Nisfu sya‘ban dengan dzikir, doa, dan taubat dapat disebut sebagai sikap yang ilmiah dan proporsional apabila dilakukan dengan pemahaman yang benar dan seimbang. Artinya, amalan tersebut dijalankan sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah berdasarkan anjuran umum dalam Islam, tanpa meyakininya sebagai ibadah wajib atau ritual khusus yang pasti ditetapkan oleh Nabi Muhammad saw. Sikap ini juga ditandai dengan keterbukaan terhadap perbedaan pendapat ulama, tidak berlebihan dalam mengklaim keutamaan, serta tetap saling menghormati antara mereka yang mengamalkan dan yang tidak, sehingga nisfu sya‘ban menjadi momentum introspeksi dan ketenangan, bukan sumber perdebatan.
Dzikir-dzikir seperti istighfar, tasbih, tahlil, dan shalawat bukan hanya sah dibaca, tetapi justru dianjurkan. Imam al-Ghazali menegaskan bahwa istighfar adalah jalan membersihkan hati sebelum amal diangkat. Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar menegaskan keutamaan istighfar sebagai dzikir paling utama untuk membersihkan dosa dan menenangkan hati. Shalawat, menurut Imam an-Nawawi, adalah dzikir paling utama karena menghubungkan seorang hamba dengan Rasulullah saw, sumber teladan spiritual umat Islam, serta dzikir yang paling cepat diterima, karena doa yang disertai shalawat tidak tertolak
Di tengah kehidupan modern, Nisfu sya‘ban menawarkan pesan sederhana namun mendalam: berhenti sejenak, membersihkan hati, dan memperbaiki relasi dengan Allah serta sesama manusia. Malam ini mengingatkan bahwa ampunan Allah tidak hanya terhalang oleh dosa vertikal, tetapi juga oleh konflik horizontal, permusuhan, kebencian, dan ego sosial.
Pada akhirnya, Nisfu sya‘ban bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum untuk menata ulang cara umat memaknai waktu, ibadah, dan kebersamaan. Masjid yang penuh, dzikir yang lirih, serta puasa keesokan harinya menegaskan bahwa spiritualitas sejati tidak berhenti pada ritual malam, tetapi berlanjut dalam disiplin diri dan keteduhan sosial. Di tengah perbedaan dan perdebatan hukum nisfu sya’ban. Maka nisfu sya‘ban seharusnya dikembalikan pada ruh utamanya: malam introspeksi, pembersihan hati, dan persiapan batin menyambut Ramadan, agar agama benar-benar hadir sebagai kekuatan yang menenangkan, mempersatukan, dan memperbaiki diri. (*)
Editor : Arief