Oleh: Toto Fachrudin
Wakil Direktur Radar Banjarmasin
Pernahkah kita berpikir dan bertanya mengapa bumi ini diciptakan bulat. Sebagian orang meyakini bentuk dan rupa bumi ini adalah datar. Penganut kaum ini beranggapan bahwa dogma bumi bulat adalah konspirasi para elit global untuk menutupi sesuatu yang tak ingin diketahui oleh banyak orang.
Tapi kita tak mendiskusikan teori konspirasi tentang bentuk bumi. Kita berbicara tentang eksistensi keberadaan dalam konsep berpikir kritis. Martin Heidegger (1889 – 1976), filusuf Jerman yang berpengaruh dalam fenomenologi, eksistensialisme dan ontologi, mengajak kita untuk memahami tentang berpikir kritis dan mendalam.
Menurut Martin, berpikir bukan sekadar tahu atau menambah pengetahuan baru. Pemikiran Heidegger ini rasanya cukup relevan dengan kondisi dunia modern saat ini. Berpikir yang mendalam telah tersisih di tengah kebisingan modernitas. Kita sibuk mencari tahu banyak hal, tapi lupa bertanya apa arti dari semua yang kita ketahui.
Berpikir tidak sama dengan mengetahui. Berpikir menurut Heidegger adalah membuka diri terhadap keberadaan atas pengetahuan itu sendiri. Karena itu, ilmu pengetahuan bisa berkembang pesat tanpa menyentuh wilayah berpikir yang sejati.
Dengan provokatif Martin Heidegger mengatakan ilmu pengetahuan tidak berpikir. Maksudnya, sains bekerja dalam kerangka metode ilmiah, melalui pengukuran, pengujian hingga penarikan kesimpulan. Tapi tidak bertanya tentang metode dan kerangka itu sendiri.
Berpikir justru mempertanyakan apa yang selama ini dianggap sudah jelas dan diyakini menurut ilmu pengetahuan. Inilah yang sulit dan enggan dilakukan oleh masyarakat modern. Terlebih sejak hadirnya akal imitasi (AI) yang menggantikan kerja teknis otak manusia untuk mencari jawaban.
Teknologi akal imitasi tak hanya menggantikan cara manusia berpikir, tapi bahkan telah mengatur dan mengendalikan pikiran dan keyakinan kita. Cara berpikir seperti mesin membuat manusia modern cenderung ingin menguasai dunia, bukan mendengarkannya. Saat ini, ilmu pengetahuan menjadi alat untuk memprediksi dan mencari tahu agar bisa mengendalikan segala sesuatu.
Keyakinan atas kebenaran menurut sains inilah yang menutup pikiran manusia modern untuk menerima kemungkinan atas hal-hal mengejutkan yang tak bisa diprediksi. Padahal, menurut Heidegger, berpikir sejati adalah kesediaan untuk tidak segera tahu.
Berpikir menuntut kita melepas kebiasaan intelektual sebagai subjek yang tahu. Karena itu, banyak orang secara sadar atau tidak, menghindari untuk berpikir. Bukan karena malas, tapi karena berpikir dapat mengguncang kesadaran kita dalam memahami diri sendiri dan dunia.
Berpikir kritis, menurut Heidegger, menuntut kita untuk mendengarkan. Ketidakmampuan kita untuk berpikir menunjukkan bahwa kita belum belajar mendengar. Kita terlalu cepat menilai dan menyimpulkan, sehingga dunia menjadi bising dengan jawaban yang belum tentu lahir dari pertanyaan yang tepat. Yang berbahaya bukanlah belum berpikir, tapi merasa sudah berpikir. Berpikir bukan soal kecerdasan, melainkan kesiapan untuk diam dan mendengarkan makna mendekat.
Ketika teknologi mampu memprediksi alam dan cuaca, namun manusia tak mau mendengarkan suara alam, maka pikiran kita terguncang ketika terjadi anomali yang menimbulkan banjir bandang di Pulau Sumatera. Kita tak siap menerima kenyataan bahwa teknologi tak bisa mendengarkan suara alam. Teknologi hanya bisa menangkap tanda dari alam dalam bentuk analisa prediksi.
Bencana di Pulau Sumatera hanyalah satu contoh nyata ketidakmampuan—atau ketidakmauan—untuk mendengar. Masih banyak fenomena yang tak bisa kita—atau tak mau kita dengarkan—meski hanya untuk sejenak. Agar kita masih sadar bahwa kita manusia, bukan mesin kecerdasan atau akal imitasi.
Editor : Arief