Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Literasi Gizi di Era Digital

admin • Kamis, 29 Januari 2026 | 17:22 WIB
Ahmad Syawqi
Ahmad Syawqi

              Oleh: Ahmad Syawqi
              Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

Peringatan Hari Gizi Nasional 2026 memiliki makna yang jauh lebih strategis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Momentum ini beriringan dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program prioritas pemerintah yang menempatkan isu gizi sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia. MBG tidak hanya berbicara tentang pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga tentang investasi jangka panjang bagi kecerdasan, kesehatan, dan produktivitas generasi masa depan. Dalam konteks ini, satu aspek penting yang kerap luput dari perhatian publik adalah literasi gizi, khususnya di era digital, serta peran pustakawan sebagai aktor kunci di dalamnya.

Selama ini, keberhasilan program gizi sering diukur dari aspek kuantitatif: jumlah penerima manfaat, distribusi makanan, atau kecukupan kalori dan protein. Padahal, gizi yang berkelanjutan tidak dapat dilepaskan dari pemahaman masyarakat tentang pangan sehat, pola makan seimbang, dan informasi gizi yang benar. Tanpa literasi gizi yang memadai, program sebesar apa pun berisiko menjadi intervensi jangka pendek yang tidak meninggalkan dampak perubahan perilaku. Di sinilah literasi gizi menjadi pelengkap yang esensial bagi keberhasilan MBG.

Peran Pustakawan

Era digital menghadirkan tantangan sekaligus peluang besar dalam isu gizi. Di satu sisi, masyarakat memiliki akses yang luas terhadap informasi kesehatan dan nutrisi. Di sisi lain, ruang digital juga dipenuhi misinformasi dan hoaks gizi: diet ekstrem, klaim makanan instan yang menyesatkan, hingga mitos kesehatan yang tidak berbasis sains. Banjir informasi ini membuat masyarakat, termasuk anak-anak dan orang tua penerima manfaat MBG, rentan terhadap kebingungan dan kesalahan pengambilan keputusan. Literasi informasi menjadi kunci untuk memilah mana pengetahuan gizi yang valid dan mana yang menyesatkan.

Dalam konteks inilah peran pustakawan menjadi sangat relevan dalam menyukseskan program makan bergizi gratis. Di era digital, pustakawan tidak lagi sekadar penjaga buku, melainkan pengelola pengetahuan dan fasilitator literasi. Pustakawan memiliki kompetensi dalam kurasi informasi, penelusuran sumber tepercaya, serta edukasi literasi informasi kepada masyarakat. Ketika isu gizi menjadi agenda nasional, pustakawan dapat mengambil peran strategis sebagai agen literasi gizi yang berbasis data dan sains.

Perpustakaan, baik perpustakaan sekolah, desa, maupun perguruan tinggi, memiliki potensi besar untuk menjadi pusat literasi gizi masyarakat. Melalui koleksi digital, basis data kesehatan, dan konten edukatif yang terkurasi, perpustakaan dapat menyediakan informasi gizi yang akurat dan mudah diakses. Pustakawan dapat menyusun panduan literasi gizi digital yang relevan dengan Program Makan Bergizi Gratis, misalnya tentang pentingnya protein hewani dan nabati, variasi pangan lokal, serta hubungan gizi dengan kemampuan belajar anak.

Lebih dari itu, perpustakaan dapat bertransformasi menjadi ruang kolaborasi lintas sektor. Program literasi gizi dapat dikembangkan melalui kerja sama antara pustakawan, tenaga kesehatan, sekolah, dan pemerintah daerah. Dalam konteks MBG, perpustakaan sekolah dapat menjadi ruang edukasi bagi siswa penerima manfaat, sementara perpustakaan desa dapat menjangkau keluarga dan masyarakat sekitar. Pustakawan berperan sebagai jembatan pengetahuan antara kebijakan nasional dan pemahaman masyarakat di tingkat akar rumput.

Gaya hidup digital generasi muda juga perlu menjadi perhatian. Anak-anak yang menerima manfaat MBG adalah generasi digital native yang tumbuh dengan gawai dan media sosial. Mereka terpapar berbagai konten makanan instan, iklan, dan tren kuliner yang belum tentu sehat. Literasi gizi berbasis perpustakaan dapat menjadi penyeimbang, dengan menghadirkan konten edukatif yang menarik, berbasis visual, dan mudah dipahami. Pustakawan dapat berinovasi dengan membuat konten literasi gizi digital, infografik, atau kelas daring yang sesuai dengan karakter generasi ini.

Dari perspektif pembangunan nasional, keterkaitan antara gizi, literasi, dan kecerdasan tidak dapat dipisahkan. Anak yang gizinya terpenuhi memiliki kemampuan belajar yang lebih baik, sementara literasi yang kuat membantu mereka memanfaatkan potensi tersebut secara optimal. Dengan demikian, Program Makan Bergizi Gratis dan literasi gizi seharusnya berjalan beriringan. Pustakawan, sebagai penggerak literasi, memiliki posisi strategis dalam memastikan bahwa investasi negara di bidang gizi benar-benar menghasilkan dampak jangka panjang.

Tantangan tentu tidak ringan. Masih banyak perpustakaan yang menghadapi keterbatasan sumber daya, infrastruktur digital, dan dukungan kebijakan. Namun, justru di sinilah momentum Hari Gizi Nasional 2026 menjadi penting. Isu gizi dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat peran perpustakaan dalam agenda pembangunan manusia. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, pustakawan dapat dilibatkan secara sistematis dalam program literasi gizi nasional, termasuk sebagai mitra strategis Program Makan Bergizi Gratis.

Pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh apa yang tersaji di piring makan, tetapi juga oleh apa yang tertanam di benak masyarakat. Literasi gizi adalah fondasi kesadaran jangka panjang, sementara pustakawan adalah penjaga sekaligus penyebar pengetahuan tersebut. Di era digital yang sarat informasi, peran pustakawan menjadi semakin krusial untuk memastikan bahwa masyarakat tidak hanya kenyang secara fisik, tetapi juga cerdas secara nutrisi. Hari Gizi Nasional 2026 seharusnya menjadi momentum untuk menegaskan bahwa pembangunan gizi dan pembangunan literasi adalah dua sisi dari mata uang yang sama dalam mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. (*)

 

Editor : Arief
#Opini #digital #Literasi