Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Manfaat Orang Bahlul

admin • Kamis, 29 Januari 2026 | 17:21 WIB

 

H. Asmu’i Syarkowi
H. Asmu’i Syarkowi

          Oleh: H. Asmu’i Syarkowi
          Hakim PTA Banjarmasin

Siapa pun mafhum bahwa kata bahlul berkonotasi negatif. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikannya secara singkat namun tajam: bodoh. Ketika kata ini disematkan kepada seseorang, ia berubah menjadi cap sosial yang merendahkan—seolah akal dan martabat manusia dapat diukur hanya dari persepsi kecerdasan. Dari kata sifat, bahlul lalu menjelma menjadi kata benda abstrak: kebodohan, yang kerap diposisikan sebagai musuh utama kemajuan dan lawan mutlak dari kepintaran.

Namun sejarah, terutama sejarah kenabian, mengajarkan kita bahwa realitas tidak sesederhana itu. Dalam berbagai riwayat dan anekdot pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, terdapat peristiwa-peristiwa yang dipicu oleh pertanyaan polos, sikap sederhana, atau tindakan orang-orang yang oleh masyarakatnya dianggap tidak cerdas. Anehnya, justru dari kejadian-kejadian itulah wahyu Allah turun atau kaidah keilmuan tertentu dibangun. Berbagai peristiwa itu sering meluruskan kesombongan kaum terpelajar, menegur kekakuan nalar, dan membuka cakrawala hukum serta akhlak yang lebih luas.

Anekdot saat Rasulullah SAW berkhutbah

            Dalam sebuah hadits sahih, saat berkhutbah, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tiba-tiba ditanya oleh seorang laki-laki badui yang tinggal di padang pasir tentang waktu terjadinya hari Kiamat. Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam balik bertanya: amal saleh apa yang telah engkau siapkan untuk itu? Si penanya menjawab: tidak ada amal besar yang aku persiapkan untuk itu, kecuali kecintaanku kepada Allah dan Rasulullah. Tidak ada yang ia sebutkan selain itu di antara amalan hati, badan ataupun harta karena seluruhnya adalah cabang dan turunan dari cinta. Juga, karena cinta yang tulus adalah pendorong untuk bersungguh-sungguh dalam amal saleh. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam lalu bersabda: sungguh, engkau akan bersama orang yang engkau cintai di dalam surga.
Sahabat-sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sontak merasa sangat bahagia dengan kabar gembira itu.

            Gus Baha (K.H. Bahaudin Nursalim) sering membawa anekdot tersebut dengan kemasan dakwah menarik. Menurutnya perbuatan ‘orang Bahlul’ yang kurang etika tersebut, ternyata berdampak luar biasa. Pertama, peristiwa tersebut menjadi hadits mutawatir karena disaksikan oleh orang banyak; kedua, materi yang ditanyakan ternyata membuat semua yang hadir bergembira; ketiga, orang bodoh sering berfikir di luar pakem dan tidak jarang justru menarik sebagai bahan kajian.

Di titik ini, “orang bahlul” justru memiliki manfaat sosial dan spiritual. Keberadaannya memecah kebekuan cara berpikir. Pertanyaan-pertanyaan yang tampak naif sering kali menyingkap kerumitan yang luput dari perhatian orang pintar. Kepolosan mereka menjadi cermin yang memantulkan arogansi intelektual: merasa paling tahu, paling benar, dan paling berhak menilai orang lain.

Islam memandang perbedaan akal sebagai bagian dari sunnatullah. Pintar, cerdas, atau bodoh bukanlah ukuran kemuliaan, melainkan variasi ciptaan Allah yang menyimpan hikmah. Allah menciptakan manusia beragam bukan untuk saling menertawakan, melainkan agar saling membutuhkan. Yang cerdas memerlukan yang sederhana untuk menjaga keikhlasan. Yang pintar memerlukan yang polos agar tetap membumi. Bahkan yang dianggap bodoh sering kali menjadi pengingat bahwa ilmu tanpa akhlak hanyalah kesombongan yang dibungkus logika.

Dalam tatanan sosial, tidak semua orang harus menjadi pemikir, akademisi, atau pemimpin. Ada yang berperan sebagai pelaksana, penjaga nilai, atau sekadar pengingat nurani. Jika semua manusia memiliki kecerdasan dan watak yang sama, dunia justru kehilangan keseimbangan. Perbedaan kapasitas intelektual itulah yang membentuk relasi saling melengkapi, bukan hierarki saling merendahkan.

Sebagai khalifah di bumi, manusia dituntut bukan hanya untuk berpikir cerdas, tetapi juga untuk bersikap adil dan beradab. Merendahkan orang lain dengan label bahlul sejatinya adalah pengingkaran terhadap hikmah penciptaan. Sebab bisa jadi, dalam pandangan langit, yang kita anggap bodoh justru lebih jujur, lebih bersih hatinya, dan lebih dekat kepada kebenaran dibanding mereka yang merasa paling pintar.

Pada akhirnya, manfaat orang bahlul bukan terletak pada “kebodohannya”, melainkan pada pelajaran yang ia hadirkan: tentang kerendahan hati, tentang keterbatasan akal manusia, dan tentang pentingnya saling menghormati. Di hadapan Allah, tidak ada manusia yang sia-sia. Setiap peran—pintar, cerdas, maupun sederhana—adalah bagian dari mozaik besar kehidupan yang saling melengkapi dalam menjalankan amanah kekhalifahan di bumi. Allah al-Hakim. “Do not look down on one another” ( Jangan saling merendahkan satu sama lain). (*)

Editor : Arief
#Opini