Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

(Mengapa) Guru Dituntut Selalu Ramah

admin • Kamis, 29 Januari 2026 | 17:01 WIB
Muhamad Yusuf,
Muhamad Yusuf,

           Oleh: Muhamad Yusuf, S.Pd
           Pengajar Bahasa Indonesia di SMAN 1 Banjarmasin.

Dalam beberapa tahun terakhir, kata ramah menjadi salah satu tuntutan utama yang dilekatkan pada profesi guru. Sekolah ramah anak, pembelajaran menyenangkan, pendekatan humanis. Semuanya bermuara pada satu ekspektasi: guru harus selalu ramah. Guru dituntut tersenyum, menahan emosi, berbicara lembut, dan mengelola kelas tanpa suara meninggi. Pertanyaannya, mengapa tuntutan itu begitu kuat, dan apakah tuntutan tersebut sepenuhnya adil bagi guru sebagai manusia?

Tuntutan agar guru selalu ramah lahir dari kesadaran baru tentang hak anak. Dunia pendidikan perlahan belajar dari masa lalu, ketika kekerasan verbal, hukuman fisik, dan pendekatan otoriter dianggap wajar. Kini, paradigma berubah. Anak dipandang sebagai subjek pendidikan yang harus dilindungi martabatnya. Dalam konteks ini, guru ramah menjadi simbol perubahan: guru yang tidak menakutkan, tidak mengintimidasi, dan tidak melukai secara psikis. Tuntutan ini, pada dasarnya, berangkat dari niat baik.

Namun, niat baik sering kali berubah menjadi beban ketika tidak disertai pemahaman yang utuh. Guru tidak hanya berhadapan dengan satu atau dua anak, tetapi puluhan siswa dengan latar belakang keluarga, karakter, dan masalah yang berbeda-beda. Ada siswa yang datang ke sekolah membawa luka rumah tangga, ada yang terbiasa diluapi amarah, ada pula yang tumbuh tanpa batasan. Dalam situasi seperti ini, keramahan guru diuji setiap hari, bahkan setiap jam.

Mengapa guru dituntut selalu ramah? Karena guru berada di posisi yang paling terlihat. Ketika terjadi konflik di kelas, sorotan publik hampir selalu mengarah ke guru. Jarang ada pertanyaan mendalam tentang sistem sekolah, peran orang tua, atau tekanan administratif yang dihadapi guru. Guru menjadi wajah terdepan pendidikan, sekaligus pihak yang paling mudah disalahkan. Dalam logika ini, keramahan dianggap sebagai tameng: jika guru ramah, konflik dianggap selesai.

Sayangnya, keramahan sering disalahartikan sebagai sikap tanpa batas. Guru ramah kerap dipaksa untuk selalu mengalah, menahan diri, bahkan ketika dilecehkan secara verbal oleh siswa atau dipojokkan oleh orang tua. Ketegasan sering dicurigai sebagai kekerasan, suara meninggi langsung ditafsirkan sebagai ancaman. Akibatnya, banyak guru memilih diam, menarik diri, dan menjalankan tugas sekadarnya demi menghindari masalah.

Di sinilah letak persoalan yang jarang dibicarakan. Guru juga manusia. Guru punya emosi, kelelahan, dan titik jenuh. Guru bisa sedih ketika usahanya tidak dihargai, bisa marah ketika dilecehkan, dan bisa takut ketika setiap tindakan berpotensi dilaporkan. Menuntut guru selalu ramah tanpa menyediakan ruang aman bagi guru untuk mengekspresikan kelelahan adalah bentuk ketidakadilan baru dalam dunia pendidikan.

Keramahan sejatinya bukan topeng, melainkan hasil dari kondisi yang mendukung. Guru akan lebih mudah ramah jika beban administrasi tidak menumpuk, jika jumlah siswa di kelas manusiawi, jika sekolah memiliki aturan yang jelas dan adil, serta jika orang tua dan masyarakat menghargai peran guru. Keramahan tidak bisa dipaksakan dari luar. Keramahan tumbuh dari rasa aman dan dihargai.

Lebih jauh, tuntutan guru untuk selalu ramah sering kali mengabaikan makna pendidikan itu sendiri. Pendidikan bukan hanya soal membuat siswa merasa nyaman, tetapi juga membimbing, menegur, dan memberi batas. Dalam proses mendidik, ada saatnya guru harus tegas, bahkan tidak menyenangkan. Ketegasan bukan lawan dari keramahan; ia justru bagian dari kepedulian. Guru yang benar-benar peduli tidak akan membiarkan kesalahan terus berulang hanya demi menjaga citra ramah.

Ironisnya, ketika guru terlalu ditekan untuk selalu ramah, pendidikan justru kehilangan keberanian moralnya. Sekolah berubah menjadi ruang yang penuh kehati-hatian, bukan kejujuran. Guru berbicara dengan bahasa aman, bukan bahasa mendidik. Siswa tumbuh tanpa batas yang jelas, sementara guru memendam kegelisahan. Dalam jangka panjang, kondisi ini merugikan semua pihak.

Mengapa guru dituntut selalu ramah? Karena masyarakat berharap sekolah menjadi ruang yang manusiawi. Harapan itu tidak salah. Yang keliru adalah ketika keramahan hanya dibebankan kepada guru, tanpa dibagi secara adil dengan sistem, orang tua, dan lingkungan. Sekolah ramah anak seharusnya juga ramah guru. Tanpa itu, keramahan hanya akan menjadi slogan kosong.

Sudah saatnya kita memaknai ulang kata ramah dalam dunia pendidikan. Ramah bukan berarti meniadakan batas, bukan pula menekan emosi demi citra. Ramah adalah sikap menghormati manusia lain dan itu berlaku dua arah. Ketika guru dihormati, didukung, dan dilindungi, keramahan tidak perlu dituntut. Ia akan hadir dengan sendirinya, tulus, dan bermakna.

Jika guru terus dituntut selalu ramah tanpa pernah ditanya keadaannya, kita sedang membangun pendidikan di atas kelelahan yang disenyapkan. Pendidikan yang lahir dari kelelahan, pada akhirnya, hanya akan melahirkan generasi yang kehilangan empati, baik pada guru, maupun pada dirinya sendiri. (*)

Editor : Arief
#Opini #Guru