Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

MBG dan Semangat Cinta Pertanian

admin • Selasa, 27 Januari 2026 | 20:57 WIB
Prof. Dr. Ir. H. Ismed Setya Budi, MS., IPM
Prof. Dr. Ir. H. Ismed Setya Budi, MS., IPM

            Oleh: Prof. Dr. Ir. H. Ismed Setya Budi, MS., IPM
            Prodi Proteksi Tanaman Faperta ULM

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah pusat, patut diapresiasi positif sebagai upaya memenuhi kebutuhan dasar makanan bergizi anak sekolah. Diharapkan terwujud anak masa depan yang sehat dan cerdas.

Berbagai komentar pasti terus akan terjadi antara yang setuju dan menolak, namun realita anak-anak bersorak gembira saat menyambut makan bersama di sekolah. Memang, masalah kekurangan gizi pada anak ditentukan oleh banyak faktor dan solusinya juga tidak bisa hanya dengan makan siang gratis, namun perhatian pemerintah perlu di apresiasi semua pihak.

Dahulu anak berangkat sekolah tanpa makan karena makanan yang dimakan belum tersedia tidak menjadi perhatian, namun sekarang adanya program pemeriksaan rutin kesehatan siswa sekolah terbukti anak kurang gizi masih banyak. Pemerintah berani mengeluarkan anggaran besar untuk 80 juta anak sekolah, tanpa kecuali disatukan dalam satu kebijakan hebat MBG dengan mengelontorkan anggaran negara sekitar Rp. 335 triliun per tahun. Tentu akibat semua ini pasti ada program sektor pendidikan yang jadi korban.

Asupan gizi yang cukup memang sangat penting bagi tumbuh kembang anak, penunjang kemampuan belajar, kecerdasan dan kesehatan jangka panjang. Berjalannya MBG memang sudah terlihat akan mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi sebagian keluarga yang masih kondisi kekurangan ekonomi sehingga akses terhadap makanan bergizi sebelumnya hanya angan dan  sulit di realisasikan akan mudah didapat tanpa perjuangan. Sekolah juga berlomba mendapatkan MBG walau tak mau dikatakan anak  didiknya kekurangan gizi.

Tak mungkin bisa dipungkiri bahwa adanya MBG ada pihak yang diuntungkan dan ada juga pihak yang merasa di rugikan. Namun perlu disadari bahwa citra makan gratis sesungguhkan akan tetap dibayar pada masa depan generasi penerus negeri ini. Generasi penikmat makan gratis akan membayar saat ketika dewasa nanti.

Semakin maju peradapan kehidupan manusia maka tuntutan makanan berkualitas juga semakin meningkat. Dulu manusia asal bisa makan, tapi sekarang manusia milenial bukan lagi asal kenyang tapi makanan harus berkualitas. Nasi, sayur, dan buah yang di makan setiap hari harus berkualitas dengan label organik sebagai jaminan sehat dan menyehatkan manusia yang mengkonsumsinya.

Makanan bergizi memang terdengar indah dan menyenangkan, namun harus juga mendapatkan perhatian serius petinggi negeri ini bahwa Program MBG tidak serta-merta membangun pemahaman anak didik tentang dari mana makanan berasal, bagaimana makanan diproduksi, dan mengapa pangan harus dihargai. Tanpa fondasi tersebut, MBG berisiko berhenti sebagai kegiatan bagi-bagi makanan, bukan sebagai pendidikan menciptakan generasi milenial yang sukses karena perjuangan. Terbukti makanan gratis yang tidak dihabiskan karena tidak sesuai selera maka banyak makanan tersisa yang akhirnya bertumpuk di tempat sampah dibuang siswa dengan tanpa ada penyesalan dan rasa sayang.

MBG adalah langkah awal yang baik, namun tanpa ditopang oleh pendidikan cinta pertanian maka  program ini hanya menyentuh permukaan masalah. Jika pemerintah benar-benar ingin menyiapkan generasi sehat dan mandiri, maka MBG harus berjalan seiring dengan penanaman nilai pertanian berkelanjutan sejak dini pada siswa didik.

Program MBG memberi manfaat langsung, tapi harapan MBG menjadi jembatan emas menuju Indonesia emas 2045 masih perlu dipertanyakan Makan gratis itu tak bisa terus berjalan karena semuanya memerlukan anggaran yang tidak kecil. Makanya MBG harus juga dikaitkan dengan menumbuh kembangkan pola pikir bahwa makan itu hasil dari perjuangan petani yang menanam, memelihara dan panen.

Solusi yang lebih berkelanjutan adalah menjadikan MBG sebagai pintu masuk pendidikan pertanian. Sekolah dapat dilibatkan untuk membuat kebun kecil, mengenalkan jenis tanaman pangan, dan mengkonsumsi hasil tanam yang sudah di perjuangan sendiri dengan menanam, memelihara dan panen sendiri.  Anak akan menikmati hasil perjuangannya yang sudah bersusah payah di tanam di halaman sekolah atau rumah dan akhirnya dinikmati sendiri oleh siswa setelah panen tiba.

Kesadaran siswa makanan itu hasil kerja berat maka akan harus dihabiskan bukan lagi dibuang bila tidak sesuai selera. Secara ilmiah dan sosial, pendidikan pertanian sejak dini membentuk anak yang menghargai pangan,  peduli lingkungan, dan tidak bergantung sepenuhnya pada bantuan Dengan demikian, MBG berubah dari program konsumsi menjadi proses pembelajaran untuk bekal siswa lebih mencintai pertanian di negeri ini.

Cinta pertanian sejak dini perlu mendapat perhatian serius semua pihak. Perlu membangkitkan kesadaran  sejak dini peranana penting pertanian untuk kehidupan. Realita pertanian masih menjadi sumber utama pangan belum tergantikan. Sayur, buah, nasi, telur, dan lauk yang disajikan dalam program MBG semuanya berasal dari hasil pertanian dan peternakan yang diperjuangkan untuk bisa sampi dipanen.  Ironisnya, aspek ini sering tidak disampaikan kepada anak. Anak menikmati makanan, tetapi tidak diajak mengenal proses menanam, merawat, dan memanen bahan pangan. Akibatnya, anak kenyang, tetapi tidak belajar menghargai pangan dan petani. Menyadarkan generasi muda  diharapkan akan menjadi  awal perubahan pola pikir. Anak sekolah saat ini adalah mereka yang sedang belajar berpikir masa depan karena semua harus melewati perjuangan untuk bisa menjadi pemenang unggul masa depan.

Di sinilah pentingnya mengaitkan MBG dengan pendidikan cinta pertanian sejak dini. MBG seharusnya tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga mengisi pengetahuan dan sikap anak. Anak perlu tahu bahwa makanan sehat tidak muncul begitu saja, melainkan melalui kerja petani dan pentingnya mempertahankan produktivitas dengan keseimbangan alam tetap terjaga. Tuntutan makan berkualitas sudah tidak bisa ditunda lagi. Makan asal kenyang sudh mulai ditinggalkan tapi mulai tumbuh berkembang makan yang sehat dan menyehatkan. Disinlah penting bertanam secara organic agar bahan makanan yang dikonsumsi tidak mengandung pestisida dan bahan beracun yang membahayakan manusia yang mengkonsumsinya.

Salah satu cara menumbuhkan cinta pertanian sejak dini adalah dengan mengenalkan kegiatan bertani yang sederhana dan menyenangkan. Anak-anak bisa diajak menanam sayur di pot, botol bekas, atau halaman rumah. Kegiatan ini mengajarkan bahwa tanaman membutuhkan tanah, air, dan perawatan agar bisa tumbuh dengan baik.

Sekolah juga dapat membuat kebun kecil sebagai sarana belajar. Dari kebun sekolah, anak-anak belajar bersabar, bertanggung jawab, dan menghargai alam. Selain itu, anak bisa memahami bahwa sisa makanan dan daun kering dapat diolah menjadi pupuk alami yang baik untuk tanaman berproduksi sehat.Cinta pertanian sejak dini bukan berarti semua anak harus menjadi petani, tetapi anak belajar menghargai alam dan sumber makanan. Dengan mengenal pertanian sejak kecil, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli, bertanggung jawab, dan cinta lingkungan. Jadi pertanian bukan hanya tentang menanam, tetapi tentang menjaga kehidupan. (*)

Editor : Arief
#Opini #Mbg