Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Salat Sebagai Fondasi Etika Digital

admin • Kamis, 22 Januari 2026 | 22:28 WIB
AHMAD SYAWQI
AHMAD SYAWQI

           Oleh: Ahmad Syawqi
           Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW bukan hanya momentum spiritual untuk mengenang peristiwa luar biasa dalam sejarah Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk membaca ulang pesan-pesan keimanan dalam konteks kehidupan mutakhir. Dari seluruh rangkaian Isra Mikraj, Salat adalah pesan paling utama yang diwariskan kepada umat Islam. Ia bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan fondasi pembentukan akhlak dan etika hidup. Di era digital yang sarat distraksi dan krisis moral, pelajaran Isra Mikraj tentang Salat menemukan relevansinya yang sangat kuat.

Isra Mikraj menegaskan keistimewaan Salat dibandingkan ibadah lainnya. Salat tidak diturunkan melalui wahyu biasa, tetapi diterima langsung oleh Rasulullah SAW di hadirat Allah SWT. Ini menunjukkan bahwa Salat adalah pilar utama hubungan manusia dengan Tuhan. Salat adalah Mikraj orang beriman jalan spiritual yang mengangkat manusia dari hiruk-pikuk dunia menuju kesadaran ketuhanan. Namun, pertanyaannya, sejauh mana Salat benar-benar berfungsi sebagai Mikraj spiritual dalam kehidupan digital hari ini?

Era digital telah mengubah cara manusia berinteraksi, berkomunikasi, dan membentuk identitas diri. Media sosial membuka ruang ekspresi tanpa batas, tetapi juga melahirkan problem etika yang serius. Ujaran kebencian, fitnah, hoaks, perundungan siber, hingga budaya pamer dan narsisisme menjadi fenomena sehari-hari. Ironisnya, semua itu terjadi di tengah masyarakat yang secara ritual tampak religius. Kontradiksi ini menunjukkan bahwa ada yang perlu dikaji ulang dalam relasi antara ibadah dan perilaku sosial, khususnya Salat.

Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa Salat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ayat ini menegaskan fungsi etis Salat, bukan sekadar legal-formal. Jika Salat benar-benar ditegakkan dengan kesadaran dan kekhusyukan, maka ia seharusnya membentuk kepribadian yang beradab, termasuk dalam ruang digital. Etika digital sejatinya tidak terpisah dari etika keislaman. Cara seseorang berkomentar, membagikan informasi, dan menanggapi perbedaan pandangan di media sosial mencerminkan kualitas spiritualitasnya.

Namun, realitas menunjukkan bahwa Salat sering kali terjebak dalam rutinitas mekanis. Ia dilaksanakan tepat waktu, tetapi tidak selalu melahirkan kesadaran moral. Salah satu penyebabnya adalah dominasi budaya digital yang menggerus kedalaman refleksi. Notifikasi yang datang tanpa henti membuat perhatian manusia terpecah. Bahkan dalam ibadah, pikiran masih tertaut pada dunia maya. Dalam kondisi seperti ini, Salat berisiko kehilangan ruhnya dan gagal menjalankan fungsi etisnya.

Isra Mikraj mengajarkan bahwa Salat adalah sarana penyucian jiwa. Ia melatih disiplin, kejujuran, kerendahan hati, dan kesadaran akan pengawasan Allah SWT. Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi fondasi etika digital. Seorang Muslim yang menjaga Salatnya dengan baik semestinya lebih berhati-hati dalam bermedia sosial, tidak mudah terpancing emosi, tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, dan menjaga adab dalam perbedaan. Dengan kata lain, Salat yang hidup akan melahirkan tanggung jawab digital.

Teknologi pada dasarnya bersifat netral. Ia dapat menjadi sarana kebaikan atau sumber kerusakan, tergantung bagaimana manusia menggunakannya. Islam tidak menolak teknologi, bahkan mendorong pemanfaatannya untuk kemaslahatan. Namun, teknologi tidak boleh menggantikan kesadaran spiritual. Salat yang dilakukan hanya karena alarm berbunyi, tanpa penghayatan, berpotensi kehilangan daya transformasinya. Dalam konteks ini, tantangan umat Islam bukanlah kurangnya teknologi religius, melainkan lemahnya kesadaran ruhani.

Pelajaran Isra Mikraj juga penting dalam konteks pendidikan, terutama bagi generasi digital native. Anak-anak dan remaja tumbuh dalam lingkungan yang sangat akrab dengan layar dan dunia maya. Mengajarkan etika digital kepada mereka tidak cukup hanya dengan aturan teknis. Diperlukan fondasi nilai yang kuat, dan Salat memiliki peran strategis dalam hal ini. Salat mengajarkan pengendalian diri, kesabaran, dan kesadaran akan konsekuensi moral dari setiap tindakan.

Orang tua dan pendidik perlu menanamkan pemahaman bahwa Salat bukan sekadar kewajiban individual, tetapi memiliki dampak sosial. Keteladanan menjadi kunci. Anak-anak akan belajar etika digital bukan hanya dari nasihat, tetapi dari contoh nyata bagaimana orang dewasa bersikap di ruang digital. Salat yang dijaga dengan kesadaran akan memantul dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam penggunaan teknologi.

Pada akhirnya, Isra Mikraj mengingatkan bahwa krisis etika yang dihadapi manusia modern bukan semata-mata akibat kemajuan teknologi, melainkan akibat lemahnya fondasi spiritual. Salat hadir sebagai solusi mendasar. Ia bukan hanya sarana komunikasi dengan Tuhan, tetapi juga sumber nilai yang membimbing manusia dalam menghadapi tantangan zaman. Etika digital tanpa fondasi spiritual akan rapuh, sementara Salat tanpa dampak etis akan kehilangan maknanya.

Pelajaran Isra Mikraj menegaskan bahwa Salat harus kembali dihidupkan sebagai fondasi etika, termasuk etika digital. Di tengah dunia maya yang bising, Salat adalah ruang sunyi yang menata ulang nurani. Jika Salat benar-benar ditegakkan dengan kesadaran, maka ia akan melahirkan manusia digital yang beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab serta manusia yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan arah spiritualnya. (*)

Editor : Arief
#Opini