Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Trump dan Obsesi terhadap Dominasi

admin • Selasa, 20 Januari 2026 | 20:05 WIB
Najamuddin Khairur Rijal
Najamuddin Khairur Rijal

           Oleh: Najamuddin Khairur Rijal
           Dosen Hubungan Internasional
           FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

Siapa pun yang mengikuti manuver Presiden Amerika Serikat Donald Trump, selama masa kepresidenannya yang pertama hingga fase politik terkininya, akan sampai pada satu kesan bahwa Trump tampak sangat sibuk mengurusi dunia.

Dari China, Eropa, Timur Tengah, hingga Amerika Latin, hampir tidak ada kawasan yang luput dari pernyataan keras, ancaman tarif, maupun tekanan diplomatik darinya. Seolah Trump menyiratkan ambisi untuk menguasai banyak negara. Namun jika ditelaah lebih lanjut, apa yang sedang dimainkan Trump bukanlah ekspansi teritorial ala imperialisme klasik, melainkan sebuah proyek dominasi global versi abad ke-21.

Obsesi Neo-imperialisme

Trump hampir tidak berbicara tentang penjajahan atau pendudukan wilayah, tetapi sangat obsesif terhadap satu hal, yakni memastikan AS selalu berada di posisi atas. Sementara negara lain, baik kawan maupun lawan, harus tetap berada dalam bayang-bayang kekuatan Washington. Pendekatan realisme-ofensif yang dikembangkan oleh John J. Mearsheimer, seorang ilmuwan politik dan ahli teori hubungan internasional, menjadi relevan untuk memahami itu.

Dalam logika Mearsheimer, negara besar tidak pernah puas hanya dengan bertahan, tetapi mereka akan selalu berupaya memaksimalkan kekuatan relatifnya untuk mencegah munculnya pesaing. Dalam kacamata ini, dunia adalah arena zero-sum, kemenangan satu pihak selalu berarti kekalahan pihak lain.

Cara Trump membaca politik global sejalan dengan logika tersebut. Ketika Trump memicu perang dagang dengan China, misalnya, kebijakan tarif yang agresif bukan sekadar soal defisit perdagangan. Langkah itu dimaksudkan untuk menekan Beijing agar mengubah perilaku strukturalnya, mulai dari praktik transfer teknologi hingga subsidi industri strategis. Bagi Trump, perdagangan bukan arena kerja sama, melainkan senjata untuk memaksa lawan bertekuk lutut.

Pola serupa terlihat dalam relasinya dengan sekutu, negara-negara anggota NATO. Trump berulang kali menekan anggota NATO agar menaikkan belanja pertahanan. Secara faktual, tekanan ini memang berdampak. Laporan NATO menunjukkan peningkatan signifikan belanja militer negara-negara anggota. Namun, pesan politiknya jauh lebih keras, yakni bagi Trump, keamanan Eropa bukan hak otomatis, melainkan komoditas yang harus “dibayar”. Pada akhirnya, aliansi direduksi menjadi relasi transaksional.

Lebih jauh, apa yang ditunjukkan Trump dalam pekan-pekan awal 2026 menampakkan wajah neo-imperialisme. Trump mungkin tidak membutuhkan koloni, tetapi yang ia incar adalah kendali dan dominasi atas rantai pasok strategis, sumber daya kritis utamanya minyak, dan kendali atas keputusan politik negara lain.

Konteks Domestik

Namun demikian, agresivitas Trump juga tidak bisa dilepaskan dari konteks domestik AS. Trump sangat sibuk di luar negeri justru karena ia sedang bertarung di dalam negeri. Ketika konflik internal menguat, polarisasi politik, kasus hukum, atau terjadi ketidakpuasan ekonomi rakyat AS, panggung internasional menjadi alat untuk membangun citra strongman. Retorika “America First” membutuhkan musuh eksternal agar tetap hidup. Maka China, Rusia, Iran, Venezuela, migran, organisasi internasional, bahkan sekutu lama, semuanya bisa diposisikan sebagai ancaman terhadap kejayaan Amerika. Hal ini sejalan dengan konsep diversionary foreign policy, yakni kebijakan luar negeri yang bersifat pengalihan, sebagai sebuah strategi mengalihkan perhatian publik dari masalah domestik.

Selain itu, Trump sering dicap sebagai pemimpin anti-tatanan internasional. Terbaru, Trump menarik diri dari 66 organisasi internasional dan konvensi global. Trump sesungguhnya bukan anti tatanan global total, tetapi ia menolak tatanan yang tidak bisa ia kendalikan. Organisasi perdagangan dunia (WTO) dianggap bermasalah karena mekanisme penyelesaian sengketanya membatasi kebebasan AS. NATO dikritik karena menuntut komitmen kolektif. Bahkan PBB diledek sebagai forum yang tidak adil bagi AS.

Problemnya bukan pada keberadaan institusi-institusi tersebut, melainkan pada fakta bahwa mereka mengurangi ruang unilateral Washington. Dengan kata lain, Trump ingin menundukkan tatanan internasional, alih-alih menghancurkannya. Trump ingin sistem global bekerja secara selektif, yaitu hanya menguntungkan AS.

Pada titik ini, Trump sedang memainkan bentuk dominasi yang lebih modern, lebih murah, dan mungkin saja lebih efektif daripada perang terbuka. Dominasi yang bekerja melalui tarif, teknologi, aliansi bersyarat, dan tekanan psikologis. Dunia menghadapi eksperimen baru tentang bagaimana kekuasaan global dijalankan, dan Trump tampaknya sangat menikmati peran sebagai arsitek dari eksperimen tersebut.

Lalu, apa yang perlu dilakukan Indonesia? Indonesia tidak bisa lagi sekadar mengandalkan retorika politik luar negeri bebas aktif sebagai slogan, tetapi ia harus diterjemahkan menjadi strategi yang pragmatis dan berbasis kepentingan nasional. Tidak perlu ikut menjadi agresif, tetapi juga tidak boleh naif. Sebab, jika tidak, Indonesia hanya akan menjadi penonton di tengah kompetisi kekuatan besar yang semakin brutal dan semakin transaksional. Bagaimana menurut Anda? (*)

Editor : Arief
#donal trump