Oleh: Ramli Arisno
Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin
Banjir kali ini hampir tak menyisakan ruang untuk memilih. Hampir semua kabupaten dan kota di Kalsel terdampak. Air datang serentak, menutup jalan, merendam rumah, memutus akses, dan memaksa ribuan warga bertahan dalam keterbatasan.
Sebagai warga Banua yang hidup dengan rasa solidaritas yang kuat, niat untuk membantu tumbuh dengan sendirinya. Masalahnya kemudian bukan pada mau atau tidak mau membantu, melainkan kepada siapa dulu bantuan itu harus diberikan.
Apakah kepada daerah yang paling parah? Yang paling dekat? Atau yang wilayahnya paling luas terdampak?
Semua sama-sama membutuhkan. Dan di situlah kebingungan itu lahir.
Saya ingin bercerita sedikit, dan semoga cerita ini dapat memberi jawaban. Pertemuan tak sengaja dengan seorang anggota dewan provinsi di lokasi bencana di Kabupaten Banjar.
Iseng saya tanya, kok tidak ikut yang lain kunker ke Jatim.
Dari perbincangan dengannya yang tengah sibuk mengangkat bantuan, saya coba ringkaskan. Bahwa sulit baginya merasa pantas bepergian, apapun istilah resminya, saat di daerah sendiri masih terkena musibah. Air masih naik, dan warga yang sedang bertahan hidup di tengah keterbatasan.
Ia memilih jalan sunyi. Mengangkat karung beras, kardus mi instan dan sembako. Naik jukung di atas jalan yang terendam, menyusuri air keruh, mendatangi warga yang terisolasi.
Tidak ada kamera. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada unggahan media sosial.
Saya sempat menawarkan untuk membantu mempublikasikan kegiatannya. “Kalau mau, bisa saya rilis ke media online,” kata saya. Ia menolak. Alasannya sederhana tapi dalam: takut merusak keikhlasan, takut nilai amalnya berubah.
Yang lebih menarik, bantuan itu tidak disalurkan ke daerah pemilihannya sendiri di Dapil IV Tanah Bumbu dan Kotabaru. Ia memilih wilayah yang menurutnya paling parah dan paling membutuhkan, meski secara politik tak memberinya keuntungan apa pun.
Dari situ, kegelisahan saya perlahan menemukan penawarnya. Bahwa mungkin pertanyaan “siapa yang harus dibantu lebih dulu” tidak selalu perlu dijawab dengan rumus yang rumit. Kadang jawabannya cukup dengan kepekaan nurani: siapa yang paling tidak punya pilihan, itulah yang lebih dulu dituju.
Bukan soal kedekatan geografis. Bukan soal ikatan politik. Bukan pula soal siapa yang akan terlihat paling berjasa.
Di tengah musibah, bantuan bukan tentang siapa yang memberi, tapi tentang siapa yang paling membutuhkan. Dan keikhlasan, rupanya, justru bekerja paling baik saat ia berjalan dalam sunyi.
Di Banua ini, kita mungkin tidak bisa membantu semua orang sekaligus. Tapi kita selalu bisa memilih untuk membantu dengan hati yang ikhlas. Dan itu, sering kali, sudah lebih dari cukup. (*)
Editor : Arief