Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Menjaga Alam Kalimantan untuk Generasi Mendatang (Perspektif Psikologi Pendidikan dan Konseling)

admin • Rabu, 14 Januari 2026 | 21:20 WIB
Mufida Istati, M.Pd
Mufida Istati, M.Pd

            Oleh: Mufida Istati, M.Pd
            Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam
            Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Peristiwa banjir yang sedang melanda di beberapa wilayah di Kalimantan Selatan menjadi pengingat bahwa alam bukan sekadar latar kehidupan, tetapi juga bagian integral dari kesehatan fisik dan mental masyarakat khususnya generasi muda. Sabtu, 27 Desember 2025, banjir bandang yang terjadi akibat hujan deras dengan intensitas tinggi menerjang beberapa desa di Kecamatan Tebing Tinggi dan Halong, serta wilayah lain turut terdampak banjir biasa di Kecamatan Awayan. Ribuan rumah terendam, ratusan warga dievakuasi, dan warga kini membutuhkan bantuan logistik untuk memulihkan kondisi rumah, sekolah,dan sarana dan prasarana untuk pelayanan masyarakat. Kejadian banjir yang dialami masyarakat bukan hanya bencana fisik; dari sudut pandang psikologi pendidikan dan konseling, bencana lingkungan dapat meninggalkan jejak emosional jangka panjang, terutama pada anak dan remaja yang mengalami langsung kejadian tersebut.

Dampak Kerusakan Alam pada Psikologi Anak dan Remaja. Dalam psikologi perkembangan, masa kanak-kanak dan remaja merupakan periode penting pembentukan identitas, regulasi emosi, dan rasa aman. Kejadian traumatis seperti banjir dapat memicu tingkat stres tinggi, kecemasan, bahkan gangguan stres pascatrauma pada sebagian anak yang menyaksikan rumahnya terendam, keluarganya dievakuasi, atau harus mengungsi dari lingkungan yang mereka anggap “aman.” Dalam teori konseling, trauma lingkungan seperti bencana alam memengaruhi perasaan keamanan internal seseorang, yang berpotensi berdampak pada kemampuan belajar, berkomunikasi, dan berinteraksi sosial di sekolah. Kondisi seperti ini dapat menjadi pengalaman yang melemahkan rasa aman anak jika tidak ditangani dengan pendekatan psikologis yang tepat.

Peran Sekolah dalam Memulihkan Psikologis Pasca-Bencana. Sekolah sebagai lingkungan pendidikan kedua setelah keluarga memiliki peran penting dalam mendukung pemulihan mental siswa yang terdampak bencana. Psikologi pendidikan menekankan bahwa pembelajaran bukan hanya soal kognitif, tetapi juga mendukung keterampilan sosial-emosional. Guru dan konselor sekolah perlu bekerja sama menyediakan safe space (ruang aman) untuk siswa berbagi pengalaman, mengelola emosi, dan membangun kembali rasa tenang setelah trauma.

Pendekatan pedagogis peka trauma seperti diskusi kelompok, kegiatan ekspresif (menulis, menggambar), serta pembelajaran berbasis alam setelah kondisi stabil dapat membantu siswa memproses pengalaman mereka. Pembelajaran di ruang terbuka atau taman sekolah yang hijau juga dapat menenangkan sistem saraf setelah pengalaman bencana, karena alam dikenal sebagai medium yang mendukung regulasi emosi serta menurunkan stres. Anak yang kembali berinteraksi positif dengan alam setelah bencana dapat merasakan rasa harapan dan keterhubungan kembali, yang penting untuk resiliensi mental jangka panjang.

Konseling sebagai Upaya Intervensi. Setelah kejadian banjir, layanan konseling di sekolah dan komunitas tidak hanya diperlukan untuk mereka yang dianggap “terlihat” trauma, tetapi juga untuk anak-anak yang mungkin menunjukkan perubahan perilaku seperti penurunan minat belajar, sulit tidur, atau terjadinya perubahan perilaku yang tidak mendukung keberhasilan pengembangan potensi anak dan remaja. Psikolog atau konselor perlu bekerja sama dengan guru untuk mengidentifikasi tanda-tanda ini sejak dini. Pendekatan konseling berbasis kekuatan (strength-based counseling) bisa digunakan, yakni membantu anak menyadari kemampuan dalam menghadapi kesulitan, sekaligus memfasilitasi dukungan sosial dari teman sebaya. Hal ini penting karena dukungan sosial adalah salah satu faktor protektif utama dalam menghadapi stres akibat bencana alam.

Peran Keluarga dalam Menjaga Kesehatan Mental setelah Banjir. Keluarga adalah unit pertama dalam pembentukan rasa aman dan regulasi emosi anak. Dampak dari kejadian banjir mempengatuhi rutinitas keluarga menjaditerganggu. Rumah yang kotor karena lumpur, kebutuhan logistik yang belum terpenuhi, serta kekhawatiran mengenai masa depan rumah dan lingkungan bisa menjadi faktor pemicu stres. Orang tua diharapkan memiliki pemahaman tentang bagaimana membantu anak pascabencana. Ruang komunikasi terbuka di rumah yang diciptakan di rumah mempengaruhi anak merasa aman menceritakan pengalaman tanpa dihakimi. Kegiatan bersama seperti membersihkan rumah, merapikan barang, atau menanam kembali tanaman yang rusak bisa menjadi sarana untuk memulihkan hubungan emosional dan menanamkan rasa harapan bahwa situasi akan membaik.

Lingkungan Alam sebagai Sarana Pemulihan Emosional. Menjaga dan memulihkan alam Kalimantan bukan hanya soal ekologis tetapi juga psikologis. Alam memiliki efek terapeutik yang telah banyak digunakan dalam pendekatan konseling berbasis alam (ecotherapy). Cabang psikologi ini melihat alam sebagai alat bantu utama dalam mengurangi kecemasan dan memulihkan keseimbangan emosional. Setelah kejadian banjir, rekoneksi positif dengan alam melalui kegiatan bertahap seperti berkebun, jalan santai di area hijau, atau bahkan pembelajaran lingkungan bisa membantu anak-anak mengurangi ketegangan emosional. Ketika anak memahami bahwa alam juga dapat menyembuhkan, bukan hanya menghukum melalui bencana, maka mereka membangun rasa keterhubungan yang sehat dengan lingkungan merupakan bagian penting bagi kesehatan mental di masa depan.

Strategi Pendidikan dan Kebijakan untuk Masa Depan. Peristiwa banjir yang terjadi di wilayah Kalimantan Selatan menjadi pengingat bahwa perubahan iklim, kerusakan hutan, tata Kelola lingkungan sangat penting menjadi kajian bersama semua pihak. Dalam psikologi pendidikan, penting bagi anak yang dibekali pengetahuan bagaimana alam bekerja dan bagaimana mempersiapkan diri menghadapi bencana cenderung lebih mampu mengelola kecemasan tentang masa depan. Pemerintah daerah dan sekolah perlu menyediakan program yang berkelanjutan untuk mengintegrasikan pembelajaran alam dan kesiapsiagaan untuk kejadian-kejadian alam sesuai dengan karakteristik geografis daerah. Layanan konseling pascabencana harus menjadi bagian tak terpisahkan dari respons bencana bukan sekadar pemberian logistik semata. Bencana seperti banjir bukan hanya soal air yang mengalir, tetapi tentang bagaimana pengalaman itu membentuk psikologi generasi yang tumbuh di dalamnya. Dengan menggabungkan pendidikan yang peduli lingkungan dan layanan konseling yang peka trauma, kita tidak hanya menyelamatkan tubuh, tetapi juga jiwa anak-anak Kalimantan untuk membangun fondasi kesehatan mental dan kesadaran menjaga alam untuk masa depan generasi selanjutnya. (*

Editor : Arief
#Opini