Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Alarm dari Alam

Toto Fachrudin • Senin, 12 Januari 2026 | 08:54 WIB
Toto Fachrudin, Wakil Direktur Radar Banjarmasin
Toto Fachrudin, Wakil Direktur Radar Banjarmasin

          Oleh: Toto Fachrudin
          Wakil Direktur Radar Banjarmasin

Sudah dua pekan banjir merendam sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan. Beri ruang jeda untuk memori kita. Mengingat kembali ketika banjir yang lebih parah melumpuhkan kehidupan masyarakat. Pekan kedua Januari 2021, hujan deras 4 hari tanpa jeda, membuat 11 dari 13 kabupaten di Kalsel menghadapi banjir dan tanah longsor.

Rupanya alam tak ingin memberi waktu jeda yang lebih lama. Siklus banjir besar yang terjadi dalam rentang 20 tahun hingga 50 tahunan menjadi lebih pendek. Masih di bulan yang sama, di awal tahun 2026, hanya dalam jeda waktu 5 tahun, banjir kembali merendam di hampir seluruh wilayah Kalsel. Ini bukan anomali, bukan pula siklus alami, tapi menjadi alarm dari alam.

Secara teknis, banjir yang terjadi disebabkan curah hujan tinggi berkepanjangan. Ditambah pasang rob akibat naiknya permukaan air laut. Diperparah fenomena siklon, sehingga memicu pembentukan awan konvektif yang intens dan hujan ekstrem.

Secara geografis, sebagian besar wilayah Kalsel merupakan area dataran rendah dengan sungai-sungai besar yang bermuara di hulu Sungai Barito. Inilah risiko nyata di depan mata. Topografi dan bentang alam ini berisiko tinggi menimbulkan banjir jika hujan ekstrem dan pasang rob terjadi.

Bila banjir besar di tahun 2021 dipengaruhi fenomena La Nina, dan tahun ini dipengaruhi anomali siklon yang tak biasa, maka banjir bukan lagi sekadar kejadian biasa. Kalau tak ada asap tanpa ada api, maka bisakah logika sederhana itu menjawab penyebab terjadinya banjir?

Jawabannya tentu sangat tergantung pada siapa yang menjawab. Bagi masyarakat, banjir besar terjadi akibat kerusakan alam yang parah. Tapi menurut pengusaha dan penguasa, banjir dianggap fenoma alam yang natural dan terus berulang.

Bukti ilmiah tidak selalu menyederhanakan penyebab banjir pada satu faktor tunggal saja. BMKG menjelaskan bahwa faktor utama banjir besar adalah hujan ekstrem. Tetapi ancaman di daerah aliran sungai yang sudah rapuh, permukiman yang semakin padat, alih fungsi hutan dan lahan sawah – bahkan hal paling kecil seperti membuang sampah sembarangan – juga
menjadi pencetus terjadinya banjir dan genangan air.

Banjir di tahun 2021 dan 2026 merupakan alarm, bahwa banjir bukan hanya soal fenomena alam, tapi juga soal pilihan manusia dalam mengelola alam. Murka alam tak bisa dilawan. Banjir pun tak bisa ditolak. Tapi seperti hujan yang bisa dialihkan dengan teknologi modifikasi cuaca, maka banjir pun bisa dimitigasi dan diminimalisir dampak serta risikonya.

Pertama, mitigasi risiko harus menjadi prioritas nyata. Perkuat daya tahan tangkapan air di hulu sungai, rehabilitasi bekas lahan tambang, serta menjaga dan melindungi fungsi alami DAS. Ini adalah investasi jangka panjang untuk membuat tanah bisa menyerap air dan mengurangi limpasan ekstrem.

Kedua, kebijakan publik yang terpadu antara lingkungan, tata ruang, dan pembangunan. Jangan ada jembatan, apalagi bangunan permanen yang menutup aliran sungai. Pilihannya adalah membongkar, mengalihkan, atau membersihkan semua aliran air, baik di sungai, saluran drainase dan titik tergenangnya air. Perkuat komitmen untuk menegakkan aturan tata guna lahan yang mendukung dengan kapasitas lingkungan. Tapi ingat, regulasi yang kuat tanpa pengawasan hanya jadi omong kosong.

Ketiga, masyarakat diberi ruang, peran, dan tanggung jawab untuk ambil bagian. Edukasi tentang pencegahan banjir dari kebiasan rutin yang kecil tapi berdampak besar, seperti memilah dan membuang sampah yang benar. Dorong masyarakat untuk terlibat dalam aksi bersama menjaga dan melindungi lingkungan tempat tinggal dari potensi banjir atau genangan air.

Banjir adalah siklus alam yang tak bisa sepenuhnya dihindari. Air datang dari langit, melalui mekanisme iklim yang kini semakin sulit dianalisa dan diprediksi. Namun, manusia masih punya pengetahuan dan teknologi untuk bisa melakukan mitigasi.

Hanya saja pengetahuan dan teknologi menjadi tiada arti, bila tak didukung kebijakan yang berpihak pada kelestarian alam. Pada akhirnya, kebijakan berorientasi lingkungan pun tak akan efektif bila tak ada kepedulian dan partisipasi aktif masyarakat.

Eksploitasi hutan yang massif menjadi pertambangan dan perkebunan adalah faktor yang diyakini sebagai penyebab utama terjadinya banjir. Tapi, tanpa disadari atau mungkin tak mau disadari, sikap cuek membuang sampah sembarangan, menutup aliran sungai, hingga mengalihfungsikan lahan sawah dan rawa, adalah faktor yang memperparah banjir.

Inilah cara alam mengingatkan kita. Memberi alarm melalui kiriman air dari langit dan laut. Beri ruang jeda untuk melakukan refleksi, mengamati jejak kaki kita di tanah yang tergenang. Berpikir dan bertanya, bagaimana kita menjaga Banua ini agar banjir menjadi pelajaran, bukan tragedi berulang. Karena kita tak pernah tahu, kapan alam akan kembali membunyikan alarm. Sebab, banjir lagi bukan sekadar kejadian alami, tapi karena alam marah dengan keegoan manusia.

 

Editor : Arief
#ruang jeda