Oleh: Ahmad Syawqi
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin
Indonesia Emas 2045 sering dibicarakan dalam bahasa statistik yaitu perihal adanya bonus demografi, pertumbuhan ekonomi, transformasi digital, dan daya saing global. Namun ada satu fondasi yang kerap luput dari perhatian, padahal menentukan arah semua indikator tersebut yaitu LITERASI. Lebih dari itu, ada aktor kunci yang bekerja senyap namun strategis dalam membangun literasi bangsa yaitu perempuan.
Dalam momentum Hari Ibu Nasional 22 Desember 2025, dengan tema “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045”, sudah saatnya kita menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai subjek utama peradaban pengetahuan. Sejarah dan realitas hari ini menunjukkan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada sejauh mana perempuan diberdayakan dalam dunia literasi.
Sejak lama, perempuan memegang peran sentral dalam proses pewarisan pengetahuan. Dari rumah tangga hingga ruang publik, dari cerita pengantar tidur hingga ruang baca, perempuan sering kali menjadi pendidik pertama dan penjaga nilai. Literasi tidak hanya lahir dari sekolah, tetapi dari budaya membaca, berdialog, dan berpikir kritis yang ditanamkan sejak dini dan di sinilah peran perempuan begitu dominan.
Dalam konteks modern, peran ini tidak berkurang, justru semakin kompleks. Perempuan kini tidak hanya mengajarkan membaca, tetapi juga menyaring informasi, mengenalkan etika digital, dan membimbing generasi muda menghadapi banjir informasi. Di tengah derasnya arus konten digital, perempuan menjadi penjaga nalar yang memastikan bahwa informasi tidak sekadar dikonsumsi, tetapi dipahami secara kritis.
Tantangan Baru Literasi Bangsa
Indonesia saat ini tidak kekurangan informasi. Yang kita hadapi justru adalah kelebihan informasi yang sering kali tanpa kualitas dan konteks. Media sosial, mesin pencari, dan kecerdasan buatan telah mengubah cara masyarakat mengakses pengetahuan. Dalam situasi ini, literasi tidak lagi cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup literasi digital, literasi informasi, literasi data, dan literasi etika.
Tantangan ini berdampak langsung pada kualitas demokrasi, pendidikan, dan kohesi sosial. Hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, dan manipulasi algoritma tumbuh subur di tengah rendahnya literasi kritis. Jika kondisi ini dibiarkan, Indonesia Emas 2045 berisiko dibangun di atas fondasi rapuh.
Di titik inilah peran perempuan sebagai ibu, pendidik, pustakawan, guru, penulis, dan aktivis literasi menjadi semakin vital. Mereka berada di garis depan pembentukan kesadaran literasi masyarakat.
Penjaga Peradaban Pengetahuan
Salah satu representasi konkret peran perempuan dalam literasi adalah pustakawan. Di banyak perpustakaan Indonesia, perempuan menjadi tulang punggung pengelolaan pengetahuan. Namun peran mereka sering disalahpahami sebagai administratif belaka, padahal tugasnya kini jauh melampaui itu.
Perempuan pustakawan hari ini harus menjadi kurator informasi di tengah banjir data digital, membimbing pemustaka agar tidak terjebak hoaks dan plagiarisme, mengajarkan literasi informasi dan etika penggunaan teknologi, menghubungkan masyarakat dengan sumber pengetahuan yang kredibel.
Mereka bekerja di ruang sunyi, tetapi dampaknya menentukan kualitas kecerdasan kolektif bangsa. Tanpa literasi yang kuat, teknologi hanya akan mempercepat penyebaran kebodohan, bukan kemajuan.
Perempuan dan Literasi
Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan generasi unggul: cerdas, berkarakter, adaptif, dan berdaya saing global. Semua itu mustahil tercapai tanpa literasi yang kokoh. Literasi adalah hulu pembangunan sumber daya manusia.
Pemberdayaan perempuan dalam literasi berarti memperkuat pendidikan keluarga, meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah, memperbaiki budaya diskusi publik, menjaga etika informasi dalam demokrasi digital.
Negara-negara maju menunjukkan korelasi kuat antara tingkat literasi perempuan dan kualitas pembangunan manusia. Ketika perempuan berdaya dalam literasi, mereka tidak hanya mengubah hidupnya sendiri, tetapi juga mengangkat kualitas generasi berikutnya.
Pemberdayaan perempuan tidak cukup dengan slogan. Ia membutuhkan kebijakan nyata yang memberi ruang, dukungan, dan keadilan struktural. Meski perannya strategis, perempuan dalam dunia literasi masih menghadapi berbagai hambatan seperti halnya akses pelatihan dan pengembangan kapasitas yang tidak merata, beban ganda antara peran domestik dan profesional, minimnya pengakuan terhadap kerja literasi yang bersifat kultural, kebijakan yang belum sepenuhnya berperspektif gender.
Untuk menjadikan perempuan sebagai pilar literasi menuju Indonesia Emas 2045, beberapa langkah strategis perlu ditempuh, diantara adalah dengan penguatan literasi perempuan sejak dini. Program literasi harus menyasar perempuan sejak usia sekolah, termasuk literasi digital dan kritis.
Kemudian menjadikan perpustakaan sebagai ruang pemberdayaan. Perpustakaan perlu difungsikan sebagai pusat literasi keluarga dan komunitas, dengan perempuan sebagai motor penggeraknya. Disamping juga peningkatan kapasitas profesional seperti para guru, pustakawan, dan pegiat literasi perempuan perlu didukung dengan pelatihan berkelanjutan, khususnya terkait teknologi dan AI.
Melalui negara perlu melahirkan kebijakan publik yang berpihak. Negara harus menjadikan literasi sebagai agenda strategis nasional dan memastikan keterlibatan perempuan dalam perumusan kebijakan. Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, perpustakaan, komunitas, dan media sangat penting untuk membangun budaya literasi yang berkelanjutan sebagai bentuk penguatan ekosistem literasi digital.
Indonesia Emas 2045 bukan sekadar target waktu, melainkan proyek peradaban. Ia membutuhkan warga yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga matang secara intelektual dan etis. Dalam proyek besar ini, perempuan memegang kunci penting.
Ketika perempuan berdaya dalam literasi, mereka melahirkan generasi yang mampu berpikir kritis, berempati, dan bertanggung jawab. Ketika perempuan berkarya di dunia literasi, mereka sedang menulis masa depan Indonesia.
Hari Ibu Nasional 2025 seharusnya menjadi momentum refleksi:
bahwa membangun bangsa tidak selalu dimulai dari megaproyek dan teknologi mutakhir, tetapi dari ruang baca, dialog keluarga, dan kesadaran literasi yang dipelihara perempuan setiap hari.
Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat kita menguasai teknologi, tetapi oleh seberapa bijak kita memahami pengetahuan dan di sanalah perempuan berdiri di garis terdepan. (*)
Editor : Arief