Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kasus Dosen Meludahi Karyawa Toko Swalayan

admin • Selasa, 30 Desember 2025 | 21:15 WIB

 

Bagong Suyanto
Bagong Suyanto

           Oleh: Bagong Suyanto
           Guru Besar Sosiologi FISIP Universitas Airlangga

Setiap tindakan yang melanggar nilai kepantasan, di era digital seperti sekarang ini sulit untuk ditutup-tutupi. Kasus seorang dosen yang meludahi seorang karyawan supermarket di Makassar mendadak viral karena terdeteksi oleh CCTV yang terpasang di sana. Berbeda dengan masa lalu di mana perilaku tidak pantas yang dilakukan seseorang kepada orang lain hanya disaksikan offline oleh orang-orang secara terbatas. Kini, sebuah tindakan yang terekam kamera niscaya akan viral dan dapat disaksikan secara online oleh jutaan netizen di dunia maya.

            Bayangkan, seorang dosen (yang kebetulan laki-laki) hanya gara-gara tersinggung karena ditegur karyawan supermarket tiba-tiba meludahi muka karyawati perempuan yang tidak berdaya itu. Si karyawan menegur yang bersangkutan karena dinilai tidak mau bersabar antri. Oknum dosen Universitas Islam Makassar (UIM) bernama Amal Said itu, mengklaim berhak marah karena merasa tidak salah memotong antrian. Sedangkan di karyawan terpaksa diam saja karena tentu ia takut  persoalan akan menjadi panjang dan berisiko merugikan posisinya.

            Entah karena merasa harga dirinya terganggu atau karena didukung teman-teman kerjanya, si karyawan yang diludahi dosen itu akhirnya melaporkan peristiwa yang dialami ke kepolisian. Dosen yang meludahi kasir supermarket itu sebetulnya telah meminta maaf dan berkilah perilaku yang dilakukan akibat terbawa emosi. Tetapi, karena kasusnya keburu viral dan menjadi pergunjingan netizen, maka penyelesaian secara kekeluargaan sebagaimana diharapkan pelaku tidak bisa dipenuhi.

Arogansi

Universitas Islam Makassar (UIM), tempat pelaku mengajar, kini telah memutuskan untuk memecat dosen bernama Amal Said itu buntut kasus meludahi kasir toko swalayan. Pihak UIM secara terbuka menyampaikan permohonan maaf ke korban. UIM memutuskan mengembalikan pelaku sebagai dosen UIM dan mengembalikan ke LLDikti Wilayah IX sebagai dosen negeri.

Keputusan pemberhentian dosen pelaku peludahan diambil setelah Komisi Disiplin UIM melakukan pemeriksaan. Hasilnya, dosen pelaku dinyatakan melanggar kode etik dan peraturan yang berlaku di lingkungan kampus. Rektor UIM menegaskan tindakan yang dilakukan dinilai sangat tidak etis, bertentangan dengan nilai-nilai akhlak, serta melanggar etika dan norma kemanusiaan. Sebagai institusi pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama yang rahmatan lil alamin, kemanusiaan, dan kearifan lokal, UIM memutuskan mengambil langkah tegas memecat dosen yang bersangkutan.
            Bagi dosen yang dinilai bersikap arogan meludahi seorang karyawan kecil, keputusan UIM tentu tidak diharapkan. Sebagai dosen –sebuah profesi yang terhormat—wajar jika ia merasa dipermalukan atau tidak dilayani sesuai status superiornya.

Tindakan meludahi wajah orang yang dianggap menghina dirinya bolehjadi adalah respons emosional. Tindakan meludah adalah respons emosional yang melanggar norma, namun sebetulnya berfungsi sebagai upaya untuk menegaskan kembali dominasi dan memulihkan harga diri yang terluka, meskipun dengan cara yang tidak bisa dibenarkan secara etika. Kasus ini adalah cermin dari posisi ketidaksetaraan simbolik antara pelaku dan korban.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang karyawan supermarket sering kali berada pada posisi yang secara inheren lebih rendah dalam hierarki layanan-pelanggan. Tindakan agresi baik verbal maupun fisik oleh pelanggan yang berstatus lebih tinggi menegaskan ketimpangan simbolik ini. Tindakan meludahi muka seseorang sesungguhnya adalah bentuk tindakan yang paling merendahkan martabat orang lain. Dalam beberapa kasus, korban yang diludahi mungkin menerima. Tetapi, dalam kasus tertentu, korban yang secara sosial posisinya rentan, bukan tidak mungkin melawan ketika ia didukung para netizen dan kawan-kawannya.

Kasus seseorang meludahi muka orang lain mungkin bukan kasus besar. Ini bukan kasus kriminal atau tindak kekerasan lain yang jauh lebih miris. Tetapi, sekecil apa pun kasus ini, peristiwa yang terlanjur viral ini sesungguhnya adalah mikrokosmos dari ketegangan kelas yang lebih besar, di mana status ekonomi dan pendidikan memengaruhi perilaku dan perlakuan terhadap orang lain.

Di masyarakat kita tahu bahwa jabatan seorang dosen seringkali diasosiasikan dengan posisi superior dan sosok intelektual serta kelas menengah ke atas. Perilaku meludah menunjukkan arogansi status, di mana individu merasa superioritasnya memberikan hak istimewa (privilege) untuk memperlakukan orang lain dari kelas pekerja dengan tidak hormat. Sementara itu, di sisi yang lain, karyawan supermarket, yang notabene adalah orang-orang kecil mereka merepresentasikan posisi simbolik sebagai orang yang tidak berdaya, papa dan miskin. Mereka adalah orang-orang yang sering kali tidak memiliki kekuatan untuk membalas perlakuan arogan dari orang di sekitarnya, yang memperkuat dinamika kekuasaan yang tidak setara.

Refleksi

Terlepas bagaimana nanti hasil dari negosiasi dan penyidikan yang dilakukan kepolisian, tindakan meludahi muka orang lain adalah bentuk dari agresi dan arogansi seseorang kepada orang lemah yang mengindikasikan telah memudarnya norma kesopanan dasar dalam interaksi sehari-hari. Warga masyarakat yang seharusnya beradab, ternyata rentan tergelincir dalam tindakan arogansi yang merendahkan martabat orang lain. Hal ini terasa ironis karena dilakukan oleh orang yang berposisi terhormat sebagai dosen.

Apa yang dilakukan korban, dalam hal ini karyawati sebuah supermarket, mungkin di mata pelaku dianggap berlebihan. Sama seperti korban memandang tindakan pelaku yang dinilai arogan. Ini adalah kasus yang seharusnya menjadi bahan refleksi kita tentang kita mendefinisikan rasa hormat dan menghargai oprang lain di ruang publik.

Kasus ini benar-benar mengingatkan kita bahwa pendidikan tinggi dan gelar akademis tidak secara otomatis mengindikasikan kecerdasan emosional atau etika sosial. Kasus ini bukan sekadar kasus pelenggaran etika dan reaksi emosional yang manusiawi. Ini adalah sebuah peristiswa sosial yang diam-diam memvalidasi hierarki sosial dan arogansi status. Dari perspeksif orang-orang kecil, kasus ini dirasa sangat melukai hati mereka. Menjalani kehidupan sebagai orang kecil seringkali membuat orang-orang belajar untuk mengalah. Tetapi ketika batas toleransi mulai habis dan perlakuan yang dialami sudah menjejas harga dirinya, maka jangan kaget jika mereka kemudian melawan

Editor : Arief
#Opini #dosen