Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Hasil TKA Mengecewakan, Siapa yang Perlu Berkaca?

admin • Senin, 29 Desember 2025 | 20:19 WIB
Muhamad Yusuf,
Muhamad Yusuf,

                 Oleh: Muhamad Yusuf, S.Pd
                 Pengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Banjarmasin.

Hasil Tes Kemampuan Akademik tingkat menengah atas yang belum memuaskan, ramai menjadi perbincangan publik. Hasil rata-rata dibaca secara dangkal sebagai kegagalan sekolah atau guru. Padahal, jika dicermati lebih dalam, TKA tidak hanya berdiri di ruang kelas yang hampa. Ia merupakan potret dari proses panjang pendidikan yang melibatkan banyak pihak, mulai dari kebijakan negara, manajemen sekolah, peran guru, keterlibatan keluarga, hingga kesiapan peserta didik itu sendiri. Oleh karena itu, rendahnya hasil TKA seharusnya tidak dijadikan alasan untuk menunjuk satu pihak sebagai penyebab utama, melainkan momentum untuk berkaca bersama dan melakukan evaluasi kolektif.

TKA pada dasarnya dirancang untuk mengukur kemampuan literasi, numerasi, dan penalaran peserta didik setelah menempuh pendidikan menengah. Hasilnya diharapkan menjadi rujukan bagi peningkatan mutu pembelajaran. Namun kini, TKA dipersepsikan sebagai alat penilaian yang bersifat menghakimi. Ketika hasilnya rendah, reaksi yang muncul sering kali emosional dan simplistis. Guru disorot, sekolah disalahkan, dan peserta didik dicap kurang mampu. Padahal, pendidikan adalah sistem yang saling terhubung. Jika hasilnya belum sesuai harapan, maka yang perlu dievaluasi adalah keseluruhan ekosistem pendidikan.

TKA sebagai Cermin Mutu Sistem Pendidikan

Hasil TKA yang rendah seharusnya dibaca sebagai cermin mutu sistem pendidikan secara menyeluruh. Ia tidak hanya memotret kemampuan individu peserta didik, tetapi juga menunjukkan sejauh mana kurikulum, metode pembelajaran, sarana prasarana, serta kebijakan pendidikan berjalan selaras. Ketika banyak peserta didik kesulitan memahami teks kompleks atau menyelesaikan soal bernalar, hal itu menandakan bahwa proses pembelajaran belum sepenuhnya memberi ruang pada penguatan kemampuan berpikir kritis.

Dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan Indonesia mengalami berbagai perubahan kebijakan. Kurikulum disesuaikan, sistem asesmen diubah, dan pendekatan pembelajaran diarahkan pada penguatan kompetensi. Perubahan ini tentu membawa tantangan. Guru dituntut cepat beradaptasi, sementara pelatihan dan pendampingan belum selalu merata. Sekolah di daerah dengan keterbatasan sumber daya sering kali tertinggal dalam hal akses bahan ajar, teknologi, dan pengembangan profesional guru. Kondisi ini berkontribusi pada hasil TKA antardaerah.

Selain itu, budaya belajar juga memegang peranan penting. Selama bertahun-tahun, pembelajaran di sekolah yang cenderung dipaksakan, tampak menyenangkan secara visual tetapi hampa nilai. Ketika TKA hadir dengan pendekatan yang lebih menuntut penalaran, banyak peserta didik belum siap secara mental dan akademik. Hal ini bukan kesalahan peserta didik semata, melainkan dampak dari kebiasaan belajar yang dibentuk sejak lama. Dengan demikian, TKA seharusnya dipahami sebagai alat refleksi untuk menilai apakah arah pembelajaran yang selama ini ditempuh sudah benar.

Peran Guru, Sekolah, dan Kebijakan Pendidikan

Guru sering menjadi pihak yang paling mudah disorot ketika hasil TKA rendah. Padahal, guru bekerja dalam kerangka kebijakan dan sistem yang telah ditentukan. Beban administrasi yang tinggi, keterbatasan waktu untuk refleksi pembelajaran, serta tuntutan capaian kurikulum sering kali menyita energi guru. Di sisi lain, guru juga dituntut untuk kreatif, inovatif, dan mampu menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik yang beragam.

Sekolah sebagai institusi memiliki peran strategis dalam menciptakan iklim belajar yang kondusif. Manajemen sekolah yang visioner dapat mendorong kolaborasi antar guru, penguatan budaya literasi, serta pemanfaatan hasil asesmen sebagai dasar perbaikan pembelajaran. Namun tidak semua sekolah memiliki kapasitas yang sama. Perbedaan kondisi sosial ekonomi peserta didik, dukungan orang tua, serta ketersediaan sarana prasarana memengaruhi kualitas proses belajar mengajar.

Di tingkat kebijakan, pemerintah memegang peran penting dalam memastikan bahwa perubahan sistem asesmen diikuti dengan dukungan yang memadai. Sosialisasi kebijakan, pelatihan guru, serta penyediaan sumber belajar yang relevan menjadi kunci. Jika TKA dimaksudkan sebagai alat pemetaan mutu, maka hasilnya harus direspons dengan kebijakan yang berpihak pada perbaikan, bukan sekadar publikasi angka. Evaluasi kebijakan perlu dilakukan secara jujur dengan mendengarkan suara guru dan sekolah di lapangan.

Dengan demikian, berkaca atas hasil TKA berarti mengakui bahwa guru, sekolah, dan pembuat kebijakan berada dalam satu ekosistem yang saling memengaruhi. Tidak adil jika guru diposisikan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab tanpa melihat konteks yang melingkupinya.

Tanggung Jawab Keluarga dan Peserta Didik dalam Pembelajaran

Selain sekolah dan kebijakan, keluarga dan peserta didik juga memiliki peran penting dalam membentuk hasil belajar. Lingkungan keluarga yang mendukung kebiasaan membaca, berdiskusi, dan berpikir kritis akan sangat membantu perkembangan akademik peserta didik. Sebaliknya, jika rumah tidak menjadi ruang yang ramah belajar, sekolah akan menghadapi tantangan lebih besar dalam menumbuhkan kemampuan literasi dan numerasi.

Di era digital, perhatian peserta didik sering terpecah oleh gawai dan media sosial. Tanpa pendampingan yang tepat, waktu belajar dapat tergeser oleh aktivitas hiburan. Ini bukan persoalan moral, melainkan realitas zaman yang perlu disikapi bersama. Sekolah dan keluarga perlu berkolaborasi untuk membangun kesadaran belajar yang sehat dan seimbang.

Peserta didik sendiri juga perlu diajak memahami bahwa TKA bukan sekadar ujian, melainkan sarana untuk mengenali kemampuan diri. Kesadaran belajar yang bersumber dari motivasi internal akan jauh lebih kuat daripada dorongan eksternal semata. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran yang memanusiakan peserta didik, memberi ruang bertanya, dan mendorong eksplorasi ide menjadi sangat penting.

Jika hasil TKA rendah, maka refleksi juga perlu diarahkan pada bagaimana peserta didik dibimbing untuk belajar secara bermakna. Apakah mereka terbiasa membaca dengan pemahaman atau hanya mengejar rangkuman. Apakah mereka dilatih bernalar atau sekadar menghafal rumus. Pertanyaan pertanyaan ini menuntut jawaban kolektif, bukan tudingan sepihak.

Ruang Evaluasi Bersama dan Perbaikan Berkelanjutan

Hasil TKA SMA yang tak memuaskan seharusnya menjadi titik awal evaluasi bersama. Semua pihak perlu duduk satu meja dengan sikap terbuka dan rendah hati. Data TKA perlu dianalisis secara mendalam untuk melihat pola kelemahan dan kekuatan. Dari sana, langkah perbaikan dapat dirancang secara terarah dan berkelanjutan.

Guru perlu didukung untuk terus belajar dan berkembang melalui pelatihan yang relevan dan kontekstual. Sekolah perlu diberi ruang untuk berinovasi sesuai dengan karakteristik peserta didiknya. Pemerintah perlu memastikan bahwa kebijakan yang dibuat berpijak pada realitas lapangan. Keluarga dan masyarakat perlu dilibatkan sebagai mitra pendidikan yang aktif.

Pada akhirnya, pertanyaan siapa yang perlu berkaca atas hasil TKA seharusnya dijawab dengan satu kata bersama. Pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Selama masih ada kecenderungan saling menyalahkan, perbaikan akan berjalan lambat. Namun jika semua pihak bersedia berkaca dan berbenah, hasil TKA di masa depan bukan hanya akan meningkat secara angka, tetapi juga mencerminkan mutu pendidikan yang lebih adil dan bermakna bagi seluruh peserta didik. (*)

 

Editor : Arief
#Opini