Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Saat Sains Dihemat di Sekolah

admin • Rabu, 24 Desember 2025 | 21:34 WIB
Sukma Firdaus
Sukma Firdaus

          Oleh: Ir. Sukma Firdaus, MT
          Dosen Elektronika Politeknik Negeri Tanah Laut

Skor PISA kita untuk matematika 366, membaca 359, dan sains 383, jauh di bawah rata-rata OECD. Kesenjangan skor ini perlahan menjadi kesenjangan pertumbuhan ekonomi. Bank Dunia memperkirakan learning loss Indonesia pada pandemi setara 10 bulan waktu belajar, ini memperburuk kemampuan dasar. Jika yang terdampak adalah mata pelajaran sains, kita sedang merelakan generasi dengan “senjata” yang tumpul. Kurikulum SMA yang menempatkan fisika, kimia, dan matematika lanjut sebagai mata pelajaran pilihan perlu ditinjau ulang dari sudut daya saing ekonomi. Keleluasaan memilih mapel selaras dengan semangat merdeka belajar, tetapi secara strategis ada trade-off, yakni bidang yang sejak awal dibiarkan tidak dipelajari kelak jauh lebih sulit dikuasai.

Pembahasan kurikulum sering berhenti pada beban belajar dan kebebasan memilih. Yang jarang dibahas adalah bagaimana pilihan mapel sains, kualitas guru dan fasilitas, serta arah ekonomi baru saling terkait dalam membentuk daya saing negara. Bakat sains tidak bisa dibentuk di bangku kuliah saja. Mahasiswa yang belum pernah bersentuhan dengan kalkulus, hukum Newton, atau reaksi redoks sulit diselamatkan hanya satu semester kelas pengantar. Akhirnya kampus menghabiskan energi untuk remediasi, bukan akselerasi. Menghemat jam sains di SMA lalu berharap lonjakan produktivitas dan inovasi di hilir adalah desain yang tidak seimbang. Ada hal yang sering terlupakan, yaitu bukan hanya rerata kemampuan yang rendah, tetapi sedikitnya siswa yang menguasai sains. Padahal kelompok kecil inilah yang kelak menjadi motor lahirnya teknologi. Kita justru berisiko mengecilkan kelompok ini di SMA, padahal disanalah fondasi dimatangkan.

Dimensi lain yang jarang disorot adalah kesempatan. Mata pelajaran sains cenderung dipilih oleh siswa yang orang tuanya paham pentingnya STEM atau bersekolah di lingkungan dengan guru dan fasilitas baik. Sementara siswa dari keluarga yang kurang beruntung atau sekolah yang serba terbatas diarahkan memilih mapel yang lebih mudah. Akibatnya, akses menjadi insinyur atau perancang teknologi bergeser dari urusan bakat menjadi urusan latar belakang sosial-ekonomi. Pipa talenta STEM kita bukan hanya sempit, tetapi juga bocor di segmen yang paling membutuhkan mobilitas sosial melalui sains.

Kualitas hasil belajar juga ditentukan oleh guru, fasilitas, dan pendanaan. Banyak sekolah kekurangan guru sains, laboratorium minim peralatan, dan anggaran yang sering terserap untuk urusan administratif daripada penguatan praktik. Tanpa perbaikan, menjadikan sains sebagai mapel pilihan sama saja mengajarkan fisika tanpa alat ukur, kimia tanpa bahan, dan matematika tanpa waktu cukup untuk berpikir. Kurikulum, guru, dan fasilitas seharusnya satu paket, bukan saling menunggu.

Dalam tatanan ekonomi baru, nilai terbesar banyak datang dari aset tak berwujud seperti desain chip, algoritma, dan paten. Perusahaan seperti NVIDIA dan Apple tidak punya banyak pabrik, tetapi bernilai sangat tinggi karena kemampuan merancang teknologi dan mengelola pengetahuan. Aset seperti ini lahir dari kombinasi talenta matematika, fisika, dan komputasi yang kuat. Tanpa basis sains yang solid, kita akan tetap lebih sering menjadi pengguna daripada pencipta.

Dengan kondisi kurikulum SMA yang ada, penyangga di jenjang pendidikan tinggi dan kebijakan publik harus diperkuat. Di kampus, langkah realistis antara lain membangun “STEM Foundation Year” bagi mahasiswa baru tanpa latar belakang sains yang memadai, serta menerapkan placement test untuk mengukur kesiapan. Hasilnya tidak dipakai untuk menghalangi, tetapi memetakan siapa yang memerlukan bootcamp intensif dan siapa yang siap masuk kelas akselerasi. Penalaran kuantitatif juga perlu diperlakukan sebagai bahasa bersama di semua mata kuliah teknik. Topik teknis seperti neraca massa, sinyal dan sistem, hingga artificial intelligence seharusnya mengasah kemampuan berhitung, memodelkan, dan membaca data. Di luar kampus, jembatan antara SMA, perguruan tinggi, dan industri bisa diperdalam melalui program co-teaching, praktikum sains di laboratorium kampus, klub sains yang dibimbing dosen, hingga mini-capstone yang melibatkan permasalahan nyata.

Menjadikan fisika, kimia, dan matematika tingkat lanjut sebagai pilihan di SMA mungkin tampak bijak demi keragaman minat. Namun untuk ekonomi yang hidup dari teknologi dan inovasi, kebijakan ini membawa konsekuensi yang tidak kecil. Jika membiarkan sains menjadi hak istimewa segelintir siswa, kita bukan hanya memperlambat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menutup jalur mobilitas sosial yang seharusnya dibuka oleh pendidikan. Kita bisa terus merayakan geliat layanan digital baru. Tetapi tanpa basis sains yang kuat dan merata, kita berisiko tetap menjadi pasar, bukan pencipta teknologi. Saat sains menjadi pilihan di kelas, daya saing ekonomi pun pelan-pelan ikut menjadi taruhan. (*)

Editor : Arief
#Sekolah #Opini #Literasi