Oleh: Chusnul Hakim
Mahasiswa Magister Politik dan Pemerintahan
Universitas Gadjah Mada
asal Banjarmasin
Tulisan ini dimulai dengan penggalan lirik lagu dari mendiang glenn fredly yang menanyakan kepalsuan hubungan antara dua manusia. Namun, dengan meminjam penggalan lirik dalam lagu yang berjudul “akhir kisah cinta” milik Glenn Fredly, tulisan ini mempertanyakan apakah selama ini benar kenyataannya kalau pemerintah cinta kepada rakyatnya? Khususnya dalam mengatasi bencana yang baru-baru ini melanda saudara kita di Sumatera hingga terkorbankan sebanyak 3 provinsi. Pertanyaan ini berubah menjadi pertanyaan satire politik yang mempertanyakan hati Nurani rakyat. Yang berpentas pada panggung bencana dengan sandiwara sekelas aktor Hollywood dalam melaksanakan tugasnya, entah benar-benar melaksanakan tugasnya karena memiliki amanat dan tanggung jawab terhadap rakyat Indonesia, atau hanya sekedar melaksanakan peran sebagai aktor sesuai arahan sutradara?
Indonesia memang baru saja dilanda sebuah bencana besar, bahkan jika dianalogikan daerah yang terdampak, luas daerah yang terdampak adalah seluas pulau jawa yang membentang dari ujung barat hingga ujung timur. Wajar apabila bencana ini mengundang perhatian dari negara-negara sekitar yang iba akan bencana yang menimpa kita. Besar atau kecilnya bantuan akan bermakna bagi dia yang memberi dengan hati Ikhlas.
Terdapat sebuah kejadian unik Ketika negara tetangga kita, yaitu Malaysia membantu meringankan bencana yang terjadi di Aceh dengan memberikan bantuan medis senilai 60.000 USD atau setara dengan 1 miliar rupiah. Bantuan ini diberikan karena negara tetangga kita memang menganggap kita sebagai saudara serumpun, namun beda hal nya dengan Menteri kita. Menteri dalam negeri, Tito Karnavian menganggap bantuan ini tidak seberapa dari bantuan yang diberikan negara dalam menanggulangi bencana. Pernyataan itu sontak membuat geram Masyarakat Malaysia khususnya hingga direspon oleh mantan Menteri luar negeri Malaysia, Dato’ Seri Utama Rais bin Yatim, beliau bahkan menyarankan kepada Menteri dalam negeri Indonesia untuk mengambil sekolah lagi dan belajar tentang bagaimana komunikasi publik disampaikan. Dari sini harusnya kita sadar atau bahkan malu, kenapa negara sebesar Indonesia dan Menteri yang dianggap sebagai “zaken kabinet” masih memiliki kesombongan akan bantuan yang diberikan. Selama bantuan itu datang dari hati Nurani, sebesar 60 RM pun akan sangat berarti bagi yang berlapang dada.
Di lain panggung, sandiwara juga dijalankan oleh Menteri kita dengan aksinya yang memanggul beras bantuan sendirian, sedangkan ia dikelilingi oleh ajudan-ajudan yang tegap badan. Kamera lantas hanya menyoroti dirinya seakan bantuan itu memang hadir dari tangannya untuk membantu para korban. Namun sadarkah? Bantuan itu tidak sebanding dengan kerusakan yang diakibatkan akibat kesalahan kebijakan sang mantan Menteri kehutanan. Banjir bandang yang melanda 3 provinsi bukanlah kejadian kemarin sore, ini memang sudah terjadi dan diprediksikan akan terjadi akibat alih fungsi lahan massif untuk penanaman pohon sawit yang monokultur dan pembukaan lahan tambang. Panggung sandiwara memang sudah “diinvestasikan” kepada sang pemanggul beras untuk mampu menaikkan pamor nya Ketika panggung ini sudah siap digunakan. Namun, ada ratusan ribu Masyarakat yang harus menjadi korban akibat alih fungsi lahan yang menjadi panggung sandiwara Menteri ini.
Panggung sandiwara tidak hanya terjadi di drama teatrikal saja, namun itu bisa saja terjadi pada lahan bencana yang saat ini melanda saudara kita di Masyarakat. Akibat bencana ini, seluruh akses Listrik, air bersih, hingga sumber daya di daerah yang terdampak memiliki kesulitan akses. Presiden pun meminta untuk segera memulihkan daerah yang terdampak setidaknya malam mereka tidak hanya diterangi oleh Cahaya bulan, ataupun deru suara genset yang menyala untuk menopang Listrik lampu.
Pada saat presiden kita mengecek ketersediaan akses Listrik di daerah terdampak, seorang Menteri dengan lantang nya mengatakan bahwa Listrik sudah menyentuh angka 93% sudah pulih dan akan menyala sepenuh nya dalam 3 hari kedepan. Sebuah pernyataan yang sungguh fantastis dan terkesan mustahil. Bahkan, apabila disandingkan dengan kisah Pembangunan candi Prambanan yang mempekerjakan jin dalam pembangunannya, hal ini terkesan lebih mustahil lagi. Bagaimana tidak, akses jalan saja masih terputus di beberapa daerah, tiang-tiang Listrik tumbang hingga gardu pun ikut terendam banjir bandang, namun dengan yakinnya “beliau” mengatakan angka 93% persen itu.
Ini adalah bentuk jilatan birokrasi, sebagai bukti bahwa ia benar-benar bekerja untuk memulihkan bencana, sehingga ia hanya peduli terhadap persepsi atasan akan kinerjanya berjalan dengan baik. Bagaimana fakta di lapangan? Fakta dilapangan tentunya mengatakan berbeda 180 derajat dari apa yang dikatakan Menteri. Setelah pernyataan tersebut, bahkan hingga seminggu setelah pernyataan tersebut, belum ada 1% Listrik yang menyala pada daerah tersebut. Aksi ini semakin meyakinkan bahwa lirik lagu yang disampaikan oleh mendiang glenn fredly tidak hanya cocok antara hubungan dua insan, lirik ini mampu mempertanyakan kinerja para Menteri-menteri yang selalu bersandiwara pada panggung bencana yang melanda saudara di Sumatera.
Pada akhirnya, lagu ini menjadi elegi bagi bangsa ini. Aksi para Menteri yang menggunakan bencana sebagai panggung sandiwara hanyalah kepingan dari kekuasaan yang jauh dari kejujuran. Dalam lagu ini, kita rakyat, hanyalah seperti seorang kekasih yang dikhianati oleh pasangannya sendiri. Kita Masyarakat juga sudah terlalu Lelah melihat pejabat yang terlalu bersifat populis, namun nyatanya itu hanyalah demi kebaikan citranya di mata publik. Sampai akhirnya lagu ini pun mestinya akan berubah lirik yang merujuk kepada pertanyaan penguasa “sandiwarakah selama ini, setelah sekian lama kita percaya?”. (*)
Editor : Arief