Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Momen 5 Rajab, Wajah Toleransi Indonesia

admin • Selasa, 23 Desember 2025 | 21:58 WIB
Sigit Triyono
Sigit Triyono

          Oleh: Sigit Triyono, S.Pd., M.Pd
          Dosen FKIP ULM Banjarmasin Prodi/Jurusan IPS

MENJELANG bulan Rajab, denyut kehidupan di Martapura berubah. Sejak pagi, jalan-jalan mulai dipadati iring-iringan kendaraan yang membawa logistik untuk momen 5 Rajab. Warga datang bukan sekadar membawa barang, tetapi juga niat dan keikhlasan. Tradisi ini telah lama menjadi bagian dari napas sosial masyarakat Kalimantan Selatan—hidup, berulang, dan terus diwariskan sebagai ekspresi cinta dan doa bersama.

Sejak hari-hari awal persiapan, kebersamaan itu tampak nyata. Warga dari berbagai daerah—Banjarbaru, Batola, Banjarmasin, hingga wilayah di luar Kalimantan Selatan—bergerak tanpa komando. Beras, air minum, kayu bakar, minyak goreng, dan bahan pokok lain dikumpulkan bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai bentuk partisipasi tulus. Gotong royong di sini bukan slogan, melainkan praktik sosial yang dijalani dengan kesadaran penuh.

Rumah-rumah warga berubah menjadi ruang publik sukarela. Dapur umum mengepul sejak pagi, sementara para pemuda mengangkut logistik dan menata kebutuhan jamaah. Para relawan bekerja lintas usia dan latar belakang, digerakkan oleh panggilan hati, bukan oleh kewajiban. Inilah wajah kebersamaan yang tumbuh dari bawah, mengalir alami, dan bertahan karena rasa saling memiliki.

Yang lebih menarik, momen 5 Rajab tidak berhenti pada batas identitas keagamaan. Masyarakat non-Muslim ikut terlibat dalam berbagai bentuk bantuan, mulai dari distribusi logistik hingga pengaturan lalu lintas dan penyediaan tempat singgah. Sekumpul menjadi ruang perjumpaan kemanusiaan, tempat perbedaan tidak dipertentangkan, melainkan dipersatukan oleh kepedulian.

“Ini bukan soal agama,” ujar seorang relawan non-Muslim dengan sederhana. Pernyataan itu merangkum makna terdalam 5 Rajab: bahwa kasih sayang dan penghormatan antariman dapat hidup berdampingan dalam praktik nyata. Tradisi ini menunjukkan bahwa kebersamaan sosial tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari kemauan untuk saling hadir dan melayani.

Beberapa hari menjelang puncak 5 Rajab, suasana Martapura semakin padat dan hidup. Arus kendaraan dari luar daerah terus mengalir menuju Sekumpul. Di sepanjang jalan, warga secara mandiri menyediakan air minum dan makanan gratis bagi para jamaah. Pada malam hari, lampu-lampu kecil menerangi sudut kota, menghadirkan suasana hangat yang memantulkan semangat kebersamaan, bukan kemegahan seremonial.

Pada pagi 5 Rajab, ribuan langkah menyatu menuju Sekumpul. Lantunan selawat menggema dari berbagai arah, menciptakan suasana spiritual yang menenangkan. Kehadiran jamaah bukan sekadar ritual ziarah, melainkan ekspresi cinta kepada seorang guru yang ajarannya hidup dalam keseharian umat. Di titik inilah, 5 Rajab menjelma menjadi pengalaman batin kolektif, tempat doa dan harapan dipertemukan.

Keramahan warga menjadi wajah utama peristiwa ini. Pintu-pintu rumah terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan air, makanan, atau tempat beristirahat. Semua dilakukan tanpa pamrih dan tanpa pencatatan. Melayani jamaah dipahami sebagai ibadah, bukan beban. Setiap tenaga yang dicurahkan menjadi bagian dari pengabdian sosial yang sunyi, tetapi bermakna.

Di balik keramaian itu, para relawan bekerja tanpa henti. Mereka mengatur arus jamaah, menjaga kebersihan, serta membantu mereka yang kelelahan. Tidak ada keluhan yang terdengar, meski kelelahan jelas terasa. Semangat melayani menutup ruang bagi kepentingan pribadi. Di sinilah ajaran Guru Sekumpul tentang cinta, kerendahan hati, dan pelayanan menemukan bentuk paling konkret.

Seiring waktu, skala kehadiran jamaah terus meluas. Tidak hanya dari Kalimantan, tetapi juga dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan mancanegara. Fenomena ini menegaskan bahwa momen 5 Rajab telah melampaui batas lokal. Ia tumbuh menjadi peristiwa sosial-spiritual yang menghubungkan banyak orang dalam satu pengalaman kedamaian yang sama, tanpa harus saling mengenal sebelumnya.

Meluasnya jangkauan momen 5 Rajab tidak terlepas dari figur Guru Sekumpul sebagai simbol pemersatu. Beliau dikenang bukan hanya sebagai ulama, tetapi sebagai teladan kasih yang ajarannya hidup dalam tindakan masyarakat. Nilai-nilai tentang cinta, kerendahan hati, dan pelayanan tidak berhenti sebagai nasihat, melainkan menjelma menjadi perilaku sosial yang terus direproduksi setiap tahun. Dalam konteks inilah, 5 Rajab menjadi bukti bahwa ajaran kebaikan dapat bertahan dan berkembang melalui praktik bersama.

Peran pemerintah daerah turut hadir dalam kebersamaan ini. Dukungan para kepala daerah dan perangkatnya menempatkan momen 5 Rajab bukan semata agenda keagamaan, tetapi juga aset sosial dan budaya Kalimantan Selatan. Kegiatan ini memperkenalkan Martapura dan Sekumpul ke panggung nasional hingga internasional sebagai ruang harmoni, bukan konflik. Namun, dukungan simbolik saja belum cukup.

Pemerintah daerah di wilayah penyangga patut mempertimbangkan kebijakan satu hari libur bagi aparatur sipil negara, baik sebelum maupun sesudah pelaksanaan 5 Rajab. Kebijakan semacam ini bukan soal administratif, melainkan bentuk penghargaan terhadap tradisi hidup masyarakat. Sebagaimana daerah lain memberi ruang pada hari-hari keagamaan besar, Kalimantan Selatan pun layak menghadirkan kebijakan yang berpihak pada keteraturan, keselamatan, dan partisipasi publik.

Lebih jauh, momen 5 Rajab berfungsi sebagai ruang pendidikan sosial bagi generasi muda. Di sini, nilai toleransi dan keberagaman tidak diajarkan melalui teori, tetapi melalui pengalaman langsung. Anak-anak dan remaja menyaksikan bagaimana perbedaan keyakinan tidak menghalangi kerja sama dan kepedulian. Tradisi ini menjadi laboratorium sosial yang menumbuhkan empati dan rasa tanggung jawab kolektif.

Ketika rangkaian kegiatan usai dan jalanan kembali lengang, denyut kebersamaan itu tidak serta-merta berhenti. Ia tinggal dalam ingatan, dalam relasi sosial yang menguat, dan dalam kesadaran bahwa setiap kontribusi memiliki makna. Slogan “tulak bersih, bulik bersih” menjadi pengingat bahwa spiritualitas tidak terpisah dari kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.

Bagi masyarakat Martapura, 5 Rajab adalah napas kehidupan yang menyatukan dimensi agama, sosial, dan budaya. Dalam satu peristiwa, persaudaraan diperkuat, ekonomi rakyat bergerak, dan identitas daerah diteguhkan. Lebih dari itu, momen ini menghadirkan wajah Indonesia yang hangat, terbuka, dan mampu merawat perbedaan sebagai kekuatan bersama. (*)

Editor : Arief
#Sekumpul #toleransi