Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Beban Ganda yang Tak Pernah Dicatat

admin • Sabtu, 20 Desember 2025 | 17:03 WIB
Diyang Gita Cendekia
Diyang Gita Cendekia

          Penulis: Diyang Gita Cendekia
          Statistisi dan Praktisi Mengajar

Hari Ibu kerap dirayakan dengan simbol kasih sayang. Pada banyak rumah tangga di Banua, perayaan itu sering berlangsung sederhana—kadang cukup dengan makan bersama di rumah atau sekadar membiarkan ibu beristirahat sejenak dari rutinitas harian. Namun, di balik perayaan itu, ada realitas sosial yang jarang dibicarakan secara terbuka: banyak ibu bekerja dalam dua dunia sekaligus—mengurus rumah tangga dan berkontribusi di dunia kerja. Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Selatan memberi gambaran yang cukup jelas tentang kondisi tersebut.

Jika melihat jumlah penduduk Kalimantan Selatan pada tahun 2025, diperkirakan mencapai 4,32 juta jiwa, dengan rasio jenis kelamin 102,18, yang berarti terdapat 102 penduduk laki-laki untuk setiap 100 penduduk perempuan. Di sisi lain, laju pertumbuhan penduduk tahunan tercatat 1,25 persen dibandingkan tahun 2020. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi rumah tangga ke depan akan semakin besar dan menuntut peran aktif seluruh penduduk usia kerja, termasuk perempuan.

Namun, data ketenagakerjaan menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan di pasar kerja masih harus dikejar. Pada tahun 2024, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kalimantan Selatan mencapai 70,22 persen. Jika dirinci, TPAK laki-laki sebesar 84,71 persen, sementara TPAK perempuan hanya 55,52 persen. Selisih yang cukup lebar ini mencerminkan bahwa perempuan—yang sebagian besar menjalani peran sebagai ibu yang mengurus rumah tangga—belum menduduki posisi yang setara dalam dunia kerja.

Kesenjangan ini tidak bisa dibaca semata sebagai persoalan pilihan individu. Bagi banyak ibu, keputusan bekerja selalu dibingkai oleh tanggung jawab domestik yang secara kultural masih dilekatkan hampir sepenuhnya kepada perempuan. Tak heran, Ketika terhimpit ekonomi banyak ibu akhirnya bekerja di sektor informal—sektor yang menawarkan fleksibilitas waktu, tetapi minim perlindungan, kepastian pendapatan, dan jaminan sosial.

Kondisi inilah yang dikenal sebagai beban ganda. Perempuan dituntut berperan di ranah publik sebagai pencari nafkah, sekaligus tetap bertanggung jawab penuh atas pekerjaan domestik. Masalahnya bukan pada fakta bahwa perempuan bekerja, melainkan pada kultur yang tidak mengurangi beban rumah tangga ketika perempuan memasuki dunia kerja. Akibatnya, partisipasi kerja perempuan menjadi terbatas, baik dari sisi jumlah maupun kualitas.

Ekonomi hanya mencatat bekerja dengan makna produktif/ menghasilkan pendapatan. Sementara itu, kerja domestik seorang ibu—memasak, mengasuh anak, merawat keluarga, dan mengelola rumah tangga—tidak pernah masuk dalam perhitungan ekonomi. Padahal, tanpa pekerjaan tersebut, aktivitas sulit berjalan secara stabil. Bukan tanpa alasan, jika pekerjaan domestik dihitung, akan muncul pertanyaan lanjutan yang berkaitan dengan metodologi, seperti: upah siapa yang dipakai? Apakah upah ART/upah koki/upah pengasuh anak? Bagaimana kualitas dan jam kerjanya? Belum terdapat harga pasar yang jelas mengakibatkan nilai tambah pekerjaan domestic menjadi sulit diukur secara akurat.

Dalam praktiknya, banyak perempuan mengalami beban berlapis. Selain bekerja dan mengurus rumah tangga, mereka masih dibebani standar sosial sebagai ibu yang dianggap berhasil jika sukses dalam karier sekaligus sukses dalam keluarga. Standar semacam ini jarang diberlakukan secara setara kepada laki-laki dan ketimpangan tersebut tercermin jelas dalam jurang TPAK antara laki-laki dan perempuan.

Hari Ibu seharusnya menjadi momentum untuk membaca statistik dengan lebih jujur. Angka TPAK perempuan yang masih jauh tertinggal bukanlah cerminan rendahnya kapasitas, melainkan sinyal adanya pembagian peran yang belum setara. Tanpa dukungan kebijakan yang mendorong pembagian peran domestik yang lebih adil dan lingkungan kerja yang ramah pengasuhan, kesenjangan ini akan sulit dipersempit.

Di tengah pertumbuhan penduduk Kalimantan Selatan, peran ibu semakin strategis. Ibu bukan hanya pengelola rumah tangga, tetapi juga penopang ekonomi keluarga dan pendidik utama generasi masa depan. Namun, peran besar ini belum sepenuhnya diiringi dengan pengakuan dan dukungan yang memadai.

Merayakan Hari Ibu dengan data bukan berarti menghilangkan makna emosionalnya. Justru sebaliknya, data membantu kita memberi penghargaan yang lebih jujur dan bermakna. Statistik BPS menunjukkan bahwa ibu yang tinggal di Kalimantan Selatan adalah aktor kunci pembangunan—baik dalam angka yang tercatat maupun dalam kerja sunyi yang selama ini luput dari perhatian.

Statistik sudah berbicara, kini saatnya kebijakan dan budaya di Banua ikut menjawabnya. (*)

Editor : Arief
#Opini #ibu