Oleh: Raisa Syifa Adzkia
Mahasiswa Prodi Statistika ULM
Setiap pagi, antrean di kedai kopi tampak semakin ramai, terutama di pusat kota yang penuh aktivitas. Minuman seperti kopi gula aren atau es kopi latte kini tidak lagi dianggap sebagai konsumsi sesekali, tetapi sudah menjadi bagian dari rutinitas harian, seolah simbol produktivitas dan gaya hidup modern.
Sayangnya di balik tren ini, muncul fenomena yang mengkhawatirkan: banyak anak muda yang melewatkan sarapan bergizi dan menggantinya dengan minuman tinggi gula seperti kopi susu. Data dari Kementerian Kesehatan dan berbagai survei nasional terkini menunjukkan bahwa kebiasaan sarapan masyarakat Indonesia terus menurun. Pada 2024, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa sekitar 65% anak usia sekolah tidak terbiasa sarapan. Sementara itu, media nasional seperti iNews melaporkan pada 24 Februari 2025 bahwa sekitar 70% masyarakat Indonesia melewatkan sarapan, sehingga hanya sekitar 30% yang sarapan rutin setiap pagi. Di sisi lain, tren konsumsi kopi justru meningkat signifikan, terutama varian kopi susu instan dan minuman berbasis kopi yang tinggi gula. Menurut laporan Katadata 2025, lebih dari separuh responden (53%) mengonsumsi kopi susu instan secara rutin, menjadikannya pilihan praktis yang kerap menggantikan sarapan. Pernyataan seperti “nggak sempat makan, tapi sempat ngopi” pun menjadi gambaran nyata dari perubahan pola konsumsi tersebut.
Yang lebih mencemaskan, kebiasaan sarapan di kalangan remaja dan dewasa muda menunjukkan penurunan signifikan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan berbagai survei nasional, hanya sekitar 30% masyarakat Indonesia yang rutin sarapan setiap hari, dan bahkan 65% anak usia sekolah diketahui tidak terbiasa sarapan. Studi lapangan di Bandung (2023) juga mencatat bahwa hanya 32% siswa SMA yang sarapan sebelum berangkat sekolah, sementara sebagian besar lainnya mengganti sarapan dengan minuman berkafein seperti kopi susu.
Di tengah fenomena ini, tren konsumsi kopi justru meningkat tajam. Survei Jakpat (2023) menunjukkan bahwa 66% Gen Z di Indonesia minum kopi setiap hari, dan 37% dari mereka mengonsumsi 2–3 gelas kopi per hari. Jenis kopi favorit adalah kopi susu instan, disusul kopi hitam dan es kopi dari kedai. Kecenderungan mengganti sarapan dengan minuman tinggi gula dan kafein ini tentu memunculkan kekhawatiran baru, terutama terkait dampaknya terhadap asupan gizi, energi, dan konsentrasi pada generasi muda.
Secara global, data dari NHANES di Amerika Serikat menunjukkan bahwa remaja berusia antara 12 hingga 17 tahun rata-rata mengonsumsi kafein sebesar 83 hingga 85 miligram per hari. Jumlah ini hampir mencapai batas aman yang direkomendasikan oleh Health Canada, yaitu 100 miligram per hari. Angka tersebut setara dengan satu cangkir kopi hitam, belum termasuk asupan dari minuman lain seperti teh manis atau minuman energi.
Kombinasi antara kafein tinggi, kelebihan gula, dan kebiasaan melewatkan sarapan bisa berdampak pada kesehatan jangka panjang. Penelitian dari berbagai jurnal kesehatan menyebutkan bahwa pola konsumsi seperti ini bisa memicu gangguan metabolik, kelelahan, sulit tidur, dan penurunan daya konsentrasi. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa sekitar 28,7% masyarakat mengonsumsi gula, garam, dan lemak melebihi batas aman, dan tren obesitas remaja juga terus meningkat.
Di sisi lain, media sosial ikut mendorong persepsi gaya hidup yang kadang keliru. Banyak orang lebih peduli pada tampilan kopi estetik di feed Instagram dibanding nilai gizinya. Minuman yang terlihat cantik di layar bisa jadi menyimpan risiko kesehatan jika dijadikan pengganti makan sehari-hari. Kampanye seperti “Isi Piringku” memang sudah berjalan, tapi nyatanya belum mampu bersaing dengan promosi besar-besaran dari brand minuman manis yang menjual gaya hidup dan rasa nyaman instan.
Padahal, sarapan tidak harus mahal atau rumit. Sepiring nasi, telur, dan sayur sudah cukup untuk memberi energi seimbang di pagi hari. Jika ingin yang lebih ringan, roti gandum, buah, atau oatmeal juga bisa jadi pilihan. Kuncinya bukan pada kemewahan menu, tetapi pada konsistensi menjaga pola makan yang masuk akal dan bergizi.
Bagi anak muda, mengurangi konsumsi kopi bukan berarti harus menghilangkan kebiasaan sepenuhnya. Yang penting adalah memperhatikan komposisi dan frekuensinya. Misalnya, mengurangi gula tambahan, memilih kopi tanpa topping berlebihan, atau membatasi hanya satu gelas per hari. Selain itu, mulailah membangun kebiasaan makan pagi meskipun hanya porsi kecil.
Tubuh kita bukan sekadar tampilan luar. Ia adalah sistem yang bergantung pada apa yang kita konsumsi tiap hari. Gaya hidup sehat tidak bisa hanya dinilai dari story ataupun feed Instagram yang diunggah atau tren yang diikuti, tapi dari pilihan-pilihan kecil yang dilakukan secara sadar. Kalau sekarang kita terbiasa mengganti sarapan dengan kopi manis, jangan heran jika beberapa tahun ke depan tubuh mulai memberi sinyal peringatan.
Jadi, masih yakin ingin menyebut kopi harian sebagai bentuk self-care, kalau ternyata tubuh sendiri yang diam-diam dikorbankan?
Editor : Arief