Oleh: Sri Maulida
Dosen FEB ULM Banjarmasin
Perjalanan singkat di akhir konferensi internasional di Lombok beberapa waktu lalu meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Bukan hanya karena suasana pantai atau jamuan kegiatan ilmiah, melainkan pengalaman tidak terduga ketika mengunjungi Desa Sukarara dan Desa Adat Sasak Sade. Dua desa ini memberi pelajaran penting tentang bagaimana budaya tidak hanya diwariskan, tetapi juga dikemas menjadi pengalaman wisata yang bernilai ekonomi tinggi.
Di Desa Sukarara, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat kain tenun khas Lombok. Kami diajak mencoba menenun sendiri, memakai pakaian adat, hingga berpose di rumah tradisional yang sudah disiapkan untuk wisatawan. Ada interaksi, ada edukasi, ada pengalaman yang sengaja dikemas agar pengunjung bukan sekadar melihat, melainkan merasa terlibat.
Sementara di Desa Sasak Sade, pengalaman kembali diperkuat. Di sana, rumah adat tidak hanya dilestarikan sebagai tinggalan sejarah; rumah itu menjadi ruang hidup yang benar-benar dipertahankan tanpa tergerus modernisasi. Wisatawan bebas berfoto, dapat mencoba pakaian adat saja untuk berfoto atau membelinya, dan merasakan atmosfer kehidupan tradisional yang autentik. Tidak ada bangunan modern, tidak ada rekayasa tanpa konteks. Desa ini seperti museum hidup. Wisata tidak sekadar datang foto pulang, tetapi meresapi kehidupan. Pemandu berkata dengan bangga, “Kalau ingin menikah dengan orang sini, harus bisa menenun.” Kalimat sederhana itu menegaskan betapa tenun bukan sekadar produk, tetapi identitas.
Pengalaman tersebut kemudian membuat saya berpikir: mengapa Banjarmasin belum mengemas budaya Sasirangan seperti itu? Kita memiliki Kampung Sasirangan, bahkan telah ditetapkan pemerintah sebagai sentra kain khas Banjar. Namun, ketika wisatawan datang, apa yang mereka dapatkan? Mayoritas hanya melihat kain, memilih motif, lalu membeli. Tidak ada pengalaman, tidak ada cerita, tidak ada proses yang membuat kita ingin tinggal lebih lama.
Padahal, fondasi menuju wisata budaya seperti itu sebenarnya sudah ada. Kampung Sasirangan tidak hanya berfungsi sebagai pusat penjualan, tetapi juga tempat wisatawan bisa melihat proses produksi Sasirangan langsung dari pengrajin. Pengunjung dapat menyaksikan perendaman warna, pengikatan motif, hingga proses pengeringan. Sayangnya, wisata edukasi ini belum dikembangkan secara komprehensif menjadi “paket pengalaman budaya” yang utuh. Belum ada rumah adat Banjar yang difungsikan khusus untuk wisata, belum tersedia penyewaan pakaian adat yang terorganisir bagi pengunjung, dan belum ada ruang foto yang memadukan produk, proses, dan identitas budaya Banjar dalam satu destinasi. Jika tiga unsur ini dikemas bersama, maka Kampung Sasirangan akan berubah dari sekadar pasar kain menjadi destinasi budaya yang hidup.
Padahal, wisata saat ini bergeser dari sightseeing menjadi experiential tourism, sebuah pola wisata di mana pengunjung ingin belajar, terlibat, dan merasakan budaya, bukan hanya menontonnya. Bayangkan jika wisatawan dapat memasuki rumah adat Banjar, mengenakan tapih, laung, atau baju Banjar, lalu dibimbing membuat Sasirangan sederhana dalam waktu singkat. Mereka bisa membawa pulang kain buatan mereka sendiri, lengkap dengan foto berlatar rumah adat. Nilai ekonomi tidak hanya datang dari kain yang dijual, tetapi dari paket wisata kreatif: workshop, penyewaan kostum, ruang foto, storytelling motif, hingga edukasi warna dan filosofi. Sasirangan akan menjadi kenangan, bukan sekadar barang.
Model ini terbukti berhasil di berbagai daerah. Bali dengan Painting Class Ubud, Yogyakarta dengan Batik Workshop, dan Lombok dengan Tenun Experience. Semua menunjukkan bahwa budaya ditambah dengan pengalaman maka akan mempunyai nilai ekonomi berlipat. Bukan produk yang datang terlebih dahulu, tetapi cerita dan keterlibatan. Wisata bukan hanya menjual benda tetapi juga menjual pengalaman.
Lebih menarik lagi, konsep ini sangat cocok dengan arah pembangunan Banjarmasin sebagai kota kreatif dan pintu gerbang wisata sungai di Kalimantan Selatan. Wisata Sasirangan berbasis pengalaman dapat terintegrasi dengan paket wisata sungai, wisata religi, hingga halal tourism. Ini sejalan dengan perkembangan ekonomi kreatif dan potensi industri halal, karena kain tradisional dan budaya lokal adalah bagian dari identitas halal lifestyle yang kini menjadi tren.
Lalu, siapakah yang harus memulai? Tentu tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Kolaborasi adalah kunci. Pengrajin, pemilik rumah adat, komunitas budaya, akademisi, pelaku pariwisata, hingga mahasiswa kreatif dapat menjadi bagian dari ekosistem ini. Kampus dapat berperan melalui riset desain motif, pemasaran digital, hingga pelatihan model bisnis kreatif. Pengrajin tidak sekadar jadi penjual, tetapi pemandu wisata budaya. Generasi muda Banjar menjadi kurator cerita tentang bagaimana warna, motif, dan filosofi Sasirangan terhubung dengan nilai kehidupan orang Banjar.
Pada titik ini, kita harus bertanya, apakah Sasirangan hanya akan menjadi kain yang diperjualbelikan, atau menjadi identitas budaya yang kita hidupkan bersama? Jika hanya dijual tanpa cerita, ia akan menjadi produk yang mudah tergantikan. Namun jika dikemas sebagai pengalaman, ia akan menjadi kenangan yang dibawa pulang oleh ribuan wisatawan.
Banjarmasin memiliki sejarah, budaya, dan kreativitas. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian untuk mengemasnya. Rumah adat Banjar bukan hanya ikon tetapi ia harus menjadi ruang pengalaman. Kampung Sasirangan bukan hanya pasar, ia harus menjadi sekolah budaya. Dan Sasirangan bukan hanya kain, ia harus menjadi cerita yang kita banggakan.
Bila Sukarara dan Sade bisa membuktikan bahwa budaya bisa menjadi wisata yang hidup dan berkelanjutan, maka Banjarmasin juga bisa demikian. Sudah saatnya kita berhenti lewatkan potensi besar ini, dan mulai menghadirkan Sasirangan Experience yang memadukan edukasi, ekonomi, dan identitas. Karena budaya yang dilihat hanya akan dikagumi sesaat. Tetapi budaya yang dialami, akan diingat dan dihargai sepanjang masa. (*)
Editor : Arief