Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

NU dan Krisis Komunikasi Para Elitnya

admin • Selasa, 9 Desember 2025 | 22:29 WIB

 

H. Asmu’i Syarkowi
H. Asmu’i Syarkowi

           Oleh: H. Asmu’i Syarkowi
           Alumni PP Mishbahul Ulum Situbondo dan PP Wahid Hasyim Yogyakarta

Gonjang-ganjing di tubuh PBNU kembali menjadi perbincangan hangat, bukan hanya di tingkat elite, tetapi juga di warung kopi desa. Perselisihan antara Syuriah dan Tanfidziyah kali ini seolah mengulang sejarah NU Cipete–Situbondo, namun dalam suasana yang berbeda. Yang hilang bukan sekadar titik temu—melainkan tradisi komunikasi yang selama ini menjadi nafas NU.

Pada masa KH Idham Cholid, ketika para kiai meminta sang Ketua PBNU mengundurkan diri, mereka datang langsung. Ada adab, silaturahmi, dan tatapan mata yang memancarkan kebijaksanaan. Konflik panas diredakan melalui perjumpaan penuh hormat. NU tidak pernah menyelesaikan persoalan melalui surat—melainkan lewat duduk bersama.

Kini semuanya tampak bergerak ke arah yang berlawanan. Permintaan mundur disampaikan melalui surat, sementara sowan dan tabayun—etika dasar dalam budaya NU—justru absen. Ketua Tanfidziyah merasa tidak memiliki alasan struktural untuk mundur, sementara Syuriah merasa memiliki alasan moral untuk memintanya mengundurkan diri. Keduanya menggenggam sebagian kebenaran, namun juga memikul sebagian kekeliruan.

Syuriah—meskipun secara prinsip merupakan pengendali organisasi—benar bahwa mereka tidak serta-merta berwenang memberhentikan Tanfidziyah. Karena itu mereka memilih meminta pengunduran diri secara “sukarela”. Namun langkah tersebut menjadi kurang tepat ketika tidak disertai mekanisme organisasi yang tertib dan dialog terbuka. Di sisi lain, Tanfidziyah benar menjaga amanat muktamar, namun keliru ketika tidak sowan kepada Syuriah untuk tabayun, sehingga muncul kesan bahwa konflik dijawab dengan konflik.

Di titik ini terlihat jelas bahwa NU bukan sedang kekurangan aturan, tetapi kekurangan ruang komunikasi yang bernapas. Di akar rumput, suasana masygul terasa kuat. Bukankah dua lembaga—Syuriah dan Tanfidziyah—itu, meski berbeda peran, bekerja di kantor yang sama? Tak heran bila warga mempertanyakan hilangnya tradisi komunikasi yang dulu menjadi ciri khas NU.

Peristiwa ini memperdalam keprihatinan yang sudah muncul sebelumnya. Ketika diskursus besar tentang nasab habaib mencuat, PBNU tidak segera memfasilitasi forum ilmiah. Padahal NU memiliki tradisi bahtsul masail yang kokoh—tradisi debat yang jernih, dialog yang teduh, dan pencarian kebenaran yang ilmiah. Yang muncul justru respons apriori yang membuat sebagian warga merasa tidak didengar.

Konsekuensinya berlapis: jamaah bingung, daerah merasa diabaikan, dan citra PBNU sebagai organisasi yang bijak mulai goyah. Tak sedikit yang mencibir, “Perbedaan kecil di internal saja tidak mampu dikelola, bagaimana NU akan bicara di forum global?”

Padahal kekuatan NU selama ini bukan pada prosedur, tetapi pada kultur; bukan pada struktur, tetapi pada adab. NU lahir dari ruang-ruang kecil tempat para kiai duduk lesehan—ruang di mana hikmah tumbuh dari kesabaran, bukan dari ego. Ketika komunikasi melemah, seluruh struktur organisasi ikut melemah.

Kisruh ini seharusnya menjadi cermin bagi semua pihak. NU tidak membutuhkan pahlawan baru; ia membutuhkan kembalinya kesederhanaan lama: duduk bersama, saling mendengar, saling menghormati. Persoalan sebesar apa pun akan terasa kecil jika tradisi itu hidup. Bahkan konflik yang besar pun akan mengecil apabila para pemimpin bersedia berbicara dari hati melalui forum yang sederhana itu. Dalam konteks hari ini, komunikasi itu tidak harus selalu fisik; teleconference—Zoom, WA, dan sejenisnya—cukup untuk menghadirkan suasana tabayun.

Sebelum NU berbicara soal isu global, ia perlu menata kembali komunikasi internalnya. Kekuatan NU bukan hanya pada jumlah warganya, tetapi pada kearifan para pemimpinnya. Dan kearifan itu tidak lahir dari surat—melainkan dari sowan, tabayun, dan dialog yang jujur. Dialog yang—meminjam istilah almarhum Kiai Muchit Muzadi—berakhir dengan “ger-geran” (tertawa riang bersama) meskipun didahului “gegeran” (bersitegang), sebagaimana tradisi para kiai NU selama ini. Uneg-uneg ini tentu belum tentu benar, apalagi untuk merespon hakikat masalah yang terjadi di NU yang memang komplek. Akan tetapi, itulah yang dirasakan sebagian umat NU di bawah. Salam ta’dhim untuk para masyayikh. (*)

 

Editor : Arief
#Nahdlatul Ulama #Opini #pbnu