Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Membaca Hegemoni di Kelas Bahasa Inggris

admin • Sabtu, 6 Desember 2025 | 17:46 WIB
Muhammad Fauzan
Muhammad Fauzan

          Oleh: Muhammad Fauzan
          Praktisi Pendidikan Kementerian Agama Kabupaten Tanah Bumbu

Beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan perubahan kecil namun terasa kuat dalam cara masyarakat berbicara. Di warung kopi, orang menyapa dengan “lagi meeting ya?”. Di lingkungan kerja, kata “deadline” terdengar lebih akrab dibanding “tenggat”. Di dunia anak muda, kata “healing” menjadi bagian dari bahasa sehari-hari. Tidak ada yang melarang penggunaan bahasa Inggris, bahkan kita semua mengakui pentingnya bahasa tersebut. Tetapi ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pilihan kata. Ada rasa bahwa kata-kata berbahasa Indonesia seolah kurang kuat, kurang keren, atau kurang modern dibanding padanan bahasa Inggrisnya.

Dari sinilah hegemoni budaya itu bekerja. Tidak dalam bentuk penjajahan fisik seperti masa lalu, melainkan dalam bentuk pengaruh yang merayap pelan melalui simbol, narasi, dan kebiasaan berbahasa. Inggris bukan hanya bahasa global, tetapi juga pembawa nilai-nilai dan cara pandang tertentu yang akhirnya diam-diam membentuk cara kita memandang kehidupan di sekitar. Bahasa Inggris menjadi semacam lencana identitas baru, siapa yang lebih banyak menggunakannya dipersepsikan lebih berpendidikan dan lebih modern.

Ketika fenomena ini terjadi di masyarakat, kita sesungguhnya sedang memanen hasil dari proses panjang yang bermula dari ruang kelas. Buku pelajaran bahasa Inggris, yang selama ini dianggap sekadar alat belajar, memainkan peran jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. Di dalamnya, budaya negara-negara barat hadir sebagai latar yang penuh warna, kota-kota modern, gaya hidup serba efisien, tokoh-tokoh yang percaya diri, humor yang khas, hingga gambaran hubungan sosial yang berbeda dengan budaya kita. Sementara itu, budaya lokal sering muncul sekilas, samar, atau dalam konteks yang kurang menonjol.

Para siswa yang membaca buku-buku itu tidak sedang mempelajari bahasa saja, mereka sedang menyerap dunia baru dengan logika dan nilai-nilai yang berbeda dari yang mereka kenal. Tanpa disadari, kekaguman itu tumbuh seakan budaya barat lebih rapi, lebih seru, lebih ideal dan pada akhirnya lebih layak ditiru. Hegemoni budaya bekerja bukan dengan memaksa, tetapi dengan membuat kita menganggap sesuatu sebagai hal yang “normal”.

Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Mereka sering berada di antara dua dunia. Di satu sisi, mereka ingin siswa mereka menguasai bahasa Inggris untuk masa depan yang lebih luas, namun di sisi lain, mereka melihat bagaimana pembelajaran bahasa kadang membawa serta nilai-nilai yang tidak selalu sejalan dengan budaya sendiri. Guru menjadi saksi sekaligus penyangga dari proses yang jauh lebih besar daripada sekadar menghafal kosakata atau mengerjakan soal tata bahasa.

Dalam banyak kesempatan, gurulah yang pertama kali menyadari bahwa sebuah buku ajar tidak pernah benar-benar netral. Ada nilai yang diselipkan di antara paragraf, ada sudut pandang yang dibentuk melalui gambar-gambar, ada logika budaya yang mengalir melalui percakapan yang digunakan dalam buku. Meski tidak selalu negatif, nilai-nilai itu tetap perlu dipahami dan diolah sebelum diberikan kepada siswa. Guru, dalam posisi ini, adalah penafsir pertama, penjaga gerbang, dan penentu arah agar proses belajar tidak semata menjadi proses mengagumi budaya lain dan melupakan budaya sendiri.

Sering kali kita melihat bagaimana siswa lebih mudah membayangkan kota-kota di luar negeri dibandingkan lingkungan tempat mereka tumbuh. Ketika diminta mendeskripsikan suatu tempat, imajinasi mereka langsung melompat ke kota-kota besar seperti London atau New York, nama-nama yang akrab mereka temui dalam buku Pelajaran bahasa inggris. Gambaran tentang gedung-gedung tinggi, taman kota modern, atau kehidupan serba cepat seakan hadir lebih nyata daripada suasana pasar tradisional, jalanan kecil di kampung, atau hutan yang setiap hari mereka lihat. Fenomena ini bukan sekadar preferensi estetika, tetapi cerminan bagaimana ruang kultural dalam buku ajar telah membentuk horizon berpikir mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa buku teks bahasa Inggris tidak hanya menjadi jendela belajar bahasa, tetapi juga jendela ideologi yang membingkai bagaimana siswa memaknai dunia. Ketika representasi budaya dalam buku lebih sering menonjolkan kehidupan masyarakat barat lengkap dengan nilai, gaya hidup, dan cara pandang mereka, maka secara perlahan terbentuklah persepsi bahwa budaya tersebut lebih maju, lebih menarik, dan lebih layak dikagumi. Tidak ada yang salah dengan globalisasi, tetapi membiarkan representasi tunggal itu bekerja tanpa interpretasi kritis berarti membiarkan anak-anak menyerap nilai budaya tanpa saringan. Di sinilah perlunya pendampingan, agar mereka belajar mengenal dunia tanpa kehilangan jejak pada tanah tempat mereka berpijak.

Guru, dalam hal ini, memiliki peran yang tidak tergantikan. Tanpa perlu menggurui, mereka dapat menuntun siswa memahami bahwa belajar bahasa bukan berarti meninggalkan tempat berpijak. Dalam percakapan sederhana di kelas, guru bisa mengajak siswa membandingkan, merenung, dan melihat nilai-nilai budaya dari berbagai sudut. Mereka bisa bercerita tentang kekayaan budaya sendiri, tentang cara hidup masyarakat lokal yang sama berharganya dengan budaya mana pun yang dibawa oleh teks internasional.

Dan sering kali, peran itu dijalankan dalam senyap. Guru tahu bahwa tugas mereka bukan hanya mengajar bahasa Inggris, tetapi menjaga agar siswa tidak kehilangan jati diri. Dalam tiap halaman buku, mereka mencari celah untuk menanamkan kesadaran bahwa bahasa adalah alat komunikasi, bukan tolok ukur kemuliaan. Guru ingin siswa mereka berani menembus dunia global, tetapi tetap pulang dengan identitas yang utuh.

Di tengah derasnya hegemoni budaya, guru adalah penjaga nilai. Mereka berdiri di antara dua dunia, yang global dan yang lokal, serta berusaha memastikan keduanya bisa menyatu tanpa saling menenggelamkan. Dan di ruang kelas yang sederhana, sering kali tanpa kita sadari, mereka sedang melindungi masa depan budaya bangsa. (*)

Editor : Arief
#Opini