Oleh: Prof. Dr. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag
Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN Antasari Banjarmasin
Tulisan ini terlahir dari rasa keprihatinan saya terhadap berbagai bencana alam di bumi tercinta. Bencana alam di belahan bumi Indonesia sungguh merisaukan hati. Bencana alam di musim penghujan seperti banjir dan longsor yang terjadi di Sumatra dan Aceh benar-benar menggetarkan dawai emosi kita. Hati nurani kita tersentuh. Kita bersedih tanpa deraian air mata.
Banjir dan longsor di Sumatera bukan bencana alam biasa. Label yang disematkan di bumi Sumatra sebagai darurat bencana mengisyaratkan bahwa telah terjadi bencana alam yang besar di sana. Meski tidak dinobatkan sebagai bencana nasional, Presiden Prabowo Subianto berkunjung secara langsung ke beberapa daerah yang terdampak bencana alam.
Bumi, planet biru yang menjadi rumah bagi 8,1 miliar jiwa ini memang panggung dinamis antara kehidupan dan kehancuran. Bencana alam seperti gempa, tsunami, banjir, tanah longsor, dan kekeringan, mengingatkan kita pada kerapuhan eksistensi kita sebagai khalifah dan Abdullah.
Dalam Islam, eksistensi kita sebagai manusia di muka bumi diberi amanah sebagai khalifah, pemelihara alam (Al-Baqarah: 30), sekaligus abdullah hamba yang tunduk pada kehendak Allah (Al-Zariyat: 56). Tapi, apakah kita sudah menjalankan peran ganda ini?
Dalam kajian Biologi dan Ekologi, eksistensi manusia merupakan bagian dari alam. Keduanya saling ketergantungan dalam mata rantai ekosistem. Bencana di bumi tidak selalu terjadi secara alamiah karena sunnatullah. Campur tangan manusia seringkali merusak tatanan keelokan dan keindahan alam.
Kerusakan alam karena perbuatan manusia sering kali menyebabkan rusaknya ekosistem alam secara kronis sehingga alam tidak mampu memulihkan kembali dirinya agar harmonis seperti sedia kala. Padahal, alam lingkungan memiliki manajemen alam yang secara alamiah memiliki kemampuan mengembalikan keharmonisan ekosistemnya yang terganggu secara wajar.
Manajemen alam lingkungan tidak dapat berfungsi dengan baik ketika kerusakan alam lingkungan sangat parah. Hal ini menarik untuk direnungkan secara kritis dengan kekuatan nalar Burhani dan nalar Irfani.
Ada spirit yang kuat untuk mengkritisi relasi manusia dengan alam, bahkan kita ditantang untuk merenungkan kembali secara kritis makna khalifah dan abdullah ketika bencana alam dan kemanusiaan sering terjadi di planet bumi.
Kekhalifahan: Amanah yang Dikhianati?
Bencana alam seperti banjir dan longsor di Sumatra merupakan representasi dari bencana alam serupa di berbagai belahan bumi, terutama di Indonesia. Kalimantan Selatan, misalnya, pernah mengalami bencana banjir bandang dan tanah longsor.
Itu bukan karena tingginya curah hujan, tetapi karena perbuatan umat manusia yang serakah. Mereka telah lalai dari misi kekhalifahannya. Amanah untuk mengelola bumi dengan arif dan bijaksana telah dikhianati.
Sebagai khalifah kita gagal mengemban amanah yang diamanahkan oleh Allah untuk mencintai dan menyayangi bumi. Padahal tugas kita sebagai khalifah ini jelas dan terang benderang termaktub dalam Alquran. Allah berfirman: “Kepada (kaum) Samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya. Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi Maha Memperkenankan (doa hamba-Nya).”
Pesan moral dari Surah Hud [11] ayat 61 di atas adalah bahwa tugas kita sebagai khalifah adalah memakmurkan bumi, memelihara (istikhlaf) alam lingkungan, merenung (tadabbur) ketika terjadi bencana di bumi, memperbaiki (islaah) untuk menjaga keharmonisan alam lingkungan. Tapi realitasnya kita telah mengkhianati amanah yang diamanah Allah sebagai khalifah di muka bumi.
Karena telah mengkhianati amanah, di antara kita telah lupa daratan, mengeksploitasi alam merajalela membabi buta. Kita telah mengebiri kekhalifahan kita dan menjadi budak nafsu. Keserakahan menggadaikan akal sehat. Tidak humanis tetapi semacam Serigala, serakah dan tamak.
Pernahkah kita merenung sejenak, bahwa alih fungsi lahan dengan penanaman semisal menanami Sawit besar-besaran secara ilegal, mengeksploitasi batu bara membabi buta, dan penebangan hutan semaunya, menjadi penyumbang terbesar bencana banjir dan atau longsor di musim penghujan.
Saatnya kita berpikir kritis sejenak, bahwa banjir setiap musim penghujan dan polusi yang membahayakan yang sering terjadi akhir-akhir ini, adalah bukan karena murni perilaku alam, tetapi karena lebih banyak campur tangan manusia yang tidak cerdas mengelola alam.
Selama ini kita terlena, tidak ramah dengan alam lingkungan, mengeksploitasi batu bara sekehendak hati, menebang hutan bukan karena kebutuhan, membakar hutan dan lahan besar-besaran, membuang sampah sembarangan, membangun perumahan tanpa drainase, membangun gedung pencakar langit dan jalan beton yang tidak ramah lingkungan.
Secara Islamologi, bencana di bumi bukan azab, tapi peringatan. Peringatan bagi kita yang merusak alam. Karena keserakahan kita kehilangan akal sehat. Amanah dikhianati, ekosistem alam dirusak tanpa ampun. Keterlaluan. Spiritualitas hilang, buta mata hati.
Ketika jiwa humanis-sosiologis terkikis dari kolbu insaniyah, kita tidak hanya mengalami kebutaan mata hati tetapi juga kehilangan spirit spiritual sehingga kemampuan kita untuk melakukan perenungan secara kritis menjadi tumpul. Krisis spirit spiritual menjadi penyebab pengkhianatan terhadap amanah sebagai khalifah. Ketika pengkhianatan terhadap amanah terus terjadi, maka tunggulah kehancuran berikutnya. Itulah bencana alam.
Kehambaan (Abdullah): Bersyukur bukan Egois?
Bencana alam di Sumatera dan Aceh sungguh membawa duka mendalam. Alam marah karena ulah manusia yang serakah. Jangankan tahun 2025, sepanjang tahun 2024 saja, sekitar 91.248 hektar hutan di Sumatera lenyap akibat pembukaan hutan dan penebangan liar. Segelintir orang yang merusak hutan dan menikmati hasilnya, seluruh warga yang menanggung deritanya.
Dalam nestapa ini, menurut Rocky Gerung, yang menggunduli hutan sedang nyaman nonton TV di apartemen Jakarta. Sedangkan para korban berjuang bertahan dengan kondisi seadanya. Mungkin, setiap malam tidur menatap langit dan diselimuti dinginnya malam.
Bencana alam nestapa umat karena ulah siapa? Karena kita. Kitalah yang menghancurkan alam lingkungan sehingga alam melakukan serangan balik yang lebih dahsyat. Itulah akibatnya. Seharusnya sebagai hamba, kita bersyukur. Bersyukur atas nikmat alam lingkungan yang dianugerahkan Allah. Memelihara, melestarikan, menikmati, menghargai, memperbaiki dan memanfaatkan alam lingkungan sebaik-baiknya adalah tanda-tanda orang-orang yang pandai bersyukur.
Sebagai hamba yang pandai bersyukur seharusnya kita cerdas secara emosional sehingga kita peduli pada alam lingkungan. Bukan memperturutkan hawa nafsu untuk menghancurkan alam lingkungan.
Menurut Imam Al-Ghazali, orang yang cerdas secara emosional adalah orang yang hatinya dikuasai oleh sifat rabbaniyah (ketuhanan), yaitu suasana hati yang telah mampu menaklukkan sifat-sifat saba'iyyah (kebuasan), bahiniyyah (kebinatangan), dan syaithaniyah (godaan setan). Sifat ini dapat mengendalikan dorongan nafsu atau ego. Peduli lingkungan adalah ciri kecerdasan emosional.
Kini bencana alam sudah terjadi. Bencana bukan musuh, tapi cermin. Sebagai khalifah, kita gagal memelihara. Sebagai abdullah, kita lupa bersyukur.
Akhirul kalam. Surah Ar-Rum: 41 memang benar, bahwa kerusakan di darat dan di laut karena campur tangan manusia. Berdosa bukan pasrah. Tetapi, saatnya melakukan “Tobat Ekologis.” Jadilah hamba yang khalifah, pemelihara, dan syukur nikmat. (*)
Editor : Arief