Oleh: dr. Putriana Br. Sitompul
Diare adalah kondisi yang sering dialami anak-anak. Sebagai orang tua, melihat anak bolak-balik toilet dengan tinja encer bisa sangat mengkhawatirkan. Meskipun sebagian besar kasus diare pada anak bersifat ringan dan bisa sembuh sendiri, tetapi kondisi ini tidak boleh dianggap remeh karena dapat menyebabkan dehidrasi, yang jika tidak ditangani dapat berakibat fatal.
Apa itu Diare?
Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari, disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dari satu minggu
Apa Penyebab Diare pada Anak?
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia diare pada anak umumnya disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit. Penyebab paling umum adalah virus, seperti Rotavirus (60-70%), bakteri (10-2-%) dan 10% disebabkan oleh parasit. Penularan infeksi ini melalui fecal – oral, yang menyebar melalui tangan yang kotor setelah menyentuh permukaan yang terkontaminasi, atau melalui makanan dan minuman yang tidak higienis. Selain infeksi, diare juga bisa disebabkan oleh:
- Intoleransi Makanan: Misalnya intoleransi laktosa.
- Alergi Makanan: Reaksi alergi pada susu sapi, kedelai, atau makanan lainnya.
- Penggunaan Antibiotik: Antibiotik dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di usus, menyebabkan diare.
- Keracunan Makanan: Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri.
Nah, bagaimana pertolongan pertama yang ibu lakukan di rumah saat anak diare?
Berikut cara mengatai diare pada anak yang perlu diketahui.
Fokus pada Rehidrasi
Tujuan penanganan diare pada anak adalah mencegah dan mengatasi dehidrasi. Dehidrasi adalah kondisi di mana tubuh kehilangan terlalu banyak cairan. Dehidrasi merupakan salah satu komplikasi diare pada anak yang dapat meningkatkan risiko kerusakan otak, kejang, dan bahkan kematian. Menurut IDAI, anak yang terlihat haus, buang air kecil berkurang, mata agak cekung, kekenyalan kulit menurun, dan bibir kering, ini menandakan terjadinya dehidrasi ringan-sedang. Pada keadaan ini, anak harus diberikan cairan rehidrasi dibawah pengawasan tenaga medis, sehingga anak perlu dibawah ke rumah sakit.
- Mulut dan lidah kering
- Jarang buang air kecil atau urin berwarna pekat
- Tidak ada air mata saat menangis
- Sangat lesu dan tampak kelelahan
- Mata cekung
Berikut adalah langkah-langkah yang bisa orang tua lakukan di rumah:
- Memberikan Cairan Oralit: Ini adalah langkah terpenting. Oralit adalah campuran garam dan gula yang dirancang khusus untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang. Berikan oralit sedikit demi sedikit tetapi sering, setiap 5-10 menit, terutama setelah anak muntah atau buang air besar. Jika tidak ada oralit berikan cairan lain seperti sup, air tajin dan kuah sayur.
- Lanjutkan Pemberian ASI atau Makanan: Jangan menghentikan pemberian ASI. ASI mengandung nutrisi dan antibodi yang membantu melawan infeksi. Untuk anak yang sudah makan, berikan makanan yang mudah dicerna seperti nasi, pisang, rebusan daging ayam. Hindari makanan pedas, berminyak, atau berserat tinggi seperti tomat, bayam, brokoli, seledri, kacang wortel dan gandum utuh yang bisa memperburuk diare.
- Berikan Suplemen Zink: Zinc merupakan salah satu mineral penting dalam tubuh, terbukti mampu mengurangi lama dan Tingkat keparahan diare mengurangi frekuensi BAB, mengurangi volume feses dan menurunkan kekambuhan diare. Cara pemberian zinc dengan melarutkan tablet dalam sendok makan berisi air matang atau ASI.
- Pemberian antibiotik atas indikasi dokter.
- Jaga Kebersihan: Pastikan tangan Anda dan anak selalu bersih. Cuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan sebelum menyiapkan makanan.
Kapan Harus Segera Membawa Anak ke Dokter?
Anak harus dibawa segera ke rumah sakit jika ada tanda-tanda berikut:
- Tanda Dehidrasi Parah: Anak sangat lesu, tidak mau minum, atau tidak buang air kecil sama sekali selama 6-8 jam (atau lebih dari 4-6 jam untuk bayi).
- Diare Berdarah atau Berlendir: Ini bisa menjadi tanda infeksi bakteri atau parasit yang lebih serius.
- Muntah Berulang: Anak terus-menerus muntah sehingga tidak bisa menahan cairan oralit atau makanan.
- Demam Tinggi
- Diare Tidak Membaik dalam 2-3 Hari: Diare yang tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan setelah beberapa hari bisa menjadi indikasi masalah yang lebih kompleks.
- Perut Bengkak atau Keras: Ini bisa menjadi tanda adanya komplikasi lain.
Dengan pemahaman yang baik Ibu tau harus bertindak di rumah dan kapan mencari bantuan medis, Apabila diare tidak membaik setelah perawatan di rumah atau justru memburuk dan muncul tanda-tanda di atas, segera bawa anak ke dokter atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. (*)
Penulis adalah dokter yang bertugas di RS Bhayangkara Banjarmasin
Editor : Muhammad Rizky