Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Merawat Sungai, Menguatkan Masa Depan

admin • Kamis, 27 November 2025 | 12:21 WIB

 

 

Photo
Photo

Oleh: Sigit Triyono, S.Pd., M.Pd

 

Banjarmasin, kota yang dijuluki "Kota Seribu Sungai," adalah contoh nyata bagaimana sungai menjadi urat nadi kehidupan sekaligus pusat peradaban masyarakat. Sungai-sungai di sana, seperti Sungai Martapura dan Sungai Kuin, bukan hanya menjadi jalur transportasi utama dan sumber air bagi pertanian serta kebutuhan domestik, Lebih dari itu, sungai di Banjarmasin adalah arena interaksi sosial dan kegiatan ekonomi yang hidup, termasuk pasar terapung yang menjadi ikon budaya dan sumber penghidupan. Melalui sungai, masyarakat menjalankan aktivitas mandi, cuci, dan kebutuhan domestik lainnya, meski hal ini sering berdampak pada kualitas air sungai itu sendiri.

Hakikat sungai di Banjarmasin juga erat dengan aspek ekologi dan kultural sungai menampung keanekaragaman hayati dan menjadi ruang hidup ekologis sekaligus simbol kearifan lokal. Namun, hakikat tersebut tengah terancam serius oleh pencemaran limbah rumah tangga dan industri, serta alih fungsi kawasan bantaran sungai untuk pemukiman dan aktivitas lain yang mengganggu fungsi alami sungai. Kerusakan ini menyebabkan sungai sulit lagi menjalankan peran ekologis dan sosialnya secara optimal, sehingga menimbulkan tantangan besar dalam pengelolaan dan pelestarian sungai.

Sungai di Banjarmasin memiliki peranan ekonomi yang sangat krusial dan menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi masyarakat setempat. Secara historis dan kontemporer, sungai berfungsi sebagai pusat perdagangan dan jalur transportasi yang menghubungkan berbagai daerah, memungkinkan kelancaran distribusi barang dan jasa tanpa hambatan macet jalan darat. Pasar terapung di atas sungai bukan hanya ikon budaya, tetapi juga wadah utama aktivitas jual beli yang menopang perekonomian warga, khususnya pedagang kecil dan menengah. Keberadaan pasar ini berkontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Banjarmasin melalui peningkatan peluang usaha dan pendapatan para pelaku ekonomi lokal.

Selain itu, sungai menyediakan sumber air untuk aliran pertanian yang menopang ketahanan pangan dan pendapatan petani. Aktivitas perikanan tradisional di sungai juga menyokong mata pencaharian banyak keluarga. Fungsi ekonomi sungai ini tidak hanya soal perdagangan, tetapi juga penyediaan lapangan kerja dan mendukung berbagai sektor seperti industri kecil serta pariwisata, khususnya wisata sungai yang semakin berkembang.

Potensi ini terancam bila fungsi ekologis dan kebersihan sungai tidak dijaga, sehingga penting adanya pengelolaan sungai yang terintegrasi agar sungai dapat terus menopang pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

Seiring berjalannya waktu, jumlah penduduk Banjarmasin terus mengalami peningkatan yang signifikan. Berdasarkan data terbaru, jumlah penduduk kota ini mencapai lebih dari 657.663 ribu jiwa (BPS, 2020), dengan kepadatan yang tinggi di beberapa kecamatan. Pertumbuhan penduduk yang pesat ini menimbulkan tekanan terhadap lingkungan, khususnya pada kualitas dan kebersihan sungai-sungai yang mengitari kota. Sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan dan pusat aktivitas sosial berubah menjadi tempat penampungan sampah domestik yang menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Fenomena pencemaran sampah di sungai memicu gesekan sosial antar warga yang menggantungkan hidup pada sungai tersebut. Kualitas air yang menurun mempengaruhi hasil tangkapan ikan, kelancaran transportasi, serta estetika lingkungan, yang pada gilirannya mengganggu kesejahteraan masyarakat. Kondisi ini menggerakkan sejumlah masyarakat dan kelompok pemuda lokal untuk mengambil inisiatif membentuk lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada pelestarian sungai. Organisasi-organisasi ini berperan penting dalam kampanye sadar lingkungan, pengelolaan sampah berbasis komunitas, serta kolaborasi dengan pemerintah untuk memperbaiki kondisi sungai.

Lembaga swadaya masyarakat yang peduli terhadap sungai di Banjarmasin tidak hanya menjalankan kegiatan pembersihan sungai secara periodik, tetapi juga aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai dan mengurangi praktik pembuangan sampah sembarangan. Upaya ini melibatkan pelibatan pelajar, ibu rumah tangga, dan pelaku usaha mikro agar tercipta kesadaran kolektif. Dengan pendekatan berbasis komunitas, mereka menjadi ujung tombak perubahan perilaku yang diharapkan mampu mengembalikan fungsi sungai sebagai sarana kehidupan yang bersih dan sehat.

Inisiatif lembaga swadaya masyarakat ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah kota yang menyadari bahwa peran serta masyarakat adalah kunci keberhasilan pelestarian ekosistem sungai. Kolaborasi antara masyarakat, lembaga swadaya, dan pemerintah menjadi fondasi penting dalam menciptakan tata kelola sungai yang berkelanjutan, tidak hanya untuk menjaga fungsi ekologis dan sosial, tetapi juga mendukung keberlangsungan ekonomi kota yang selama ini sangat tergantung pada sungai sebagai nadi kehidupan Banjarmasin.

Pemerintah Kota Banjarmasin secara aktif mengadakan kegiatan mengharagu sungai sebagai bagian dari program kerja berkelanjutan dalam melestarikan dan menjaga kebersihan sungai yang merupakan identitas kota. Kegiatan ini melibatkan partisipasi masyarakat dari berbagai kecamatan dan komunitas, dengan tujuan membangun kesadaran kolektif agar warga memiliki tanggung jawab bersama dalam merawat sungai. Melalui aktivitas “mengharagu Sungai”, diharapkan masyarakat tidak hanya melihat sungai sebagai sumber kehidupan, tetapi juga sebagai aset berharga yang harus dijaga dari kerusakan dan pencemaran.

“Mengharagu sungai” juga dilengkapi dengan edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan dampak negatif pencemaran sungai dan pentingnya menjaga lingkungan sekitar. Program ini menggabungkan pendekatan sosial dan budaya dengan nilai-nilai lokal agar memiliki makna lebih dalam bagi warga, terutama dalam menjaga tradisi dan kearifan lokal yang menempatkan sungai sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, upaya pelestarian bukan hanya menjadi kewajiban, melainkan bagian dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Kolaborasi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas lokal dalam kegiatan “Mengharagu sungai” memperkuat efektivitas program pelestarian. Pemerintah menyediakan dukungan fasilitas, sumber daya, hingga regulasi yang memfasilitasi masyarakat untuk terlibat aktif. Kegiatan ini juga berfungsi sebagai media komunikasi langsung antar pihak, sehingga aspirasi dan ide masyarakat dapat diakomodasi dalam kebijakan pengelolaan sungai secara holistik dan berkelanjutan.

Melalui penguatan kegiatan mengharagu ini, Pemerintah Kota Banjarmasin berharap tumbuh budaya kolektif peduli sungai yang mendorong masyarakat menghindari praktik merusak seperti membuang sampah sembarangan atau pembuangan limbah ilegal. Dengan kesadaran dan tindakan nyata dari warga, sungai di Banjarmasin dapat terus terjaga keasriannya, mendukung ekosistem yang sehat sekaligus memperkuat perekonomian dan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.

Harapan dari LSM kepada pemerintah yakni pemerintah kota tetap membina dan memantau partisipasi warga secara berkelanjutan, sehingga komitmen menjaga kebersihan dan kelestarian sungai menjadi bagian dari budaya kota. Harapan ini mencakup penguatan mekanisme evaluasi kegiatan, pelaporan publik, serta transparansi penggunaan sumber daya sehingga setiap program memiliki dampak nyata terhadap kualitas air dan ekosistem Sungai.

Dalam konteks pemberdayaan komunitas, LSM diharapkan dapat memberikan dukungan material maupun nonmaterial yang relevan dengan kebutuhan lapangan. Bantuan materi seperti perlengkapan kerja, alat pengangkut sampah, atau fasilitas pendidikan lingkungan dapat memperlancar pelaksanaan kegiatan harung sungai, sementara bantuan nonmaterial berupa pelatihan, pendampingan teknis, dan penyuluhan meningkatkan kesadaran serta kemampuan warga dalam merencanakan dan melaksanakan inisiatif pelestarian.

Pembinaan yang konsisten juga melibatkan pembentukan jejaring kolaboratif antara pemerintah, LSM, sekolah, dan pelaku usaha lokal agar program mengharagu sungai tidak berdiri sendiri. Kerja sama ini memperluas akses terhadap sumber daya, memperindah implementasi program, serta memastikan penanganan masalah sampah sungai terpadu mulai dari titik hulu hingga hilir. Dengan adanya sinergi, harapan peserta menjadi praktik nyata yang bermanfaat bagi komunitas di sekitar Sungai.

Sehingga pada akhirnya para peserta menegaskan pentingnya mekanisme umpan balik yang memungkinkan warga menyampaikan kendala serta ide-ide baru secara terbuka. Pembinaan dan pemantauan yang berkelanjutan, didukung bantuan LSM yang strategis, akan mempercepat tercapainya tujuan menjaga kebersihan sungai, meningkatkan kualitas lingkungan, dan memperkuat kesejahteraan masyarakat. Harapan ini menyiratkan komitmen bersama bahwa sungai bukan sekadar sumber daya alam, melainkan akar kehidupan yang perlu dirawat dengan tangan yang tepat. (*)

 

Penulis merupakan Dosen FKIP ULM Banjarmasin, Prodi IPS

 

Editor : Muhammad Rizky
#Opini #kota seribu sungai #Merawat Sungai