Oleh: Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin
Literasi adalah fondasi utama dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas dan masa depan bangsa yang cerah. Tanpa kemampuan membaca, memahami, dan mengelola informasi, proses pembelajaran dan pengembangan diri akan mengalami hambatan serius. Dalam konteks ini, peran guru dan pustakawan menjadi sangat vital sebagai "duo rahasia" yang saling melengkapi dalam membangun literasi masa depan. Hari ini, di tengah tantangan era digital yang kompleks, sinergi antara guru dan pustakawan harus diperkuat agar generasi penerus memiliki bekal literasi yang memadai untuk menghadapi perubahan zaman.
Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga mencakup literasi digital, media, dan informasi yang semakin penting di era revolusi industri 4.0 dan 5.0. UNESCO menegaskan bahwa literasi adalah hak asasi yang harus dimiliki setiap individu untuk berpartisipasi secara penuh dalam masyarakat. Di Indonesia, meskipun sudah banyak kemajuan, tingkat literasi masih menghadapi berbagai tantangan. Survei Program for International Student Assessment (PISA) 2023 menempatkan Indonesia di peringkat 70 dari 81 negara dalam hal kemampuan literasi membaca. Angka ini menunjukkan perlunya upaya serius dalam meningkatkan literasi di semua jenjang pendidikan.
Penggerak & Fasilitator Literasi
Guru adalah ujung tombak pendidikan yang langsung berinteraksi dengan siswa. Mereka tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi motivator utama dalam menumbuhkan minat baca dan belajar. Melalui metode pengajaran yang kreatif dan interaktif, guru dapat mengajak siswa untuk aktif mencari dan mengolah informasi, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis.
Namun, guru juga menghadapi berbagai kendala dalam mengoptimalkan peran tersebut. Salah satunya adalah keterbatasan akses terhadap bahan ajar yang berkualitas dan beragam. Banyak sekolah, terutama di daerah terpencil, masih mengalami kekurangan sumber belajar yang memadai. Selain itu, guru sering kali terbebani dengan tugas administratif sehingga waktu untuk membimbing literasi siswa menjadi terbatas. Tantangan ini menuntut adanya dukungan dari pihak lain, terutama pustakawan.
Pustakawan memiliki peran strategis sebagai pengelola perpustakaan dan sumber belajar. Mereka bukan sekadar penjaga buku, namun juga fasilitator informasi yang membantu siswa dan guru menemukan bahan bacaan dan referensi yang akurat dan relevan. Di era digital, pustakawan juga bertugas mengelola koleksi digital, mengajarkan literasi informasi, serta memandu pengguna dalam memanfaatkan teknologi untuk belajar.
Sayangnya, masih banyak perpustakaan sekolah yang belum optimal. Berdasarkan data dari Kemendikbudristek 2024, sekitar 40% perpustakaan sekolah belum memenuhi standar minimal, baik dari segi koleksi, fasilitas, maupun tenaga pustakawan profesional. Kondisi ini menghambat akses siswa terhadap sumber belajar yang dapat menguatkan literasi mereka.
Kunci Membangun Literasi Masa Depan
Untuk menciptakan ekosistem literasi yang kokoh, kolaborasi antara guru dan pustakawan harus diperkuat. Guru dan pustakawan memiliki peran yang saling melengkapi dalam proses pembelajaran sekaligus menjadi kunci membangun literasi masa depan. Guru merancang dan mengarahkan pembelajaran, sementara pustakawan menyediakan dan mengelola sumber belajar yang mendukung. Sinergi ini penting agar siswa tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga mampu mengakses, mengevaluasi, dan mengaplikasikan informasi secara kritis.
Beberapa sekolah di Indonesia telah menunjukkan contoh baik kolaborasi ini. Di beberapa daerah, pustakawan aktif bekerja sama dengan guru untuk mengembangkan program literasi yang inovatif, seperti klub baca, pelatihan literasi digital, serta kegiatan berbasis proyek yang melibatkan penggunaan perpustakaan secara intensif. Hasilnya, minat baca dan capaian akademik siswa meningkat secara signifikan.
Meski model kolaborasi ini ideal, berbagai tantangan masih menghambat implementasinya secara luas. Pertama, kurangnya pelatihan dan pengembangan profesional bagi pustakawan, terutama di sekolah-sekolah daerah terpencil. Banyak pustakawan yang belum memiliki kompetensi literasi digital dan manajemen informasi yang memadai untuk menghadapi tuntutan zaman. Kedua, keterbatasan anggaran dan fasilitas perpustakaan sekolah yang berdampak pada kualitas layanan. Perpustakaan yang tidak lengkap koleksi dan fasilitasnya membuat siswa enggan berkunjung dan memanfaatkan layanan. Ketiga, kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya peran pustakawan di kalangan guru, kepala sekolah, dan masyarakat. Akibatnya, pustakawan sering kali tidak dilibatkan secara maksimal dalam proses pembelajaran.
Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, beberapa langkah strategis harus perlu dilakukan, diantaranya melalui pemerintah dan lembaga terkait harus menyediakan pelatihan berkelanjutan untuk pengembangan kompetensi pustakawan, khususnya dalam literasi digital, teknologi informasi, serta pelayanan pengguna yang inovatif.
Sekolah juga perlu membangun penguatan budaya kerja yang mendukung kerja sama antara guru dan pustakawan, misalnya dengan menyusun program pembelajaran terpadu yang melibatkan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar. Investasi dalam perpustakaan sekolah harus ditingkatkan, termasuk penyediaan buku-buku terbaru, sumber belajar digital, dan perangkat teknologi pendukung.
Dan terakhir lakukan “Kampanye Literasi” yang melibatkan masyarakat. Literasi bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Program literasi yang melibatkan berbagai pihak dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya budaya membaca.
Membangun literasi masa depan bukanlah tugas satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama antara guru dan pustakawan. Mereka adalah duo rahasia yang mampu membuka pintu dunia ilmu pengetahuan bagi generasi muda. Dengan dukungan teknologi dan strategi pembelajaran yang tepat, mereka dapat mencetak generasi yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga cakap dalam mengelola informasi dan berpikir kritis.
Hari Guru Nasional dan berbagai momentum pendidikan lainnya harus menjadi pengingat bagi semua pemangku kepentingan untuk menguatkan peran guru dan pustakawan secara bersamaan. Investasi dalam pengembangan perpustakaan dan pelatihan pustakawan harus menjadi prioritas nasional agar literasi tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Dengan demikian, Indonesia dapat mewujudkan visi pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan, serta mempersiapkan generasi masa depan yang mampu bersaing di kancah global. Guru dan pustakawan, sebagai duo rahasia literasi masa depan, layak mendapatkan apresiasi dan dukungan penuh demi kemajuan bangsa. (*)
Editor : Arief